The Wuffie Factor

Siapapun yang sedang membaca review buku ini, pasti telah menjadi salah satu orang yang tidak lagi terbebas dari dunia jejaring sosial, macam Facebook, MySpace, Twitter, Multiply, Friedster, Blogger, dll. Pola hubungan sosial saat ini tidak lagi dibatasi dengan pertemuan fisik semata. Dia sudah menembus sekat-sekat dimensi ruang, melesat dan menembus kemana-mana. Dalam hitungan detik, seseorang   bisa terkoneksi dengan puluhan bahkan ratusan teman sekaligus, baik yang  sudah kenal sebelumnya atau kenal melalui dunia maya. Kita telah memasuki era Web 2.0.

Dari fenomena Web 2.0 itu, kini muncul istilah baru yang belum semua orang tahu artinya. Jika ada orang yang bertanya, “bagimana wuffie-mu,” jangan telepon satpam. Seloroh ini menunjukan bahwa boro-boro satpam. Anda sendiri jangan-jangan belum tahu apa itu wuffie.

Istilah wuffie ditelurkan oleh Cory Doctorow, penulis blog populer Boing Boing, yang menggambarkan modal sosial dalam novel fiksi ilmiah futuristiknya “Down and Out in the Magic Kingdom.”  Dalam dunia masa depan itu, digambarkan bahwa wuffie menjadi mata uang yang satu-satunya digunakan. Mata uang dunia seperti dolar, euro, yen – hilang begitu saja. Mata uang yang baru – wuffie – merupakan residu hasil reputasi sosial kita. Kursnya bisa bertambah atau berkurang berdasarkan perilaku positif atau negatif kita. Tergantung dari sumbangsih dan niat baik atau jahat kita  yang akan dinilai oleh lingkungan sekitar atau teman-teman kita.

Melalaui Facebook atau Twitter kita bisa melihat seberapa banyak seseorang memiliki jaringan pertemanan. Semakin banyak teman, atau follower – dalam Twitter – menunjukkan wuffie kita meningkat. Tapi tunggu dulu, wuffie ini tidak bisa semata-mata diukur dari kuantitas alias jumlah teman yang berhasil kita kumpulkan. Jumlah itu bisa akan tiba-tiba runtuh dan seluruhnya meninggalkan kita. Atau sebaliknya, bisa bertambah dan meroket secara tiba-tiba dalam hitungan detik.

Di sinilah permasalahannya. Ini soal reputasi sosial, atau integritas kita. Jejaring sosial Facebook, atau Twitter telah menjadi media ampuh dalam menyebarkan informasi dan promosi. Godaan yang kemudian muncul adalah manakala kita hanya menggunakan media jejaring sosial itu sebagai alat saja. Ada pamrih dibalik itu. Lalu kita melupakan social bound yang seharusnya lebih penting untuk dilakukan. Banyak kita temui, hampir setiap hari kita mendapat tag promosi: jualan tas, baju, mainan anak-anak, kue-kue, dll. Tidakkah semua itu menyebalkan, bukan? Jujur saja, secara naluriah kita menjadi terganggu dengan bombardir promosi yang sebetulnya tidak kita perlukan.

Ada ilustrasu menarik dalam buku ini yang menceritakan seorang pebisnis anggur, Garry. Garry mewarisi bisnis anggur dari orang tuanya. Dalam perjalanan karirnya, Garry menemukan keasyikan sebagai seorang pakar anggur, menjadi nara sumber di mana-mana, membangun winelibrary.com sebagai media informasi soal anggur secara on lina. Dia tidak perlu berkoar bahwa anggur produksinya lezat, tapi orang akan melihat siapa Garry, dengan segala reputasi dan integritasnya sebagai seorang pecinta anggur sejati. Saya tidak tahu, apakah tepat kalau di sini saya mencoba menyamakan dengan sepak terjang Jaya Suprana dalam dunia kreatif MURI dan kelirumologi-nya, dan tidak pernah promosi Jamu Jago warisan usaha orang tuanya tu.

Nah, buku The Wuffie Factor, Sukses membangun brand di dunia maya, yang ditulis oleh Tara Hunt (Literati: 2010) ini akan mengupas habis perilaku itu dan menawarkan kiat-kiat hebat untuk menjadi sukses dalam menabung wuffie. Buku ini berisi 10 bagian yang secara urut berisi tentang: Bagaimana menjadi sorang kapitalis sosial; Kekuatan pemasaran komunitas; Berhenti berkoar dan ciptakan percakapan yang langgeng dengan pelanggan; Membangun wuffie dengan mendengarkan dan mengintegrasikan umpan balik; Menjadi bagian dari komunitas yang anda layani; Menabung dan mengambil tabungan wuffie anda; Jadilah terkenal: sebelas langkah menciptakan pengalaman pelanggan yang berkesan; Hadapilah ketidakpastian; Mencari tujuan mulia anda; Wuffie Irl.

Review ditulis oleh Hartono, pengasuh Rumah Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: