After Orchard

Benar apa yang dikatakan Sumardy, konsultan, pembicara dan praktisi marketing, dalam testimoni yang dituliskannya untuk buku “After Orchard,” karya Margareta Astaman (Kompas: 2010) – “Membaca buku Margareta seperti minum segelas margarita, enak dinikmati, cocok untuk santai. Walau simple ramuannya, tetapi tetap menggigit dengan sentuhan humornya.”

Saya sungguh menikmati gaya celotehannya yang khas anak muda Jakarta. Menyebut saya dengan gue saja sudah membuat saya bisa merasai betapa gaul warna bahasa yang ditawarkan dalam buku ini, belum celotehan lainnya yang diselang-seling dengan bahasa Inggris. Terus terang, dibalik ulasannya yang ceplas ceplos itu, ada tersimpan ulasan tajam atas potret antroplogis bangsa Singapura, yang bisa jadi tidak disadari oleh orang Singapura sendiri. Bagi saya, Margie, adalah sosok perempuan cantik masa kini yang cerdas dan telah berhasil menjadi sosok warga kosmopolitan. Berhasil dalam pengertian di sini adalah menjadi sosok yang tidak larut dan terseret dalam gemerlap kosmopolitan. Tapi justru lebih daripada itu, Margie berhasil keluar, mengambil jarak, dan kritis dengan keadaaan sekitarnya, tanpa harus bersikap nyinyir atau menjauhi pola kehidupan yang serba komspoloitan itu seperti barang najis yang harus dihindari. Sekedar informasi tambahan, Margie adalah lulusan SMA St Ursula Jakarta, melanjutkan kuliah di NTU, menjadi kontributor berita Reuters, dan kini bekerja sebagai Portal Executive untuk MSN di Jakarta.

Berbekal pengalamannya selama 4 tahun kuliah di NTU (Nanyang Technological University) dan hidup dengan nafas kehidupan manusia Singapura, Margie dengan cerdas mengkritisi betapa dibalik kehidupan serba maju dan moderen itu Singapura menyimpan ironi. Di mata Mergia, masyarakat Singapura telah terpenjara dengan pola hidupo yang serba teratur, taat prosedur, hingga tak ada ruang bagi toleransi, kreativitas, keramahan alamiah. Sempat Mergie mengatakan betapa mereka telah menjadi robot yang selalu mengukur manusia dari nilai, prestasi dan materi. Singapura hanya diperuntukkan bagi mereka yang berprestasi, yang dodol alias bodoh silahkan menyingkir. Itulah sebabnya angka bunuh diri lumayan tinggi di sana. Tahun 2006 tercatat ada 416 kasus, atau rata-rata ada 1 orang bunuh diri setiap harinya. Kasus David, mahasiswa Indonesia yang dikabarkan mati bunuh diri (atau dibunuh?), dapat menjadi contoh soal satu ini.

Membaca buku “After Orchard” ini tiba-tiba saja saya jadi ingat Singapura sekian tahun lalu, saat mendapat kesempatan memperdalam bahasa Inggris di sana, dibiayai oleh pemerintah Singapura selama 2 bulan. Kesan yang saya tangkap selama 2 bulan itu ternyata tak lebih dari kesan 2 hari 3 malam yang dirasai oleh Mergie. Dalam waktu 2 bulan itu, saya hanya mampu menangkap kesan Singapura sebagai bangsa hebat, bersih, tertib, rapi, tanpa cela. Di mata Margie, kesan itu menjadi hancur berbalut ironi… Margie pun tidak peduli, meskipun Menlu Singapura memberinya “surat cinta” untuk tidak menulis dan mencitrakan Singapura secara salah.

Review buku ditulis oleh Hartono – pengasuh Rumah Baca

3 Responses to “After Orchard”


  1. 1 Margareta Astaman Thursday, October 14, 2010 at 5:53 am

    Hi Mas Hartono,

    Wah, terima kasih banyak telah membaca dan bahkan mereview buku After Orchard. Senang sekali jika Mas Hartono suka.🙂

    Best,

    Margie

  2. 3 Hartono Thursday, October 14, 2010 at 5:55 am

    So, inspiring. The fighting spirit-nya itu lho, di tengah gempuran beban studi dan tekanan mental khas Singapura masih bisa survive (tidak bunuh diri), bahkan kemudian melejit, jit! Saya punya anak perempuan, masih SMP, saya sarankan untuk baca buku ini.
    Good luck!

    Hartono


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: