Backpacking Modal Jempol

Membaca buku “Backpacking Modal Jempol: Jelajah Eropa 500rb-an/bulan” yang ditulis oleh NoneSee (nama pena dari Nancy Margaretha) seolah kita diajak masuk pada dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakteraturan. Belum-belum kita sudah disuguhi dengan pembelaan yang memang ditujukan untuk pembaca yang tidak terbiasa dengan 2 hal di atas.

“Yang paling saya takutkan adalah….karena gaya penulisan buku ini tidak sesuai dengan cara dan kebiasaan Anda menangkap informasi, pesan yang disampaikan tidak tepat sasaran atau bahkan lari dari makna yang sebenarnya.” Lalu pembelaanya adalah, “Seorang kawan dekat mengajarkan saya tentang “masa mengambang”. Sebuah teori begitu ragamnya pola pikir manusia yang tidak bisa kita tangkap dengan pasti meski dengan metoda paling umum dan jenius sekalipun…”

Saya menjadi ingat ceriat soal bos Microsoft, Bill Gates, ketika ditanya wartawan tentang mengapa harga software Microsoft mahal sekali, padahal tanpa harus dijual mahal sekalipun kekayaan Microsoft sudah amat sangat melangit. Dia tidak menjawab, dan menyerahkan jawaban pada asistennya. Sang asisten menjawab, “Karena Microsoft punyanya Bill Gates!” sambil menunjuk pada Gill Gates. Jawaban itu seolah mengolok-olok pada kita bahwa setiap orang punya gaya dan keunikan sendiri. Jadi tidak ada urusannya kalau Bill Gates harus repot-repot membuat produknya dijual murah, hanya karena menuruti keinginan orang lain. Nyatanya orang tetap saja membeli produk mahal itu.

Mengupas buku “Backpacking Modal Jempol: Jelajah Eropa 500rb-an/bulan” ini, ada baiknya kita terlebih dahulu membaca buku “Tribes” karya Seth Godin. Menurut buku “Tribes”  dunia saat ini  terbelah dalam kelompok-kelompok minat yang dipimpin oleh seorang pemimpin informal yang diikuti secara sukarela oleh para pengikutnya. Dunia yang telah berubah ini tak lagi memberi ruang bagi pemimpin yang konservatif dan menghendaki kepatuhan pengikutnya tanpa syarat. NoneSee dalam satu sisi dapat dimasukkan ke dalam pemimpin informal, yaitu pemimpin kelompok backpacker. Melalaui komitmennya, dan kecintaanya untuk terus menjelajah dunia dengan misi menjalin tali silaturahmi antar bangsa-bangsa di dunia, akan banyak orang  yang mengikuti jejaknya.

Komitmen itu tidak boleh dilandasi pamrih. Dia harus tulus, keluar dari hati yang paling dalam. Dengan bekal itu semua, maka tidak heran kalau misi keliling dunia dapat dilakukan sehemat mungkin, hanya bermodal jempol. Tapi Anda harus ingat, jempolnya NoneSee mungkin beda degan jempol Anda yang belum memiliki nilai wuffie tinggi. Apa itu wuffie?

Istilah wuffie ditelurkan oleh Cory Doctorow, penulis blog populer Boing Boing, yang menggambarkan modal sosial dalam novel fiksi ilmiah futuristiknya “Down and Out in the Magic Kingdom.”  Dalam dunia masa depan itu, digambarkan bahwa wuffie menjadi mata uang yang satu-satunya digunakan. Mata uang dunia seperti dolar, euro, yen – hilang begitu saja. Mata uang yang baru – wuffie – merupakan residu hasil reputasi sosial kita. Kursnya bisa bertambah atau berkurang berdasarkan perilaku positif atau negatif kita. Tergantung dari sumbangsih dan niat baik atau jahat kita  yang akan dinilai oleh lingkungan sekitar atau teman-teman kita. Dan NoneSee sudah menabung wuffie itu sejak lama, ketika dia menjadi pendiri dan duta jaringan silaturahmi dunia.

Baiklah, kembali ke soal ulasan bukunya, pembaca dapat mengenali sosok buku ini dengan membuat pola sederhana sebagai berikut. Secara garis besar, buku ini terbagi ke dalam bagian yang mengupas sejarah backpacking (What), lalu alasan mengapa backpacking (Why) dan berikutnya mengupas habis soal bagaimana ber-backpacking hemat dengan modal jempol (How).

Secara detail buku terbagi dalam 11 jurnal, dan disetiap jurnal masih dibagi lagi dalam kelompok opini, tips, dan kisah. Urutan kelompok opini, tips dan kisah bisa dibolak-balik dalam setiap jurnal, tidak harus urut seperti itu. Ibaratnya kita makan gado-gado, kadang-kadang ketemu cabai pedas, kadang berjumpa dengan kacang goreng, atau empuknya tahu.

Mari perpetualang, menyiapkan mental untuk menghadapi ketidakpastian!

Review buku ditulis oleh Hartono – Pengasuh Rumah Baca

1 Response to “Backpacking Modal Jempol”


  1. 1 Fendray Sunday, December 11, 2011 at 1:02 pm

    Saya udah membaca bukunya…..hebat nonesee, ditunggu buku lainnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: