Gambar Oemboel Indonesia

Di Amerika untuk menyebut orang yang keranjingan sesuatu adalah dengan menambahkan kata “nut”  dibelakang suatu benda. Misalnya keranjingan main catur, maka disebut chess-nut. Kalau keranjingan bola, disebut soccer-nut.

Di Indonesia keranjingan yang amat sangat bisa disebut maniak, ada juga yang menyebut gila. Nah, saya akan membahas seseorang yang amat sangat keranjingan mengumpulkan gambar umbul, mulai dari versi paling kuno hingga versi mutakhir. Gambar umbul adalah sejenis permainan anak-anak berupa potongan gambar ukuran kartu kecil yang berisi berbagai versi gambar. Biasanya bergambar wayang, tapi ada juga yang bergambar binatang, buah-buahan, sampai pada tokoh-tokoh film. Orang yang saya sebut gila ini namanya Ibnu Wibi Winarko. Dipanggil Benu. Di Facebook, dia menyebut dirinya sendiri sebagai Benu Gila Bener. Orang ini memang benar-benar gila dalam hal mengkoleksi gambar umbul. Setelah mengkoleksi, kemudian memamerkan koleksinya di Bentara Budaya, Jogja. Benu kemudian memberanikan diri menulis buku berjudul “Gambar Oemboel Indonesia.” Buku ini diterbitkan oleh Penggemar Toelen Gambar Oemboel,  Jogja. Saya mendapatkan buku ini saat Benu pameran di Festival Pembaca Indonesia, yang diadakan Goodreads Indonesia.

Menelusuri halaman demi halaman dalam buku ini saya seperti diajak mengenang masa kecil saya ketika bersama kawan-kawan kecil saya bermain gambar umbul di depan rumah. Gambar umbul itu akan semakin asyik kalau bisa dikumpulkan dalam jumlah banyak, kemudian sampai memerlukan karet gelang untuk mengikatnya. Saya juga teringat untuk menyimpan jagoan (gacuk) agar bias menang terus dalam taruhan. Permainan gambar umbul memang sangat sederhana, siapa yang gambarnya menghadap ke atas (mlumah) dialah yang menang. Pernah menerapkan ide curang agar menang terus, dengan menempelkan gambar dua muka dengan gambar yang sama, sehingga setiap waktu gambar dimainkan akan tetap mlumah!

Buku ini berpenampilan sederhana, tapi tampilan koleksi gambar umbul di halaman dalamnya sangat lengkap. Buku disusun secara sistematis, dengan menceritakan kronologis perkembangan gambar umbul mulai periode 1940 hingga sekarang. Juga dijelaskan hipotesa kemunculan gambar umbul ini, yang menurut Benu muncul dari kartu rokok dan mungkin juga terinspirasi dari gambar komik. Dalam buku ini juga dijelaskan siapa saja yang menjadi pelaku industri, profil pelukis gambar umbul, bunga rampai, kesan-pesan ketika Benu melakukan pameran di Bentara Budaya.

Sayang sekali, saya tidak menemukan profil penulisnya, yang gila itu. Meskipun di situ dituliskan alamat rumah, blog, no HP, sampai alamat di Facebook. Saya sebenarnya juga berharap dalam buku ini, juga digambarkan bagaimana suasana saat anak-anak bermain gambar umbul. Bisa berupa foto reka ulang. Akan lebih bagus lagi kalau bisa ditampilkan bagaimana kondisi gambar umbul yang diikat karet gelang. Ini semua bisa menjadi kado kenangan untuk ingatan para orang tua genarsi 40-an hingga 80-an.

Review oleh Hartono, pengasuh Rumah Baca

5 Responses to “Gambar Oemboel Indonesia”


  1. 1 Kang Oded Thursday, December 9, 2010 at 7:19 am

    Kalau dipadukan antara Indonesia dan Amerika jadinya Oemboel-nut.
    Boleh juga tuh ide gokilnya..
    Oh ya masih pantes ga ya kalau seusia kita maen umbul???

  2. 3 benugila2007 Thursday, December 9, 2010 at 8:37 am

    apalah artinya sebuah biografi mas? saya kurang suka dengan hal2 yg menyangkut begituan je…. makasih dah me-review buku saya yg sangat sederhana ini…. semoga dengan tidak adanya biografi tidak mengurangi minat baca, bisa sms kalo mau tanya status saya kok…

    • 4 mashar Thursday, December 9, 2010 at 9:56 am

      Terima kasih sudah bisa kenalan sama orang gila oemboel. Saya pada dasarnya suka seni gambar, dan koleksi barang aneh-aneh. Suka gambar lukisan kaca, wayang kulit, wayang kayu, dll. Pernah nyantrik sebentar di padepokannya mBah Sukasman (dalang wayang Ukur). Disitulah saya kenalan sama mas Bambang Paningron.
      Ingat mBah Kasman pernah bilang…”edan keturutan!” he….he….

      • 5 benugila2007 Thursday, December 9, 2010 at 11:54 am

        bambang paningron… aku kalo pesen kaos pasti di sana. yah tinggal 2 buku lagi neh yg masih dalam angan2, arep mulai kok males… krn buku yg kemarin masih banyak mungkin suatu saat nanti pasti terkumpul tenaga untuk menulis lagi…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: