Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela

Bagaimana bisa ya buku ini begitu terkesan bagi saya, sampai-sampai setiap bertemu teman, perempuan dewasa, pemuda, bapak, ibu muda, ibu tua, termasuk orang yang baru saja kenal, dengan berbinar mata ini langsung memperlihatkan foto cover buku tersebut yang sengaja saya pasang sebagai walpaper hand phone saya. “Ini buku bagus untuk dibaca!,” desak saya.

Ya, buku itu adalah  adalah Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela (Gramedia: 2008), buku inspiratif yang memiliki daya pikat tinggi bagi saya. Buku ini  lebih tipis dari buku fenomenal Laskar Pelangi. Buku dengan jumlah ketebalan 272 halaman ini membawa pesan penting di dalamnya yakni tentang  sebuah arti  “Kebebasan dalam Pendidikan.”

Saya merasa menyesal, sekaligus lebih mencintai anak-anak. Menyesal karena baru pada tahun 2010 ini saya baru sempat membacanya, karena sejatinya tahun dua ribu delapan saya sudah coba diperkenalkan oleh teman baik sekaligus kakak saya ‘Mas Djuned’ untuk membaca buku itu. Tetapi saya terus mengabaikannya. Alhasil, dua tahun saya kehilangan kesempatan hebat ini.

Petualangan dalam buku ini sangatlah ‘amazing’. Membaca buku ini serasa larut bersama dengan kehidupan anak-anak kecil yang sesungguhnya. Memperhatikan polanya juga mengikuti perkembangannya. Tidak ingin mengulang penyesalan yang sama, saya langsung berusaha membayarnya dengan membeli beberapa buku tersebut dan membaginya kepada teman, saudara yang juga adalah guru, PNS, ibu rumah tangga, sepupu, kakak ipar bahkan tante saya untuk bisa merasakan sendiri hipnotis dari buku tersebut. Sementara sedikit cinta inilah yang baru bisa saya lakukan. 

Totto Chan mempunyai idola, ’Kepala Sekolah’ yang begitu mencintai dunia anak, menjadi bagian penting dan tidak bisa dipisahkan dalam buku ini. Kepala Sekolah yang mungkin sangat sulit dijumpai pada sekolah-sekolah saat ini. Kepala Sekolah adalah orang yang membuat Totto Chan merasa cocok dan membuatnya menyukai sekolah barunya, “Sekolah Kereta”, mengawali sebuah Kebebasan dalam buku ini.

Kebebasan anak-anak usia dini dengan dunia penuh imajinasi, permainan dan petulangan hebat penuh tantangan, menarik untuk terus diikuti dalam cerita ini. Kebebasan yang akhirnya membuat anak menjadi lebih besar dalam kehidupannya, mampu membesarkan dan menghargai anak lain, bahkan lebih hebat dan sangat luar biasa pada saat dewasanya kelak. Kebebasan yang sulit diperoleh oleh anak-anak kecil yang selalu dibelenggu oleh keinginan egois orang dewasa. Untungnya Totto Chan tidak merasakan hal itu, karena mempunyai orang dewasa terdekat yakni orang tua yang hebat dan mampu memahaminya sebagai seorang anak.

“Masukkan kembali semua!”  Totto Chan dengan penuh semangat berusaha memasukkan kembali semua kotoran dari bak penampung yang telah susah payah ia keluarkan. Hanya untuk mendapatkan dompet kesayangnnya gadis cilik ini, dan tidak peduli dengan bau busuk kotoran yang ada dalam bak penampung itu. Orang dewasa kebanyakan mungkin akan jijik sekali dan bertanya apa tidak punya pekerjaan lain. Tidak dengan Totto Chan, ia membuktikan kalimat hipnotis Kepala Sekolah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” Dan gadis cilik itu menjawab dengan tegas, “Ya!” Pemenuhan janji ‘kata’ dan aplikasi ‘perbuatan’ seorang anak kecil, patut sekali menjadi pembelajaran bagi orang dewasa.

Petualangan Totto Chan belum berakhir. Bersama teman-temannya gadis cilik itu mengukir banyak kesan mendalam. Pesan menghargai, mencintai dengan tulus dan saling berbagi dapat kita temui pada buku ini. Buku ini layak sekali untuk dibaca, jangan ada kata penyelesan yang mungkin anda, sahabat semua rasakan seperti saya, apabila belum juga tergerak untuk memilki buku ini.  Atau mungkin juga buku ini ternyata buku tua yang sudah sekali dan saya yang terlambat ya… Hmmm! tetapi untuk kasus kali ini, saya setuju dengan pernyataan bahwa ‘Tidak ada kata terlambat’.

Review buku oleh Mira Gusweni, tinggal di Aceh

4 Responses to “Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela”


  1. 1 Defe Friday, December 24, 2010 at 1:30 pm

    Sebelas tahun lalu, saya dan beberapa teman berkesempatan mendapatkan bimbingan tugas akhir dari seorang dosen yang bijak, berpikiran terbuka dan berwawasan. Seorang profesor yang rendah hati. Bagi kami, beliau adalah sosok yang meinspirasi seperti halnya Mr. Kobayashi. Saat kelulusan, Novel Totto Chan kami hadiahkan kepada beliau. Sangat sederhana memang, Namun kami rasa beliau belum punya novel ini di rak buku raksasa yang memajang berbagai buku-buku seni terbitan luar yang tidak sanggup kami beli di masa itu😉

  2. 2 mashar Saturday, December 25, 2010 at 1:20 pm

    Buku yang hebat adalah buku yang mampu menginspirasi,menggerakan orang ke arah yang lebih baik.
    Salam Rumah Baca

  3. 3 edoiklan Saturday, April 9, 2011 at 10:50 pm

    Sebuah buku tanpa resensi, rasa nikmat dalam membacanya mungkin tidak akan terbayangkan. Dan jika tidak dapat dibayangkan kenikmatannya, maka biasanya orang malas membacanya. Jadi sebagai resensor, itu anda bagaikan bumbu masak bagi soup buat si kecil atau keluarga tercinta. Salut buat anda. Kapan-kapan monggo mampir juga ke UI Press mas2/mbak2 (http://uipress1.blogspot.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: