IPDN Undercover

Inu Kencana Syafiie yang berstatus Pegawai Negeri Sipil dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN selain vokal bersuara membongkar praktik tidak terpuji di kampusnya ternyata juga mampu mengelola keingintahuan publik terhadap wajah sebenarnya kehidupan kampus IPDN. Tidak sampai sebulan sejak kematian Muda Praja Cliff Muntu ketua kontingen praja Sulawesi Utara yang diduga tidak wajar, Inu menerbitkan buku bertajuk IPDN Undercover: Sebuah Kesaksian Bernurani. Penerbitan IPDN Undercover memperoleh momentum yang tepat pada saat simpati, apresiasi termasuk amarah masyarakat terhadap keberadaan kampus IPDN sedang hangat. Publik berharap Inu selain berani—hingga karier dan keselamatan dirinya terancam, juga dapat mendokumentasikan skandal di kampus pencetak calon PNS itu. Dokumentasi semacam ini tentu saja perlu, karena bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang mudah mengidap amnesia sejarah. Kita juga tidak dapat berharap banyak pada publikasi media massa yang mendasarkan pemberitaan pada momentum. IPDN Undercover cukup strategis sebagaimana diakui Inu: untuk mengingatkan publik di saat trend pemberitaan koran, televisi, atau radio pada isu IPDN suatu saat nanti berlalu.

Tanpa mengurangi penghormatan dan penghargaan yang tulus atas usaha berani Inu, sangat mungkin publik tidak memperoleh gambaran yang memadai dari kehidupan kampus IPDN ketika membaca IPDN Undercover. Seperti dikatakan penerbitnya, penerbitan IPDN Undercover memang berkejaran dengan deadline dan momentum. Kematian Cliff Muntu pada tanggal 2 April 2007 langsung direspon penerbit Progressio (grup Syaamil) dengan mengkontak Inu. “Setuju. Bahkan saya sudah mengarangnya. Anda tinggal menerbitkannya,” jawab Inu melalui SMS kepada editor Progressio.

Karena keterbatasan waktu pula, catatan kronologis kematian Cliff Muntu yang menjadi benang merah dan sebab utama terbitnya buku ini pengerjaannya sempat molor. Setelah Inu bersikap kristis terhadap kematian muridnya ini, gaya hidup Inu memang berubah drastis. Inu harus bolak-balik memberi keterangan kepada pihak kepolisian, termasuk menggalang dukungan kepada pihak-pihak yang bersimpati kepadanya terutama kalangan parlemen, hingga menerima wawancara reporter media cetak, televisi dan radio. Rumahnya sempat dijaga polisi, begitu juga setiap berpergian ia dikawal ketat karena banyaknya ancaman pembunuhan hingga pemboman.

Hingga detik-detik akhir akan naik cetak, Inu tidak juga sempat menulis catatan kronologi ini. Sehingga penerbit dan Inu berkompromi. Dalam perjalalanan bus antarprovinsi Semarang-Bandung editor mewawancarai Inu via telepon, dan transkrip wawancara yang diolah dengan sedekat mungkin menggunakan kata-kata atau gaya bahasa Inu terbit sebagai pengantar IPDN Undercover bertajuk Puncak Sebuah Perjuangan. Dikabarkan oleh editor, wawancara terhadap Inu ini berlangsung dramatis, mungkin juga dapat disebut heroik. Sebuah wawancara saat maghrib dengan beberapa kali kesulitan teknis antara pesawat telepon, alat perekam dan sinyal telepon genggam Inu yang sinyalnya turun naik.

Selebihnya, publik boleh kecewa dengan undercover yang diungkap Inu. Ekspektasi masyarakat yang besar terhadap informasi apa yang akan dikabarkan Inu harus surut ketika IPDN Undercover benar-benar terbit. Dari 282 halaman isi buku ini, hanya 74 halaman yang bertutur secara khusus untuk membongkar kasus STPDN, sebagaimana judul babnya. Tiga perempat isi IPDN Undercover lainnya banyak bercerita biografi Inu dengan penekanan pada penghormatannya kepada sang ibunda Zaidar Syafiie, yang dianggap Inu banyak membentuk karakternya. Penerbit berkilah munculnya autobigrafi Inu ini untuk menghindari kontra-isu Inu memanfaatkan momentum untuk populer. Justru dengan menulis secara runtut perjalanan kedewasaan Inu pembaca diharapkan dapat mengikuti tradisi kejujuran, keberanian, dan kesalehan Inu yang tidak datang dengan tiba-tiba. Sehingga kontra-isu bahwa Inu baru bersuara hari ini sama sekali tidak benar.

Menyisipkan sejarah hidup Inu tentu tidak salah. Ia dapat menjadi pembanding, sekaligus menguak tradisi kedewasaan yang melahirkan Inu untuk menentang zamannya. Namun, penulisan autobiografi Inu tentunya tidak dengan mengabaikan kesaksian Inu terhadap kasus-kasus di IPDN. Inu memang bercerita tiga kasus besar yang terjadi di IPDN selama ini: pembunuhan, narkoba, dan seks bebas. Inu tidak ragu menunjuk hidung pelakunya, dengan mengedepankan etika penulisan, sehingga yang ditulis adalah inisialnya saja. Keberanian Inu dalam menyebut nama ini mengingatkan kita pada Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1966. Soe selain dikenal kritis pada masanya juga berani menyebut nama, bahkan tanpa inisial orang-orang yang dianggapnya menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya.

Selain kasus yang telah terjadi, publik juga berharap Inu bersaksi soal kehidupan kampus IPDN. Kasus-kasus yang ada selain dilakukan oleh oknum, juga diyakini sebagai ekses dari metode pendidikan IPDN yang disebut Inu menggunakan paradigma pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan (jarlatsuh) atau paralel dengan konsep pendidikan dengan metode kognitif, afektif dan psikomotorik atau model Intelegent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spritual Quotient (SQ). Inu memang bercerita sekilas kurikulum dan mata kuliah apa saja yang diajarkan di IPDN, termasuk sub-kurikulum pengajaran, sub-kurikulum pelatihan dan sub-kurikulum pengasuhan. Tetapi informasi yang diberikan Inu sangat minimal, tidak ubahnya informasi brosur kampus kepada calon mahasiswa baru.

Publik tentu berharap Inu juga membongkar kehidupan di kampus IPDN. Seperti apa penerapan kurikulum, sub-kurikulum (Inu menyebutnya sub-sistem), aspek kepribadian dan pengembangan watak kepribadian praja (yang 16 jumlahnya). Menarik juga bila Inu bercerita seperti apa sejarah dan filosofi, struktur birokrasi hingga dugaan kedekatan IPDN dengan militer pada masa pembentukannya. Tidak ketinggalan gaya dan pola hidup praja, aktivitas ekstrakurikuler dalam manggala pati (mungkin semacam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus umum) atau kegiatan drumb band dan pengasuhan praja lain. Gambaran menyeluruh dari kehidupan praja ini sangat bermanfaat bagi publik, sehingga publik dapat menilai sendiri kasus yang ada dengan sisi positif IPDN secara holistik.

Membaca IPDN Undercover mengingatkan kita dengan buku dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati bertajuk Aku Bangga Jadi Anak PKI. Timing buku ini juga tepat, mengambil momentum Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2002. Seperti halnya IPDN Undercover, publik yang membaca Aku Bangga Jadi Anak PKI mungkin saja kecewa. Dari 178 halaman buku ini, dr. Ning—begitu ia biasa disapa—hanya bercerita soal kehidupan keluarganya di mana ayahnya  Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro seorang bangsawan keturunan Keraton Kasunanan Solo yang berkecukupan  adalah kader PKI hanya sebanyak 36 halaman. Selebihnya dr. Ning banyak bercerita soal kiprahnya di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga berlanjut pada PDI Perjuangan. Di PDI P dr. Ning memulai aktivitasnya sebagai Wakil Ketua DPC PDI Kotamadya Tangerang hingga menjadi Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat dan anggota DPR RI.

Ekspektasi publik tentu lebih banyak ingin tahu kehidupan keluarga dr. Ning karena aktivitas politik ayahnya setelah angin politik tidak lagi berpihak pada PKI. Bahkan dalam bukunya dr. Ning tidak menyebut kedudukan organisasi sang ayah dalam partai yang kemudian dinyatakan terlarang itu. dr. Ning hanya memberi gambaran ketika kematian kakeknya, Raden Mas Ngabei Tjondro Pranoto yang meninggal dunia tahun 1964 saat PKI masih berjaya. Dikisahkan dr. Ning tidak kurang 3 kilometer panjangnya barisan pengiring jenazah almarhum. Dalam barisan yang demikian panjang itu terdapat barisan warga Tionghoa, petani, buruh, wanita, tukang becak, guru dan pegawai. Jenazah sang kakek mendapat kehormatan diusung oleh sejumlah pemuda anggota Pemuda Rakyat, organisasi pemuda onderbouw PKI yang dikenal tangguh pada masanya.

Soal kesaksian, cukup menarik misalnya testimoni Pipit Rochijat bertajuk Saya PKI atau Bukan PKI?! yang dimuat majalah Gotong Royong milik Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Berlin Jerman. Artikel ini kemudian diterjemahkan oleh Ben Anderson menjadi Am I PKI or Non-PKI?! di jurnal Indonesia No. 40 tahun 1985 terbitan Cornell University. Testimoni Pipit ini banyak dikutip oleh ilmuwan yang ingin meneliti soal epilog G 30 September 1965 yang dinyatakan secara resmi didalangi PKI. Pipit menulis artikelnya bercerita pengalaman pribadinya pada masa-masa sebelum dan sesudah pemberontakan tersebut di Kediri. Artikel Pipit menemukan retorika tersendiri karena locus penulisan Pipit adalah kota kecil Pare Kediri, tempat Indonesianis Clifford Geertz melakukan penelitian dan melahirkan masterpiece analisa tentang politik aliran santri, priyayi, dan abangan serta kebudayaan masyarakat Jawa yang menjadikan rujukan para ilmuan yang akan meneliti masyarakat Jawa sesudah Geertz.

Meski demikian IPDN Undercover tentu harus kita apresiasi sebagai upaya membongkar praktik tidak terpuji di kampus IPDN. Apapun kebijakan yang akan diambil Presiden SBY terhadap keberadaan dan kelangsungan IPDN, sudah selayaknya SBY turut membaca IPDN Undercover. Sebagaimana dikatakan Inu, dirinya tidak setuju IPDN ditutup hanya sebagai kebijakan menangkap tikus dengan membakar lumbung padi. Dari sini kita dapat memahami, bahwa sang ‘pemberontak’  Inu, menuliskan IPDN Undercover tidak lebih sebagai bentuk kecintaannya kepada almamater yang telah mencetak ribuan pemimpin bagi bangsa ini.

Review buku ditulis oleh Febrie Hastiyanto, Pegiat Kelompok Studi IdeA, tinggal di Slawi, Tegal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: