Blues Merbabu

Ada beberapa kabut misteri yang menjadi daya tarik novel terbaru terbitan KPG: “Blues Merbabu” yang ditulis oleh Gitanyali. Sang penulis menggunakan nama pena Gitanyali, yang dengan sangat jujur mengakui bahwa dia berasal dari keluarga PKI, meskipun dia tidak merasa ada urusan dengan semua cap PKI itu. Melalui novelnya itu Gitanyali justru merasa perlu untuk lebih jujur mengakui betapa sebagai seorang lelaki, yang tumbuh di tengah gejolak revolusi, menikmati masa-masa muda dan bercengkerama dengan banyak perempuan.

Saya menjadi ingat film ”Malena” yang dibintangi Monica Belluci, menceritakan seorang perempuan cantik di sebuah desa di Italia, yang kabarnya ditinggal mati oleh suaminya yang berangkat perang. Meskipun sejatinya sang suami masih hidup, dan kembali ketika Malena sudah menjadi bulan-bulanan masyarakat, dicap sebagai perempuan penggoda. Ada tokoh anak lelaki kecil yang begitu mengagumi sosok Malena, mengikuti kemana saja Malena pergi, mengintip saat Malena sendirian di rumah, hingga terbawa dalam mimpi. Obsesi libido seorang anak laki-laki itu rasanya wajar dan ada di setiap kepala semua laki-laki, termasuk saya. Dan Gitanyali mengakui semua itu  melalui novelnya.

Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika Gitanyali kecil dikeloni oleh mBak Kadarini, yang  membuatnya terkenang sampai saat ini. Pengalaman making love dengan perempuan di atas bukit, dan sederet perempuan lain dalam hidup Gitanyali, juga menjadi pengalaman seorang laki-laki yang jarang diakui secara terbuka. Toh, sebagai penulis dia bebas saja mengarang cerita bahwa telah meniduri 1000 perempuan sekalipun. Dia sendiri pernah mengatakan, “kelebihan penulis adalah bisa meniduri perempuan dalam tulisannya.”

Novel ini sebenarnya lebih banyak mengupas sisi terdalam insting manusia akan dorongan seksual, sebagaimana Sigmund Freud mengatkan bahwa kita ini sebenarnya tak lebih dari makhluk seksual. Latar belakang gejolak G 30 S PKI justru menjadi tidak menarik bagi Gitanyali. Ibaratnya, with or without PKI, kesenangannya pada perempuan tak boleh terganggu. Kenangannya pada Rex, sebuah gedung bioskop di kotanya, telah menjadi semacam pusat budaya. Menjadi penanda perubahan jaman, juga ketika gedung itu kini telah roboh menjadi pusat perbelanjaan besar. Kenangan akan Rex tidak akan terlupakan.

Ataukah hasrat yang menggebu pada sosok perempuan itu sebenarnya hanyalah cara dia melupakan pengalaman pahit dalam salah satu episode kehidupannya? Semacam insting untuk  bertahan hidup, dengan melupakan kenangan pahit dan mengisinya dengan kenangan yang indah menurut versi dia sendiri? Betapa tidak, Gitanyali kecil menyaksikan sendiri ketika sang Ayah diseret tentara dan kemudian tidak jelas kabar akhirnya. Beberapa hari kemudian ibunya juga dimasukkan ke penjara. Itu benar-benar menjadi kenangan paling pahit dalam hidupnya. Tapi Gitanyali kemudian bangkt dan menemukan dunia indahnya ketika diasuh oleh sang paman di  Jakarta. Dari sanalah Gitanyali tumbuh berkembang menjadi penulis dan kemudian wartawan senior.

Siapa sebenarnya Gitanyali itu? Bagi Anda yang suka membaca cerpen, sebenarnya akan dengan mudah menemukan sosok penulis ini. Bacalah kumpulan cerpen Rex dan Urban Sensation. Perhatiannya yang luas dan mendalam tentang budaya pop, konsumerisme, komodifikasi, dan gagap budaya, melalui tulisan-tulisannya di Kompas, akan dengan mudah menemukan siapa Gitanyali itu. Juga kenangan tentang Rex. Saya tak perlu menyebutkan siapa dia di sini. Biarlah itu tetap menjadi kabut misteri yang kita tak akan pernah habis menikmatinya.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

7 Responses to “Blues Merbabu”


  1. 1 Indriyani Tuesday, June 7, 2011 at 10:58 am

    Membaca novel ini ada haru, nakal dan ingat jaman dulu..jaman pacaran.. he..he..

  2. 2 metafano Wednesday, June 8, 2011 at 4:09 am

    gila.. x-pki xp

  3. 3 nug Wednesday, June 8, 2011 at 1:09 pm

    waktu beli novel ini saya pikir ini masuk kategori sastra 65 yang biasanya banyak bertema tentang para survival dan nilai2 humanisme .. …
    tapi setelah baca habis ..ternyata novel ini cenderung ‘ngepop saja. he he ..tapi bolehlah untuk tahu kondisi salatiga tempo dulu.

    • 4 mashar Thursday, June 9, 2011 at 12:20 pm

      Dari model covernya sebenarnya sudah ketangkep gaya nge-pop-nya, model andi warhol. Perhatikan montage foto warna-warni, rambut kribo, dan siluet perempuan. Baca novel ini, sekaligus baca juga kumpulan cerpen Rex dan Urban Sensation.

  4. 5 nuraeni Tuesday, September 20, 2011 at 12:11 pm

    Good luck untuk blognya…

    biarkan misteri itu berlalu..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: