Perahu Kertas

Kamu memang benar Dee, bahwa ”cinta itu tidak memilih, tapi dipilih. ” Semoga itu juga yang kami alami dan jalani selama ini, hingga kami mendapatkan titipan 2 buah hati yang kini telah menginjak remaja.

Dalam satu minggu ini hawa kota Serang lumayan panas. Beberapa kali siang selalu disesaki  mendung, dan udara panas menjalar ke mana-mana. Semestinya malammnya langsung hujan.  Begitu biasanya tanda-tanda alam bekerja. Tapi dari satu minggu ini, hanya ada satu kali kota Serang mendapat hadiah guyuran hujan. Saya sesungguhnya tak peduli amat dengan udara di luar. Saya sedang tenggelam asyik di dalam sebuah kamar kos yang panas, dengan novel ”Perahu Kertas” karyamu yang menurut saya sungguh luar biasa. Ini adalah buku  keduamu yang saya baca setelah ”Filosofi Kopi.” Untuk bukumu yang berjudul ”Supernova,” saya tidak bisa mengunyahnya. Barangkali saya sudah bukan lagi masuk dalam generasi itu.. Tapi saat membacai lembar demi  lembar ”Perahu Kertas” saya terseret bersama perahu kertasmu ke laut imajinasi!

Saya belum mau membahas dulu soal ”kasih tak sampai” antara Keenan dan Kugy, tapi saya ingin lebih dulu mengelupas kenangan masa lalu saya sendiri,  yang rasa-rasanya mirip Keenan. Bukan pada bagian kisah asmaranya, tapi pada episoda bagaimana seorang Keenan muda mampu memilih jalah hidupnya, sebagai seorang seniman lukis, meskipun dengan segala hambatan  yang menghadangnya. Setiap saya mengikuti ayunan kuas dan coretan Keenan pada sebidang kanvas kosong, dan melukisnya dengan sepenuh jiwa, batin saya semakin terlempar ke masa lalu. Saya hanya bisa merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan Keenan, melalui imajinasi di kepala, karena saya tak pernah sanggup melakukannya di dunia nyata. Saya menjalani hidup seperti kebanyakan orang, hidup dalam lingkaran comfort zone, tak berani mendobrak, menemukan diri saya sendiri. Tapi apakah itu salah? Karena saya juga merasa, kadang-kadang hidup juga harus begitu, sama seperti ketika Keenan harus ”terpaksa berkorban” menggantikan posisi ayahnya yang terserang stroke karena memikirkan dia, dan bekerja kantoran yang sungguh jauh dari kesehariannya. Saya juga belajar banyak dari Luhde, gadis Bali yang demikian teguh dan kuat menjalani hidup bagai air mengalir.

Saya merasa tak juga begitu jauh dari dunia seni yang sejak dulu saya cintai, meskipun tak  berperan sebagai pelaku, tapi cukup sebagai penikmat saja. Berkawan dengan seniman-seniman lukis, atau mendatangi pameran-pameran lukisan mereka. Kadang-kadang saya masih bisa melukis, itupun hanya satu dua. Tangan rasanya kaku, dan inspirasi kosong melompong. Barangkali karena terlalu lama dihajar dengan rutinitas pekerjaan. Tapi ada satu lukisan yang saya buat sekian tahun lalu, sebelum membaca ”Perahu Kertas” ini, atau sebelum mengenal Keenan. Itu adalah lukisan hadiah ulang tahun istri saya. Lukisan itu terinspirasi dari salah satu lagu  dalam album karyamu juga, ”Rectoverso.”  Di sana saya tuliskan sebait lagu yang rasanya sungguh pas untuk hadiah ulang tahun istri saya, yang sudah menemani sekian tahun, mengalahkan sekian puluh godaan wanita-wanita lain di sekeliling saya. Bait itu adalah, ”…malaikat juga tahu, aku kan jadi juaranya.”

Melalui novel ini saya juga menemukan sebagian dunia imajinasi saya dalam sosok Kugy, meskipun dia wanita dan saya laki-laki. Tapi semangat Kugy yang menyala-nyala dalam  menuliskan dongeng, dan bahkan bercita-cita jadi seorang penulis dongeng. Saya juga merasa telah menitipkan sebagian jiwa saya kepada Kugy. Gadis kecil itu sungguh luar biasa. Dalam sosok mungilnya, dia adalah seorang pendamba cinta sejati, yang harus beberapa kali jatuh, sakit, sebelum menemukan cinta sejatinya.

Kombinasi antara Keenan dan Kugy itu unik, dan pastinya akan menjadi semakin dahsyat jika  bersatu dalam senyawa. Memang tak mudah menyatukan keduanya. Mereka berdua harus melalui rintangan yang telah kamu siapkan secara apik, sekaligus mendebarkan. Jala-jala konflik dan kejutan di setiap lembar halaman ”Perahu Kertas” membuat saya tak segera keluar dari kamar kos yang panas itu. Untuk Keenan kamu beri ujian dengan hadirnya sosok Wanda dan Luhde. Sementara untuk Kugy, ada  Ojos dan Remi. Hambatan paling berat bagi keduanya adalah hadirnya sosok Luhde bagi Keenan dan Remi bagi Kugy. Ini adalah puncak konflik yang kamu hadirkan dengan sangat cantik, dengan ending yang luar biasa.

Ini adalah review buku paling aneh yang pernah saya tulis di Rumah Baca. Karena saya tak mengupas soal bukumu secara standar, malah ikut-ikutan curhat. Tapi itulah yang saya  rasakan sehabis membaca novel ”Perahu Kertas.” Saya yakin, pembaca yang lain akan punya kesan yang berbeda setelah membaca novel ini.

Saya selalu mengunggu karya-karyamu yang lain, Dee.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah  Baca

19 Responses to “Perahu Kertas”


  1. 1 Dewi Lestari Sunday, June 19, 2011 at 11:16 am

    Wah, terima kasih banyak ya. Saya sangat terharu membacanya. Kamu menuliskannya dengan hati. Sungguh saya tersanjung dan merasa terhormat di-review sedemikian rupa. All the best for your life and love.

    ~ D ~

  2. 2 Putri Sunday, June 19, 2011 at 11:26 am

    Saya merinding baca review ini…🙂

  3. 3 hani7kids Sunday, June 19, 2011 at 11:37 am

    Tersentuh, terbangun dengan cara memaknai dan mereview sebuah bacaan. Terimakasih untuk pelajarannya.

  4. 4 iskar Sunday, June 19, 2011 at 11:46 am

    Sisi lain review ini sungguh membuat rasa akan bagaimana isi buku Perahu Kertas sebenarnya.
    Penuturan akan kemiripan suatu semangat jg merupakan sisi penarik untuk menerka2 akan isi yg sungguh terkandung didalamnya.

    Terimakasih reviewnya pak… Jd makin ingin baca buku tsb .

  5. 5 Fe Sunday, June 19, 2011 at 12:07 pm

    Ikut tersentuh juga membaca review nya, betul sekali Perahu Kertas memang selalu meninggalkan kesan yg berbeda pd setiap pembacanya.

  6. 6 paulaedmund Sunday, June 19, 2011 at 12:11 pm

    aku juga suka banget sama perahu kertas, Keena adalah tokoh favoritku…🙂

    tapi setauku nama pacarnya kugy itu Remy bukan Remis, hehehe… peace..

  7. 8 kalengorange Sunday, June 19, 2011 at 3:05 pm

    Nice review..
    Rasanya semua pasti setuju kalau membaca Perahu Kertas itu seperti melihat sebagian diri kita di masa lalu. ^^

  8. 9 Hartono Rakiman Sunday, June 19, 2011 at 5:44 pm

    Thanks for all appreciation, terutama langsung dari penulisnya (Thanks Dee), saya juga ikut terharu. Wah, iya, saya salah dalam menuliskan pacarnya Kugy: seharusnya Remi, bukan Remis. Dengan ini ralat telah dilakukan.

  9. 10 Nda Sunday, June 19, 2011 at 8:06 pm

    Menyentuh sekali,,
    Karena isi reviewnya n karena penulisnya jg tersentuh :’)

  10. 11 Risfan M Monday, June 20, 2011 at 5:17 pm

    Resensi yang sangat bagus untuk Perahu Kertas. Cara mereview dengan dibuat personal, ada dialog si pembaca dengan buku, menjdi dialog pembaca dengan penulisnya secara langsung ….Saluut (Risfan M)

  11. 13 ariyuli Saturday, June 25, 2011 at 8:51 am

    nice…:)
    saya sudah baca perahu kertas dan rasa-nya saya menjelma keenan dan kugy yang berjuang keras mewujudkan mimpi-mimpinya…

  12. 14 Nuraeni Thursday, August 18, 2011 at 2:27 pm

    aku saluut
    sekali dengan karya’a pak,,
    menarik..:)

  13. 15 BeGita Pratiwi Tuesday, September 13, 2011 at 8:57 am

    wah keren sekali… anda reviewer yang asyik🙂

  14. 16 Inggrid Silitonga Monday, November 28, 2011 at 7:09 pm

    Ikut ketularan membaca Perahu Kertas. Terinpirasi dari Rumah Baca, kembali dalam lukisan kisah lama, menuangkankan ingatan dalam TUNJUK SATU BINTANG

  15. 17 Jamal Kutubi Friday, April 27, 2012 at 8:58 pm

    Benar apa yang dikatakan Dee. mashar menulis review ini dengan cinta. dengan gaya seperti menulis surat pada penulis nove ini, mashar juga mengungkapkan bagian pribadi kehidupannya tentang cinta pada sang istri serta sekaligus menginformasikan pada pembaca review-nya poin2 penting novel ini. saya belum baca Buku Yang Menghanyutkan ini, tp sy sudah mmbaca Supernova-nya yg belum mashar baca.. hehe🙂


  1. 1 Madre « RUMAH BACA Trackback on Tuesday, November 8, 2011 at 10:10 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: