How To Read A Book

Budaya membaca bangsa kita khususnya generasi muda belum terlalu menggembirakan. Apalagi ketika kita bandingkan dengan budaya membaca bangsa lain. Mahasiswa di negara maju rata-rata menghabiskan waktu 8 jam per hari untuk membaca buku, sedangkan mahasiswa di negara berkembang termasuk Indonesia, mahasiswanya rata-rata menghabiskan waktu 2 jam setiap hari (UNESCO, 2005). Gempuran media audio visual menyebabkan kita terlena dalam mendapatkan informasi. Kita menjadi cenderung pasif membaca. Membaca bagi rata-rata orang memang masih dianggap sebagai rutinitas yang membosankan. Bagi pelajar dan mahasiswa yang tidak terbiasa ‘bergaul’ dengan buku, kehadiran buku teks menjadi tantangan tersendiri untuk dikuasai. Jangankan buku, membaca koran atau majalah saja terkadang membuat sebagian orang merasa cukup letih. Bandingkan dengan hanya duduk di depan televisi, menekan remote control, dan menyimak pembawa berita berbicara. Tentu banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa kita cenderung pasif untuk membaca.

Fenomena membaca sendiri perlu kita cermati. Sebagian orang merasakan walaupun telah membaca kalimat demi kalimat, bahkan kata per kata toh akhirnya menyerah. Ya, dia tidak mendapatkan esensi dari buku atau bacaan yang dibaca. Tidak cukup sekali bahkan hingga menamatkan beberapa kali terkadang tetap saja seseorang tidak mendapatkan apa yang terkandung dalam buku. Tentunya kita tidak ingin membuang waktu hanya karena kita tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk membaca buku.

Membaca sebagaimana sering diungkapkan Hernowo adalah sama halnya mengikat makna. Membaca bukan sekadar mentransformasikan teks ke dalam suara hati, namun ada makna yang perlu kita cerna. Membaca tidak sekadar memerlukan kemampuan menarasikan teks, tetapi memerlukan keprigelan –meminjam istilah Hernowo- dalam mengikat makna yang dituangkan sang penulis ke dalam bukunya.

Buku berjudul How To Read a Book merupakan salah satu buku monumental dibanding buku sejenis yang membahas teknik membaca. Saat ini telah terjual sebanyak 8 juta kopi. Tentunya jumlah tersebut akan terus bertambah. Buku ini ditulis oleh Mortimer J. Adler, seorang penulis produktif yang telah menghasilkan puluhan judul buku. Buku pertamanya, Dialectic terbit pada tahun 1927. Buku How To Read a Book sendiri pertama kali diterbitkan pada tahun 1940. Sebagaimana disampaikan Adler dalam kata pengantarnya, latar belakang penulisan buku ini tak lain sebagai bentuk kepedulian yang teramat besar dari seorang Adler ketika mendapatkan kenyataan bahwa kualitas kemampuan membaca remaja di era itu tidak terlalu memuaskan.

Edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca merujuk pada edisi revisi tahun 1972. Pada edisi revisi ini Adler dibantu oleh Charles Van Doren, rekan kerjanya di Institute for Philosophical Research. Munculnya inisiatif untuk merevisi bukunya, dinyatakan Adler ternyata dalam rentang waktu 30 tahun sejak terbitnya buku edisi pertama, telah terjadi banyak perubahan dalam masyarakat, termasuk mengenai subjek membaca itu sendiri.

Adler membagi buku ini ke dalam empat bagian utama, yaitu dimensi membaca, level ketiga: membaca analitis, pendekatan dalam membaca berbagai literatur, dan puncak tujuan membaca. Masing-masing bagian tersebut dirinci ke dalam beberapa subbagian.

Bagian pertama tentang Dimensi Membaca berisi hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas membaca secara umum serta level dasar dalam kegiatan membaca. Pada bagian ini pembaca diajak untuk merefleksikan tahapan membaca yang pernah dilalui dimana Adler mengungkapkan hasil riset mengenai belajar membaca. Belajar membaca dari masa kanak-kanak hingga kemampuan membaca dewasa dibagi menjadi empat tahapan, yaitu kesiapan membaca yang dimulai sejak lahir hingga usia enam atau tujuh tahun, anak belajar membaca materi yang sangat sederhana dengan keberhasilan umum menguasai beberapa ratus kata pada tahun pertama, bertambahnya kosakata secara cepat dan meningkatnya keterampilan “menyingkap” arti kata-kata yang kurang familiar dengan dengan bantuan konteks, dan peningkatan berbagai keterampilan yang telah diperoleh. Inilah yang disebut dengan membaca dasar.

Level membaca selanjutnya dalam hal ini level kedua, disebut membaca Inspeksional. Membaca Inspeksional sendiri dibagi menjadi dua level, yaitu membaca “Skiming” atau Pramembaca dan membaca Superfisial. Pramembaca berfungsi membantu pembaca untuk mengetahui apakah buku itu perlu dibaca lebih teliti atau tidak. Pramembaca juga berfungsi untuk menyingkap banyak hal lain tentang buku tersebut. Sementara itu, membaca Superficial akan membantu pembaca untuk membaca buku hingga tergambar secara utuh tanpa harus berhenti ketika menemui berbagai kesulitan dalam membaca.

Bagian kedua mengulas level ketiga dalam membaca, yaitu membaca Analitis. Berbeda dengan dua level sebelumnya, konteks level membaca analitis adalah bagaimana pembaca mampu membaca keseluruhan isi buku. Kiat yang ditawarkan Adler antara lain terbagi menjadi tiga tahap. Pada tahap pertama, pembaca perlu mengklasifikasikan buku dengan memahami judul buku dan membedakan mana buku teoritis maupun praktis; menembus pandang buku dengan memahami alur dan struktur penulisan buku serta yang tidak kalah pentingnya menemukan tujuan penulis dalam hal ini adalah mengungkap adanya masalah yang sedang dipecahkan penulis. Pada tahap kedua, pembaca perlu mencapai kesepahaman dengan penulis terkait dengan istilah kunci yang digunakan, menemukan kalimat-kalimat paling penting, mengetahui argumen-argumen penulis, serta menentukan masalah apa saja yang sudah penulis atasi dan mana yang belum. Pada tahap ketiga, pembaca diberi kesempatan untuk melakukan penilaian atas buku yang telah ia baca. Pembaca dapat berjalan seiring dengan penulis atau bahkan berseberangan. Pembaca telah mencapai suatu waktu dimana ia bisa mengkritik penulis dengan mengungkapkan kelebihan dan kekurangannya.

Adapun bagian buku yang ketiga merupakan bagian yang menunjukkan keluasan pengetahuan Adler. Pada bagian ini pembaca diajak untuk menguasai pendekatan-pendekatan dalam membaca berbagai jenis literatur yang berbeda. Membaca buku ini akan membekali pembaca untuk mampu membaca berbagai literatur yang rumit bahkan diluar bidang yang digeluti sekalipun. Jenis literature yang dibahas dalam buku ini antara lain buku praktis, literatur imajinatif; cerita, drama, dan puisi; sejarah; sains dan matematika; filsafat; serta ilmu sosial.

Pada bagian akhir buku ini, Adler mengajak pembaca untuk memahami bagaimana cara mencapai puncak dari tujuan membaca. Adler mengambil istilah membaca Sintopikal. Secara analogis, kemampuan membaca Inspeksional dan Analitis sangat membantu dalam membaca Sintopikal. Hanya saja kemampuan membaca Inspeksional yang dominan dibutuhkan dalam membaca Sintopikal, mengingat definisi membaca Sintopikal adalah membaca dua buku atau lebih dalam topik yang sama. Hal ini menuntut seorang pembaca harus melakukan identifikasi topik terlebih dahulu. Tentunya ini baru bisa dilakukan bila pembaca sudah ‘mencerna’ beberapa buku yang lain. Di sinilah relevansi kemampuan membaca Inspeksional. Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk membaca Sintopikal adalah menemukan bagian-bagian bacaan yang relevan, menyandingkan pemahaman para penulis, memperjelas semua pertanyaan, menetapkan isu-isu, dan menganalisis pembahasan.

Selain memaparkan konsep dan teknik membaca, buku ini juga disertai lampiran yang berisi buku anjuran, latihan dan tes untuk empat level membaca yang dilengkapi kunci jawaban. Dengan lampiran ini pembaca diharapkan dapat langsung mempraktikkan kemampuan membacanya.

Salah satu kritikan kalaupun boleh dikatakan demikian, dalam buku ini pembaca tidak menemukan satu pun ilustrasi atau gambar yang membantu mendeskripsikan konsep yang diuraikan. Hal itu berpotensi membuat pembaca cepat merasa bosan. Selain itu terdapat satu hal yang bisa membuat pembaca patut bertanya, yaitu mengenai pembagian struktur buku yang ternyata tidak dipetakan berdasarkan level membaca itu sendiri. Ketika membagi tingkatan membaca ke dalam beberapa level tentu ada rasionalitas dibalik pembagian tersebut. Setidaknya ada hal cukup signifikan yang mendasarinya. Namun Adler sepertinya memiliki pertimbangan lain dengan memetakan beberapa level membaca ke dalam pokok bahasan yang lebih luas. Sesuai dengan topik bahasan buku ini tentunya, yaitu mencapai puncak tujuan membaca.

Hadirnya buku How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca ini perlu diapresiasi positif demi meningkatkan kuantitas dan kualitas bacaan kita. Akhirnya, selamat membaca buku apapun yang ingin Anda kuasai!

Catatan: Resensi ini ditulis oleh Harry B. Santoso (dengan sedikit editing untuk ditampillan di website ini) mendapatkan posisi Juara I dalam Lomba Resensi Buku yang diselenggarakan Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) dalam rangka dies natalies UI ke-58 dan Ulang Tahun Perpustakaan UI ke-25

Sumber tulisan diambil dari link >>

http://staff.blog.ui.ac.id/harrybs/2008/10/25/cara-jitu-mencapai-puncak-tujuan-membaca-2/

6 Responses to “How To Read A Book”


  1. 1 maxweisMax Weismann Friday, July 1, 2011 at 9:03 pm

    We are a not-for-profit educational organization, founded by Mortimer Adler and we have recently made an exciting discovery–three years after writing the wonderfully expanded third edition of How to Read a Book, Mortimer Adler and Charles Van Doren made a series of thirteen 14-minute videos–lively discussing the art of reading. The videos were produced by Encyclopaedia Britannica. For reasons unknown, sometime after their original publication, these videos were lost.

    Three hours with Mortimer Adler on one DVD. A must for libraries and classroom teaching the art of reading.

    I cannot exaggerate how instructive these programs are–we are so sure that you will agree, if you are not completely satisfied, we will refund your donation.

    Please go here to see a clip and learn more:

    http://www.thegreatideas.org/HowToReadABook.htm

    ISBN: 978-1-61535-311-8

    Thank you,

    Max Weismann

  2. 2 Harry Santoso Tuesday, July 5, 2011 at 3:34 am

    Thank you Max for sharing this information. I really appreciated it.

    Best,
    Harry Santoso

  3. 3 weeko Tuesday, July 12, 2011 at 11:00 pm

    Salam, Mas Har..saya Wiko dari Reader’s Digest Indonesia, kita pernah berbicara lewat telepon..sejak itu saya jadi sering berkunjung kesini🙂 menarik, mas, isinya mungkin karena saya juga suka membaca buku kali, ya..oh, ya..hasil wawancara kemarin akan muncul di edisi Agustus 2011 yg terbit akhir Juli ini. Saya juga izin mengulas RumahBaca untuk blog saya http://www.weekotwit.blogspot.com

    trims

  4. 4 Hartono Rakiman Wednesday, July 13, 2011 at 5:29 am

    Hallo Mas Wiko, senang sekali bisa berkenalan dengan teman-teman yang punya minat yang sama soal membaca dan menulis di blog ini. Bacaan yang luar biasa memang hanya untuk orang-orang yang luar biasa🙂
    Wah, saya tunggu tulisan di Reader’s Digest edisi Agustus nanti! Can’t wait!
    Segera meluncur ke http://www.weekowit.blogspot.com

  5. 6 Jamal Kutubi Sunday, March 18, 2012 at 8:03 pm

    WIDIH, PANJANG AMAT.. KEREEENNN


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: