Obsesi Sang Narsis

Selama ini saya mungkin melupakan nama besar Mira W, sebagai seorang penulis produktif dan legendaris yang dimiliki Indonesia. Sudah ada ratusan karyanya yang dengan setia ditunggu-tunggu oleh penggemarnya. Saya mendengar nama Mira W ketika masih SMP, tapi belum pernah sekalipun membaca salah satu karyanya. Mira W pernah bejaya pada tahun tahun 70 – 80 an, ketika pasar perbukuan belum sedahsyat sekarang. Dia satu angkatan dengan NH Dini, Marga T, Deddy D Iskandar atau Abdulah Harahap. Novel “Obsesi Sang Narisis” karya Mira W (Gramedia: 2007) ini tiba-tiba saja jatuh ke tangan saya dan mulai mengusik rasa ingin tahu saya, begitu membaca lembar pertama novel itu.

Membaca liku-liku dan jalinan cerita yang dihadirkan novel ini mengingatkan saya pada novel ” 9 Dari Nadira” maupun ”Malam terakhir” karya Leila S. Chudori, yang bernuansa gelap. Novel-novel jenis ini mencoba menelisik ruang jiwa manusia dari sisi yang gelap, jahat, seperti iri, dengki, putus asa, dendam. Semua sifat-sifat gelap manusia itu sebenarnya hasil dari proyeksi kegagalan manusia itu sendiri untuk keluar dari masalahnya sendiri: impotensi, telat jodoh, merasa tidak cantik,  kalah, pecundang, dll. Mira W, paham betul karakter manusia, karena kebetulan selain sebagai penulis, Mira W adalah seorang dokter, sehingga kisah-kisahnya banyak terinspirasi dari kasus yang dia temui sehari-hari di kliniknya.

Novel juga memiliki daya tarik khusus bagi saya, karena ada episode cerita seputar kapal pesiar.  Kehadiran tokoh Mario, yang merupakan seorang awak kapal pesiar, mampu menghadirkan cerita dari seting yang saya pahami betul liku-likunya. Kebetulan saya adalah mantan waiter di kapal pesiar. Itu adalah dunia masa lalu saya. Dan Mira W mampu menjelaskan dalam rangkaian ceritanya! Mira W dengan fasih menceritakan lorong-lorong kapal pesiar, menu yang biasa tersaji di sana, wisata ke ujung dunia, Yunani, Athena, pulau Mykonos, Paradise, dan tokoh Mario yang gay!

Buku ini menceritakan betapa seorang laki-laki yang sempurna justru akan mampu mencipatakan neraka bagi istri yang dicintainya. Aditya adalah perwakilan sosok yang benar-benar sempurna itu: pintar, kaya, ganteng, bertubuh atletis.  Tapi justru dengan kesempurnaannya itu, dia punya aturan yang superketat di rumahnya, sehingga istri dan anak-anak tidak punya ruang bernafas sedikitpun. Makanan harus dikontrol kalorinya, ditimbang.  Makanan yang menurutnya masuk dalam ketegoru makanan sampah, harus segera dibuang ketempat sampah, tak boleh mampir di meja makan. Bahkan mampir dalam bentuk keinginan sekalipun! Hidup harus dijaga. Aditya juga sosok pencemburu buta. Setiap lelaki yang berada di sekitar istrinya layak dicurigai: tukang bakso, tukang antar koran, sampai petugas listrikpun dicurigai. Dan kecemubruan Aditya meledak ketika dia tahu Perinia, sang istri, lari dari rumah dan bersembunyi di rumah Mario, yang belakamg baru ketahuan kalau dia sebenarnya adalah seorang gay.

Pokoknya serba sempurna. Aditya adalah sosok yang tidak pernah selingkuh, dan berasal dari  keluarga terhormat. Celakanya, sosok sang istri berasal dari kutub yang sebaliknya. Perinia berasal dari keluarga broken home. Bapaknya punya perempuan simpanan, ibunya penjudi, adiknya junkies, pemakai narkoba.

Cerita menjadi berdarah-darah ketika Perinia memutuskan untuk meminta cerai. Tentu saja Aditya menolak, karena kata cerai tak ada dalam kamus rumah tangga Aditya. Bapaknya adalah orang terhormat. Maka kata cerai akan mencoreng muka dan martabat keluarga besarnya.

Pelarian Perinia demi sebuah kebebasan harus ditebus dengan korban-korban nyawa yang berjatuhan dan tak mampu disentuh oleh aparat hukum. Keluarga besar Aditya tak terima anaknya dipermalukan orang perempuan sampah dan terkutuk macam Perinia. Maka jalinan  konspirasi licik disusun dengan sempurna hingga ada lebih dari 4 nyawa melayang, termasuk adik kandung Perinia sendiri, Bayu.

Sanggupkah Perinia keluar dari labirin kehidupan yang menyesakkan itu? Atau itu adalah jalan hidup yang harus dilalui? Ibarat penuh onak dan duri sebelum Perinia menemukan cinta sejati dan merasakan hidup yang sebenarnya, bersama suami yang dicintai dan mencintai sepenuh hati?

Review ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

2 Responses to “Obsesi Sang Narsis”


  1. 2 mashar Friday, August 19, 2011 at 4:35 am

    Thanks udah mampir. Salam kenal!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: