Excuse-Moi

Beruntung aku mendapatkan buku ini dengan harga diskon 30% saat “Kompas Gramedia Fair” Februari lalu. Aku tahu kalau signing book sudah berlalu. Tapi, saat selesai membayar buku ini, aku melihat sosok Margie (si penulis) berjalan mengarah ke stand Kompas. Tanpa tedeng aling-aling, ku sobek plastik pembungkus buku dan kuhampiri beliau untuk meminta tanda tangan. Menurut Margie kedatangannya hari itu ke KGF tanpa direncanakan dan akhirnya tanda tangan Margie mendarat di buku-ku🙂

Sempat bincang-bincang sedikit dengan Margie. Ku tanyakan padanya mengapa judul bukunya berbahasa Perancis tapi, ilustrasinya bernuansa oriental. Margie menjawab maksudnya, kata excuse itu kan artinya permisi, maaf sedangkan di negara Singapura gadis-gadis beretnis Cina biasa disapa moi (amoi) jadi artinya permisi, maaf moi. Oo…aku pikir buku ini berkisah tentang pengalaman Margie di Perancis, ternyata tidak🙂 Buku ini masih berkisah tentang pengalaman hidup Margie di Singapura dan Jakarta (walaupun memang ada menyinggung sedikit kisah Margie di Perancis, tapi itu hanya liburan dan tidak diceritakan detail)

Di dalam buku ini Margie mengisahkan bagaimana masalah ras itu adalah hal yang sensitif tapi, tetap menjadi bagian dari masyarakat. Di sini Margie menyoroti soal ras atau etnis Cina, dimana di Indonesia menjadi kaum minoritas, sedang di Singapura menjadi kaum mayoritas. Seperti saat Margie menjalani tes medis di Singapura (pelengkap untuk masuk Nanyang Technological University) petugas medis meminta Margie mencoret kata Indonesia pada bagian etnis/suku dan menuliskan kata Chinese disitu. Melihat wajah Margie yang oriental, petugas medis itu berkata: “Indonesia is a country name, Chinese is your race.

Menjadi warga keturunan di negara yang mayoritas chinese tapi, tidak bisa berbahasa mandarin juga tidaklah nyaman. Seperti saat Margie naik taksi, dimana si supir dengan lancarnya nyerocos dalam bahasanya dan Margie menjawab “sorry, i can’t speak chinese.” si supir pun menjawab “how come ah, chinese don’t speak chinese.” dan si supir juga berpendapat betapa bodohnya  disaat Cina menjadi pusat ekonomi tapi tidak bisa berbahasa Cina.

Sementara aku juga memahami bahwa tidak semua warga keturunan bisa berbahasa mandarin (karena akupun tak bisa🙂 ) karena di dalam lingkungan keluarga tidak membiasakan berbahasa mandarin. Seperti aku, yang keturunan chinese-jawa, bahasa mandarin tidak ku kuasai tapi, lebih ke bahasa jawa nya. Tapi, kalau orang tuaku dan sebagian keluarga besarku bisa walaupun tidak  fasih. Semua itu terjadi karena pembauran dan tidak dibiasakan.

Di buku ini juga mengisahkan bagaimana diskriminasi itu masih ada di Indonesia ini walaupun sudah ada perubahan waktu kepemimpinan alm. Gus Dur, dimana hari raya Imlek dijadikan libur nasional dan budaya barongsai bisa dipertontonkan secara umum karena, di era sebelumnya untuk merayakan Imlek warga keturunan tidak terlalu bebas seperti sekarang. Pemimpin negara masih tetap harus orang Indonesia asli, PNS juga harus orang Indonesia. Padahal kalau mau dibandingkan dengan jaman kolonial, etnis Cina memiliki nasib yang lebih baik dari orang pribumi. Orang Cina memang dikenal dengan tekun, jago berhitung, tak heran kalau orang Cina pandai berdagang dan menguasai ekonomi. Karena itu waktu kerusuhan Mei 1998, kaum keturunan menjadi sasaran amuk orang pribumi dan memberikan trauma bagi sebagian orang.

Tak hanya itu, Margie juga menyoal perbedaan ras untuk soal asmara. Mungkin untuk saat ini pernikahan beda suku atau ras sudah mulai mencair, walaupun masih ada yang menganut bahwa sebuah pernikahan itu harus yang bersuku atau ras yang sama. Tak hanya bagi warga keturunan, orang pribumi sendiripun seperti itu, seperti orang Medan menikah dengan orang Medan, orang Padang menikah dengan orang Padang. Kalau menurut aku, justru perbedaan itu sebenarnya indah bila dipandang atau diterima dengan toleransi. Berpikir positif saja, dengan berbaurnya suku atau ras secara tidak langsung akan menambah khasanah kebudayaan, kita akan mengenal adat kebiasaan daerah lain. Hidup menjadi berwarna🙂 Selain beda ras atau suku, Margie juga  mengulas perbedaan agama/keyakinan yang memang menjadi hal yang prinsipiil. Beda suku atau ras masih bisa diterima, sementara beda keyakinan akan menjadi hal yang sulit diterima.

Tapi, walaupun berbeda suku, ras atau agama bila sudah menjajakkan kaki di negara orang dan membawa nama Indonesia, maka yang timbul rasa persatuan. Seperti dikutip dari hal. 68  “Sungguh aneh, persatuan dan kebersamaan baru muncul saat ‘Indonesia’ terdefinisi sebagai kelompok kecil. Apa Indonesia perlu dibuat kecil dulu agar tidak ada lagi berantem-berantem? Apa perlu orang lain yang menentukan bahwa kita sama untuk menghapus diskriminasi? Atau, kita perlu mencari musuh baru agar kita bisa bersatu melawan si musuh bersama ini?

Untuk lebih lengkapnya sila membaca dan beropini sendiri🙂

Review buku ditulis oleh Evie Yuniati, dari http://media.kompasiana.com/buku/2011/03/09/excuse-moi-by-margareta-astaman/

 

3 Responses to “Excuse-Moi”


  1. 1 Nuraeni Thursday, August 18, 2011 at 2:22 pm

    pasti senang ada discon
    gitu bisa hemat uang donx..

  2. 2 Ipung Wednesday, September 7, 2011 at 10:30 am

    excuse me mr. Rakiman, ,mohon maaf lahir bathin 1432H…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: