Anak Bajang Menggiring Angin

Saya hanya ingin mengatakan bahwa ayat-ayat kehidupan itu ada di mana-mana. Dia tentu saja ada di lembar-lembar kitab suci Al Qur’an maupun Hadist Nabi. Ayat-ayat kehidupan itu juga terserak di alam raya, pada selembar daun jatuh, pada tumbuhnya tunas daun, pada rombongan semut yang sedang mengusung remah-remah makanan, atau pada kupu yang baru saja lepas dari kepompong.

Saya juga merasa telah menemukan ayat-ayat kehidupan setelah membaca karya sastra ”Anak Bajang Menggiring Angin,” yang ditulis oleh Sindhunata.

Sindhunata memiliki kepekaan luar biasa untuk menjelaskan kakawin Ramayana itu secara surealis. Alam khayangan yang tergambar di sana terasa suralis. Sebab alam itu memang belum terjamah akal manusia. Kita juga meraba-raba, apakah seperti itu suasananya? Tapi itu menjadi tidak penting, karena yang lebih penting adalah apa yang kita peroleh setelah membaca buku itu. Adakah  pengayaan rohani setelah membacanya?

Benang merah karya sastra ”Anak Bajang Menggiring Angin,” ini berkisah tentang nafsu yang bersemayam di setiap diri manusia. Tidak peduli dia itu raja, resi, begawan, pertapa, satria atau seekor kera sekalipun. Di sana ada nafsu amarah, nafsu birahi, ataupun nafsu kekuasaan. Bahwa kerinduan akan kesempuraan itu jauh lebih indah dan mulia daripada sudah merasa sempurna dan melupakan kodrat manusia yang akan mudah jatuh tergelincir dalam dosa-dosa.

Kisah Ramayana yang terkenal itu masih sangat relevan untuk menggambarkan karut marut kekuasaan yang sedang melanda bumi Indonesia. Manusia yang berkuasa tak lebih dari sosok Rahwana atau Dasamuka, yang hanya mengejar nafsu dunia, menghalalkan segala cara. Atau sosok manusia bertopeng dusta. Banyak juga tokoh-tokoh agama yang semestinya jadi pantutan ternyata juga hanya mudah berkotbah dan mudah tergelincir dalam nafsu birahi yang semestinya telah berhasil dia kekang erat, seperti tergambar dalam sosok Resi Wisrawa yang jatuh cinta pada Dewi Sukesi. Itulah awal petaka ketika keduanya justru tidak mampu menjalani rahasia kehidupan  yang tersurat dalam ”Serat  Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.” Cinta yang seharusnya tumbuh  sebagai cinta agape, telah tergelincir ke dalam jurang cinta eros yang terlarang!

Persoalan cinta itu menjadi kian pelik ketika dalam sosok  Rama masih meragukan kesucian cinta Dewi Shinta, setelah diculik Rahwana. Apa gunanya mengerahkan ratusan pasukan kera menyeberang ke Alengka, menewaskan ribuan nyawa, hanya untuk membuktikan cinta yang dia tolak sendiri? Ternyata Rama bukanlah sosok lelaki sejati, yang bisa menerima segala kekurangan yang ada. Justru saya menemukan sosok mulia pada diri Hanoman, sosok kera yang berhati manusia. Bukankah memang lebih baik menjadi kera yang berhati manusia, daripada jadi manusia yang berhati kera?

Karya sasatra ini ditulis oleh Sindhunata ketika dia masih berusia 27 tahun. Usia yang cukup belia untuk mampu menggambarkan filsafat kehidupan yang boleh dikatakan berat. Dalam salah satu sesi bedah buku di Balai Soedjatmoko, Solo, dia mengatakan bahwa pada saat dia menulis karya sasatra itu dirinya merasa sedang diliputi insipirasi luar biasa untuk menulis dan mewujud menjadi karya sastra luar biasa itu. Dia merasa tidak akan mampu mengulanginya lagi. Dia juga mengatakan bahwa setiap manusia itu pasti akan diberi satu puncak kehidupan oleh Tuhan, yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Untuk itulah dia berpesan pada generasi muda untuk terus berkarya dan menemukan puncak kehidupan itu, sebelum lewat sia-sia.

Bisa saja, apa yang dia katakan, adalah salah satu dari ayat-ayat kehidupan yang ada di mana-mana itu.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

1 Response to “Anak Bajang Menggiring Angin”


  1. 1 nuraeni Tuesday, September 20, 2011 at 12:08 pm

    Anak Bajang Menggiring Angin …

    maka kita sebagai generasi para pemuda harus terus
    berkarya jangan sampai melupakannya..:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: