Manajemen Apresiatif

Cover buku Manajemen Apresiatif (Kaifa: 2011) - Risfan Munir

Semua berawal dari cara berfikir. Ibarat kata,  kesuksesan dan kegagalan  adalah buah dari cara  berfikir kita sendiri. Apakah kita mau direpotkan dengan berbagai masalah yang ada di sekitar kita, lalu kita memilih sebagai pecundang, sebagai orang yang kalah? Ataukah segera melejit dengan segala potensi yang sudah ada di dalam diri, sekecil apapun potensi itu ada, dan menjadi pemenang? Bukankah pohon beringin raksasa itu awalnya hanya berupa benih yang kecil mungil juga?

Saya mengenal Risfan Munir ketika kebetulan kami berdua bekerja sama dalam banyak kegiatan, seperti menyusun modul-modul pelatihan, membuat tulisan best practices untuk newsletter,  maupun melakukan fasilitasi pelatihan pada sebuah proyek yang didanai lembaga donor internasional.

Dari pergaulan intensif itu saya sudah melihat visinya tentang cara berfikir yang postif, maupun apresiatif. Dia bukan tipe orang yang mudah terpengaruh, tidak reaksioner. Cenderung proaktif, punya daya telisik, mirip gaya Benny Murdani. Gaya penampilannya kebetulan mirip-mirip intel kelas wahid yang pernah dimiliki Indonesia itu. Rambut cepak, sedikit bicara, tapi tangkas  kalau sudah masuk dalam diskusi.

Setelah kami berpisah, meneruskan pekerjaan sebagai konsultan, kami masih sering berkomunikasi lewat dunia maya, dan sesekali kopi darat. Bahan obrolan kami tak jauh dari  urusan tulis menulis. Kebetulan kami senang menulis, dan membukukan tulisan itu agar bisa dibaca oleh lebih banyak orang.

Membaca beberapa bukunya, saya kemudian dapat merasakan tata kelola pikiran melalui tulisannya. Gaya tulisannya sistematis, jelas dan gamblang. Dan tetap saja luwes, tidak kaku. Di sana-sini terselip contoh-contoh aktual, kabar menggembirkan dari para champion, dari para pelopor.

Dari pengalaman saya selama ini menjadi pengasuh komunitas online untuk kegiatan membaca buku pada Rumah Baca (www.rumahbaca.wordpress.com) saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa setiap orang yang senang menulis, pikirannya akan tertata dengan baik. Bahasa tulis  itu menggambarkan isi kepala seseorang. Termasuk apakah kemudian orang itu menjadi pesimistis atau opstimistis. Saya percaya, orang yang suka membaca dan menulis masuk dalam kelompok optimis. Sekali lagi ini adalah soal cara berfikir.

Buku Manajemen Apresiatif (Kaifa: 2011)  yang sedang saya baca ini kembali menegaskan sosok Risfan Munir yang apresiatif. Tengok saja status  hariannya di Facebook maupun Twitter. Tak pernah saya jumpai keluh kesah tentang peristiwa yang dia alami sendiri, dia baca di koran, maupun dia tonton di TV. Selalu ada sisi positif untuk dikabarkan. Selalu ada benih potensi yang harus secara terus menerus disemai, ditanam, dirawat. Setiap hari, bersama kawan-kawan. Jika Anda adalah salah satu pembaca buku ini, maka saya yakin akan mendapat manfat darinya. Buku ini memang membawa manfaat besar bagi pembacanya. Manfaat bagi orang lain itu penting, sebagaimana  dia juga  tulis dalam salah satu resepnya yaitu RahMaN.

Membaca buku ini akan membuat Anda merasa menyantap menu lengkap, mulai  dari appetizer, soup, salad, main course dan dessert. Saya tahu betul urutan menu ini, karena kebetulan saya adalah mantan waiter di kapal pesiar. Pada setiap awal tulisan dia selalu selipkan quotation untuk memberi inspirasi awal di setiap tulisannya. Ibarat appetizer, quotatin itu menjadi pembangkit selera, sebelum membaca keseluruhan isi tulisan. Soup dan salad pada tulisannya  berupa keyword yang perlu diingat sebelum masuk pada topik yang dia rinci secara detail menjadi sebuah main course yang lezat nikmat.  Sebagai penutup tulisan di setiap bagian, dia selalu membuat ringkasan pengingat, semacam reminder, yang dia beri nama ”Pungut benih dan tanam.” Bagi saya itu adalah dessert yang manis legit. Dessert  itu masih perlu ditambah bonus berupa kisah inspiratif dari para inspirator yang ternyata banyak bertebaran di bumi Indonesia ini. Gigitan terakhir itulah biasanya yang selelau diingat siapapun yang selesai menyantap makanan, sebelum masuk ke peraduan untuk menutup lembaran hari itu di tempat tidur.

Agar tidak keliru memesan menu bacaan kali ini, baiklah saya sampaikan tiga menu atau bagian yang ada di buku ini: (1) Menyemai benih apresiatif, (2) Proses manajemen apresiatif, (3) Merawat dan mengembangkan.

Sekali lagi, buku ini tidak hanya berisi wacana tentang cara pandang yang apresiatif, tapi juga  dibekali dengan teknik-teknik yang mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep yang telah dia susun itu ternyata memang aplikatif. Terbukti ketika dia menanyakan konsep itu kepada para tokoh pilihan: Ahmad Fuadi (Penulis buku Lima Menara dan Ranah Tiga Warna) dan Samsul Arifin (Pegiat pemasaran produk daerah), keduanya ternyata telah melakukan cara berfikir apresiatif itu. Maka melalui konsep Manajen Apresiatif ini, kita akan memiliki perangkat untuk mengembangkan diri dan meraih kesuksesan dengan memanfaatkan  potensi dan kekuatan yang kita miliki.

Review ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

5 Responses to “Manajemen Apresiatif”


  1. 1 fits radjah Tuesday, September 6, 2011 at 2:40 pm

    wah saya “ketinggalan kereta” nih. jadi penasaran untuk lebih jauh menikmati “manajemen apresiatif.” Thnx utk ‘risensi’ singatnya, mas Har
    bermanfaat

    Fits Radjah

  2. 3 Dr. Wakidul kohar, M.Ag Thursday, October 20, 2011 at 8:29 pm

    saya dah beli bukunya, luar biasa

  3. 4 Dedih Wednesday, October 26, 2011 at 1:20 pm

    Wah tertarik sekali nich…untuk beli…


  1. 1 Happy Career | RUMAH BACA Trackback on Wednesday, August 24, 2016 at 10:13 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: