Madre

“Bahwa di dunia ini tidak ada yang serba kebetulan.”

Kalimat itu rupanya yang berhasil mengunci kesimpulan anakku yang baru saja menyelesaikan kumpulan cerita “Madre” (Bentang: 2011). Ini adalah karya Dee yang berhasil dia selesaikan dengan cepat setelah “Perahu Kertas.”

Bagiku kesimpulan itu penting buat bekal hidupnya kelak. Sebuah kesimpulan yang dia peroleh sendiri, sesuatu yang tak harus aku kotbahkan hingga berbusa-busa.

Akupun sepaham dengan kesimpulan itu, ketika tanpa sadar aku mendapati diriku “terdampar” di sebuah kabupaten di Provinsi Banten. Pada awalnya, muncul semacam kesombongan diri, manakala menyadari aku yang selama ini merasa sebagai “orang pusat,” yang selalu berkantor di Jakarta, dan hampir setiap bulan terbang ke berbagai tempat di Indonesia untuk mengunjungi daerah. Maka ketika tiba-tiba aku dapati diriku menjadi “orang daerah” ada beban berat menghimpit rongga nafas egoku. “Aku nggak terima!” Protesku pada keadaan. Tapi rupanya ada berkah yang aku dapati di sini, semacam blessing in disguise. Karena semenjak aku tinggalkan Jakarta, aku punya banyak waktu buat membaca buku. Aku tinggalkan kemacetan rutin yang menyiksa, yang memaksaku harus bangun pagi-pagi dan pulang tak pernah berjumpa dengan matahari. Aku jadi punya banyak waktu buat menulis. Dan tanpa aku sadari sudah ada 2 buku yang berhasil aku lahirkan dan kini telah menyapa pembaca di tanah air.

Adalah bukan kebetulan pula, ketika Tansen, tokoh dalam kumpulan cerita “Madre” ini, yang setiap hari bebas berlibur di Bali, mendapati dirinya “terjebak” dalam rutinitas kerja mengulen roti, demi “Madre” warisan dari kakek dan neneknya yang baru dia kenal. Dalam sebuah blog yang secara rutin dia tulis dan akrabi, dia menulis:

“Saya meninggalkan Bali. Menetap di kota yang paling saya hindari. Bekerja rutin di suatu tempat yang sama setiap hari. Ternyata sampai hari ini saya masih waras. Saya rindu pantai. Tapi pantai tak perlu jadi rumah saya. Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan. Dan Madre lebih butuh saya daripada pantai manapun di dunia. Berfamili dengan adonan roti ternyata membuat saya menemukan keluarga baru. Keluarga baru itu bernama ”Tansen de Bakker,” yang artinya Tansen si pembuat roti. Ya, sekarang nama saya bukan nama satu orang, melainkan enam. Dan seorang peri senantiasa berdiri di sebelah kami. Ia bernama….”

Maka apakah juga dapat dikatan kebetulan adanya kalau pada akhirnya Tansen harus bertemu dengan seorang peri bernama Mei? Adakah cinta dalam sepotong roti?

Kumpulan cerita ”Madre” ini kembali mengingatkan aku pada kumpulan tulisan Dee pada ”Filosofi Kopi.” Keduanya mengulik persoalan yang kelihatan remeh temeh tapi menurutku ada tema besar yang ingin disampaikan oleh Dee, bahwa kita bisa belajar banyak dari secangkir kopi dan sepotong roti. Cobalah menyeruput kopi pahit dan sepotong roti, dan temukan rahasia kehidupan dari sana. Aku tak ingin lancang menjawab rahasia kehidupan itu dengan mendefiniskannya di sini, karena kamu harus menemukannya dan mengalaminya sendiri, setelah minum pahitnya kopi, dan menemukan aroma biang roti bernama ”Madre” di sana.

Review buku ditulis oleh Hartono,  pengasuh Rumah Baca

2 Responses to “Madre”


  1. 1 Hery Firdaus Wednesday, November 9, 2011 at 10:30 am

    nampaknya aku harus mampir ke gramedia ni mas har haha..kelamaan di gunung selalu ketinggalan banyak hal..thanks untuk rumah baca untuk selalu share🙂

  2. 2 mashar Wednesday, November 9, 2011 at 3:51 pm

    Turun gununglah. Kamu sudah pilih buku di group rumah baca wordpress di FB belum? Di situ ada polling, yg beruntung dapat buku gratis. Hurry up!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: