Canting

Cover Canting. Karya Arswendo Atmowiloto (Gramedia: 2007, edisi cetak ulang)

Raden Ngabehi Sestrokusuma atau Pak Bei Sestro, yang kemudian dipanggil Pa Bei merupakan keturunan ningrat yang memiliki garis keturunan dengan KRT Sostrodiningrat dari Keraton Surakarta. Pa Bei adalah pewaris usaha batik Canting di Solo yang memiliki 112 buruh batik. Bu Bei, istrinya, bukan dari kalangan sederajat. Dia adalah anak buruh pabrik. Bu Bei merupakan istri yang bekti dan tulus kepada suami, sekaligus menjadi tulang punggung keluarga yang menggerakan roda produksi dan pemasaran Batik Canting.

Setiap pagi, Bu Bei diantar becak langganannya ke Pasar Klewer untuk berjualan batik. Pasar bagi kaum wanita adalah karier. Adalah karya, adalah kantor. Bu Bei dan dua karyawannya berdandan pantas seperti orang yang pergi ke kantor perusahaan swasta. Perhiasan pokok seperti berlian yang tersemat di subang, cincin, dan gelang, tak pernah dipisahkan. Satu stel, satu motif. Ini bagian dari promosi, sebagai tolok ukur yang menandai kesuksesan.

Bu Bei kala itu berusia 32 tahun (1962), ketika suatu pagi tak seperti biasa, matanya merah seperti habis menangis. Bu Bei seminggu belakang mengatakan masuk angin dan muntah–muntah. Terdengar kabar secara resmi bahwa Bu Bei mengandung lagi. Masalahnya bukan Wening Dewamurti yang selama ini dianggap si bungsu yang sudah berusia sebelas tahun, tetapi Pa Bei ragu akan benih yang dikandung Bu Bei.

Mijin sang buruh, lelaki tinggi besar dengan suaranya keras, sejak awal tak disukai Pa Bei karena ulah Mijin yang selalu memakai celana komprang, duduk semborono dan membuat anak–anak melirik ke arahnya celananya yang membuka. Buruh batikpun tidak bisa mengungkapkan tuduhan apa–apa. Mereka mengandalkan Mijin yang sanggup mengisi lima bak mandi tanpa istrirahat. Juga tak pasti bahwa Mijin yang menaruh benih dalam rahim Bu Bei.

Kecurigaan Pa Bei, bahwa Bu Bei dihamili buruh yang tidak pernah dianggap apa–apa, membuat harga diri Pa Bei seperti dibanting. Pa Bei menemui dukun. Jawaban dukun tidak memuaskannya, dan tidak membenarkan tuduhannya. Pa Bei menggantung persoalan. Ia tak ingin melihat sendiri wujud laki–laki yang ada pada telur yang digunakan dukun sebagai media perantara. Berbeda dengan Pa Bei, Bu Bei tak pernah mencari ketika Pa Bei sedang menunggui anak pertama dari wanita lain di waktu yang sama ketika Bu Bei akan melahirkan anak keempat. Atau ketika Pa Bei dengan sweater kesayangannya melewati malam di sebelah utara bawah Jembatan Njuruk. Bu Bei tak mencari konflik.

Den Ayu Ni atau Mas Rara Ni, begitu nama yang diberikan untuk bayi yang dilahirkan Bu Bei. Pa Bei menyombongkan Ni, menganggapkan kelak akan membuat sejarah yang berbeda dengan kakak–kakaknya. Asal Ni, tidak lagi ditanya, namun tak juga yakin kalau itu memang anak Pa Bei. Ni tumbuh diantara buruh batik, beberapa kali ditegur Bu Bei karena Ni senang bermain-main dengan Mijin. Buruh Canting bekerja seperti biasa, Bu Bei, berbakti dengan sungguh.

Ngabean Sestrokusuma, tempat hunian Pa Bei dan buruh bekerja pernah menjadi sasaran amuk massa. Pa Bei diteriaki kapitalis dan antek nekolim. Kegegeran hebat juga terjadi di Jakarta, bunuh–bunuhan. Bahkan tersiar kabar jika Bung Karno terbunuh. Keluarga Pak Bei diungsikan ke Keraton. Beberapa kerabat terdengar dibunuh dan diculik. Namun masa itu berlalu, anak–anak bersekolah mengandalkan jasa buruh batik. Ni, yang tak terkecuali kuliah pada jurusan farmasi di Semarang mengikuti jejak kakaknya yang sukses menjadi dokter.

Namun hati Ni berkata lain, suatu ketika Ni mengutarakan bahwa dirinya ingin mengurusi batik. Ni merasa bahwa yang paling berjasa adalah buruh batik, yang kini usahanya mulai menurun. Bu Bei, yang hampir melupakan keadaan ketika dirinya mengandung Ni, jatuh pingsan. Mengapa Ni, begitu peduli dengan buruh batik? Apakah itu berarti membuktikan bahwa dalam diri Ni mengalir darah buruh batik yang tertuduh diam–diam itu? Bu Bei yang dalam pengabdiannya kembali diusik, terserang kepedihan akibat pernyataan Ni.

Bu Bei dilarikan ke rumah sakit, terbaring lemah dan akhirnya pergi dengan keharuan, dengan beban yang belum terkuak, rahasia Bu Bei, maupun antara Pa Bei dan Bu Bei tersimpan. Menerima kehadiran Ni saja sudah cukup.

Selama hidupnya, baru kali ini Pa Bei bekerja, dialah yang mengatur seluruh proses pemakaman istrinya. Dia membuat terbaik untuk arwah istrinya yang semasa hidupnya telah begitu berbakti. Ia kemudian tak membantah, bahkan melarang Ni meneruskan niatnya. Pa Bei memilih menghabiskan masa tuanya dengan tinggal bergantian dirumah anak–anaknya. Dan membiarkan Ni dengan pilihannya.

Namun Ni bukan Bu Bei. Bu Bei lincah, memiliki kemampuan berdagang dan berelasi dengan pelanggannya. Ni bukan tanpa harap, oleh karena Ni menyayangi Mijin, Mbok Tuwuh (pengasuhnya), juga buruh lainnya. Usaha Canting bangkrut, Canting tak dikenal. Ni memutuskan untuk tidak memasang cap, ia melepaskan semua. Ia menyerahkannya kepada perusahaan besar untuk membelinya.

Canting bertutur tentang budaya patriarki, ketidaksamaan strata sosial, sebuah simbol buruh pada zaman tahun 65-an. Simbol rakyat. Canting merupakan sebuah roman keluarga yang diterbitkan pada tahun 1986- dianggap best seller oleh Gramedia. Karya Arswendo Atmowiloto mampu menghadirkan rasa, memiliki sentuhan sastra yang luar biasa. Karya lainnya seperti Dua Ibu, Dewi Kawi,Projo dan Brojo sayang kalau dilewati.

Review ditulis oleh Inggrid Silitonga

2 Responses to “Canting”


  1. 1 indri Thursday, November 17, 2011 at 10:35 pm

    wah..sepertinya menarik untuk di baca..

  2. 2 mashar Friday, November 18, 2011 at 5:41 am

    Dengan seting cerita tahun 1965, mengingatkan pada roman Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang kini telah dilayarlebarkan dengan judul “Sang Penari.”

    Saya lihat produser film Sang Penari itu adalah Kompas Gramedia. Bisa saja roman-roman klasik terbitan Gramedia akan dilayarlebarkan juga. Kita tunggu saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: