Bekisar Merah

Cover roman Bekisar Merah, karya Ahmad Tohari (Gramedia Pustaka Utama: 2011)

Baru selang seminggu membaca novel karya Ahmad Tohari Ronggeng Dukuh Paruk, saya tergerak untuk kembali tenggelam dalam kisah sederhana berjudul Bekisar Merah (Gramedia: 2011).  Bukan tanpa alasan, buku terbitan Februari 2011, dipilih diantara buku – buku sastra di Gramedia Matraman Jakarta Jumat lalu, memang menggoda. Ada perasaan mengagumi Ahmad Tohari yang memiliki gaya penutur yang khas. Tokoh yang dihadirkan sengaja merupakan cerminan keadaan desa atau kampung yang merupakan bagian yang tidak terpisah dari Indonesia. Rekaman sejarah yang benar-benar terjadi, namun dibuat samar untuk lakonnya.

Novel Bekisar Merah terdiri dari dua bagian, yaitu Bekisar Merah dan Belantik. Meski terbilang tebal halaman novelnya namun jangan dulu menyerah karena dengan kemampuan Ahmad Tohari, saya yakin Anda tidak ingin menunda menuntaskannya.

Dikisahkan Lasi, seorang anak perempuan yang sejak kecil menjadi perhatian orang sekitar karena berbeda dengan kebanyakan anak–anak yang lain.  Lasi adalah gadis yang cantik dan memiliki kulit yang putih. Ia lahir hasil pernikahan ibunya dengan seorang Jepang yang kemudian pergi entah kemana. Kisah yang dipahami orang–orang desa adalah bahwa ibunya diperkosa oleh tentara Jepang. Lasi menikah dengan Darsa, seorang peyadap pohon kelapa, orang yang memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira, bahan yang diolah menjadi gula merah.

Suatu ketika suaminya, Darsa, mengalami kecelakan jatuh dari ketinggian pohon kelapa, meski tak langsung tewas, Darsa meninggalkan beban utang kepada Lasi. Ibu Lasi meminjam uang dari Pak Tir, seorang penadah gula merah di desanya untuk biaya pengobatan Darsa. Belum lagi, kelaki-lakian Darsa hilang. Lasi berkali–kali harus mencuci celana Darsa karena kemaluannya tak berhenti mengeluarkan air seni. Hingga suatu saat Lasi memanggil dukun beranak yang juga pandai memijat lelaki yang mengalami lemah syawat. Ini awal “bekisar,” julukan bagi Lasi dalam novel ini, untuk meninggalkan desanya. Lasi kabur ke Jakarta karena mendapati anak dukun beranak tersebut menggungat kawin Darsa. Siapa sangka wanita yang dijamah Darsa setelah sehat bukan Lasi, melainkan anak dukun beranak yang kenyataannya jauh berbeda fisiknya dengan Lasi.

Lasi tak tahu tujuan sebenarnya, ia kemudian terperangkap di sebuah warung penjaja makanan yang kemudian terjual kepada seorang mucikari kalangan elit. Meski semula tersajikan dengan ramah dan serba gampang bukan berarti budi tak harus dibalas. Kabar Lasi kabur ke Jakarta telah terdengar oleh seluruh penduduk kampung. Lasi memang sering menjadi perbincangan, dan karenanya Kanjat, anak Pa Tir yang merupakan adik kelas Lasi semasa SD ikut tergerak mencari. Takut sesuatu terjadi dengan Lasi, meski Lasi belum bercerai dengan suaminya tapi sebagai teman entah juga kerena ada sesuatu yang lain Kanjat mencari dan menemuinya di Jakarta.

Apa yang kemudian terjadi dengan Lasi? Setahun kemudian Lasi kembali ke Karangsoga desanya. Tapi penampilannya jauh berbeda, ia memiliki segalanya. Ia datang untuk mengurus peceraiannya dengan Darsa. Kini segala urusan menjadi lebih mudah karena mengantongi surat dari seorang purnawirawan yang berkuasa.  Ia telah menjadi simpanan seorang purnawira di Jakarta yang menggilai wanita turunan Jepang. Lasi baginya Bekisar Merah. Lasi yang pada saat pertama kali dijumpainya menggunakan kimono Jepang merah. Membuat si tua, yang telah memiliki dua istri sanggup membelikan rumah dan segelanya bagi Lasi. Lalu bagaimana dengan Darsa? Bagaimana dengan Lasi yang kabur dengan Kanjat ke Sulawesi dan membawa kalung berlian milik seorang pelobi tingkat tinggi?

Bekisar Merah bertutur tentang sebuah desa yang berada di Purwokerto yang  peradabannya masih jauh dari kemakmuran. Masyarakatnya tergantung pada harga gula merah.  Yang mereka punyai hanyalah pohon kelapa penghasil gula merah. Tak jarang mereka juga menjadi korban dari ketidakadilan akibat tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Mereka hanya bisa pasrah ketika listrik masuk ke desa mereka.  Ratusan pohon kelapa ditebang untuk nenanam tiang listrik yang artinya mengancam pemasukan bagi kaum penyadap kelapa.

Mengapa Lasi, seorang tokoh  perempuan yang digunakan Ahmad Tohari dalam tuturan kisahnya? Sama seperti Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Mungkin bagi Ahmad Tohari, perempuan adalah pembuat sejarah. Di dalam tubuh perempuan terdapat kekuatan dan kemampuan yang lebih besar dibanding kaum pria. Maka dengan karyanya ia ingin menghargai perempuan–perempuan Indonesia yang oleh dan dari waktu ke waktu belum terbebaskan dari penindasan akibat struktur ekonomi, sosial, budaya dan politik. Seolah ingin menyadarkan kita, meskipun Bung Karno telah mengantar kita ke pintu gerbang kemerdekaan, kita nyatanya belum merdeka dari penindasan dan kerakusan elit dan persekongkongkolannya dalam menguasai sumber daya alam. Dan perempuan berada di tengah kecamuk itu, lebih dari 1 dedake reformasi. Masih tidak dihargai, masih menjadi komiditas dan harus menghadapi hukuman pancung karena kemiskinan.

Review ditulis oleh Inggrid Silitonga

3 Responses to “Bekisar Merah”


  1. 1 Sinta Tuesday, November 22, 2011 at 9:50 pm

    covernya lebih bagus dari yang cetakan sebelumnya😀

  2. 2 Febrie Hastiyanto Wednesday, November 23, 2011 at 9:20 pm

    Novel-novel Ahmad Tohari selalu realis, mengeksplorasi desa dengan kedesaannya. Beberapa pembaca merasa jenuh dengan gaya Tohari menceritakan kedesaan pada setiap pembuka fragmen dalam novel-novelnya. Hampir setiap Bab–terutama Ronggeng Dukuh Paruk–di awali dengan deskripsi desa.

    Namun membaca karya-karya Tohari membuat kita mengikuti tamasya yang lain ke desa. Tohari menggambarkan desa tak selalu seperti dalam imaji orang-orang: tempat untuk berlibur. Seringkali di desa orang tak sempat berlibur. Bekisar Merah menggambarkan dengan penuh haru bagaimana tokoh utama menggantungkan hidupnya pada kelapa yang dideras niranya. Satu pekerjaan penuh risiko, sudah banyak pula pengalaman mencontohkan risiko itu: terjatuh, terkenan parang, menderita gangren, dan seterusnya. Pengobatan sungguh sesuatu yang mahal. Menjual kebun kelapa, juga bukan pilihan bijak. Dengan nyinyir Tohari mengungkapkan, sejumlah korban kecelakaan menahan diri untuk menjual kebunnya. Tetangga sebelah, dulu kecelakaan, menjual kebun, masih belum sembuh juga–karena pengobatan tak optimal barangkali. Beberapa pekerja yang kecelakaan bersikap menerima, dan mengobati sakit secara sederhana. Mereka berpikir cukup sekali kehilangan keperkasaan kerja, namun jangan kehilangan kebun pula. Sungguh Tohari mengajari saya untuk melihat desa dengan cara lain, dan desahan napas lain pula.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: