Perempuan Menjunjung Separuh Langit

Cover buku "Perempuan Menjujung Separuh Langit" (Gramedia: 2010)

Awal bergabung dengan Group Rumah Baca WordPress di Facebook kira–kira terjadi pada akhir Juli 2011. Itupun karena seorang sahabat baik menggabungkan aku dengan group ini. Kami berdua memang memiliki hobi baca, namun ku akui dia lebih gila baca. Ternyata group ini digagas oleh seorang creator yang memiliki Blog Rumah Baca. Blog yang berisi informasi berbagai buku dan resensinya. Menarik. Itu yang membuatku ikut nimbrung.  Aku selalu buka notifications jika ada postingan baru di group ini.

Suatu ketika, ada notification yang provokatif: Silahkan pilih tiga dari delapan buku, yang beruntung akan mendapatkan hadiah buku gratis. Ini serius, bukan hoax. Tulis Hartono Rakiman, di wall-nya. Sang creator nampaknya serius memasang cover–cover buku sekaligus  janjinya. Wah, ini tawaran menarik. Apalagi buku–buku tersebut belum aku baca. Aku memilih tiga judul di antaranya, Perempuan Menjunjung Separuh Langit, Pagi dan Hal–hal yang dipungut Kembali, Perjumpaan dalam Persahabatan: Surat–surat dari Vatikan kepada Umat Islam 1967-2011. Benar saja, tak sampai dua minggu, Hartono Rakiman dari  Rumah Baca mengumumkan pemenangnya, dengan syarat menyerahkan resensi buku kepada Rumah Baca. Ini sebuah tantangan untuk berbagi bacaan. Ayo saja!

“Perempuan menjujung Separuh Langit,” diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia dari judul asli “Half The Sky,” merupakan kisah kekerasan terhadap perempuan yang tulis oleh Nicolas D. Kristof dab Sheryl Wudunn, suami istri yang merupakan wartawan pemenang penghargaan Pulitzer. Kisah dalam buku ini merupakan hasil perjalanan jurnalistik mereka ke beberapa Negara, antara lain Thailand, India, Kamboja, Pakistan, dan Afrika Selatan. Mereka menemui korban trafficking perempuan, budak seks/pelacuran secara terpaksa, korban pemerkosaan, baik karena pemaksaan pelacuran maupun pemerkosaan sebagai hukuman dari budaya.

Mengutip pengantar Maria Hartiningsih, Wartawan Kompas, andai Nicolas D. Kristof dab Sheryl Wudunn memilih Indonesiasebagai bagian perjalanan jurnalistiknya, meraka akan menjumpai berbagai praktik patrikularisme budaya yang menyasar tubuh perempuan. Persoalan kekerasan berbasis gender yang dihadapi oleh perempuan diIndonesiajuga negara lain.

Buku ini memaparkan sejumlah data tentang penelitian yang menemukan lenyapnya anak perempuan di seluruh dunia karena diskriminasi gender. Misalnya di India, para ibu jarang membawa anak perempuan untuk vaksinasi ketimbang anak lelaki mereka. Modernisasi dan teknologi juga memperparah diskriminasi. Sejak tahun 1990-an, penyebaran mesin USG memungkinkan perempuan hamil mengetahui jenis kelamin janinnya, dan melakukan aborsi bila ternyata janinnya perempuan.

Kisah lainnya ketika anak–anak perempuan di bawah umur diperdagangkan, keperawanannya direnggut paksa dan harus menerima resiko tertular HIV/AIDS karena tidak menggunakan kondom. Ketika mereka hamil, anaknya disandera kemudian dijadikan pelacur. Nicolas (Nick) juga menyebutkan ketika melakukan perjalanan ke Desa Svay Pak di Kamboja, ia menemukan tempat pelacuran yang  menawarkan perempuan berusia tujuh hingga delapan tahun. Di Kota Kecil Poipet, Nick bertemu dengan salah seorang korban pelacuran yang menceritakan kisahnya ketika selaput darahnya masih utuh, tempat pelacuran tersebut melelangkan keperawanannya.

Pembunuhan terhadap anak perempuan juga terjadi dibeberapa negara, sering kali ditemukan ibu yang membunuh anak perempuannya akibat sang suami mengancam menceraikannya. Anda akan menemukan banyak kisah lainnya dan bagaimana lembaga internasional dan negara anggota PBB yang melakukan intervensi dan menolong perempuan korban kekerasan gender. Upaya memecahkan persoalan kekerasan berbasis gender di negara–negara tersebut dilakukan melalui pemberian pendidikan kepada perempuan, baik korban maupun yang terlibat dalam perdagangan dan pelacuran secara pemaksaan. Memberikan kesempatan kerja, dan pinjaman kepada perempuan dengan sistem keuangan mikro.

Jujur, aku sulit menuntaskan Perempuan menjujung Separuh Langit dengan cepat. Bukan hanya sedih, tapi juga marah. ”Perempuan sungguh punya sesuatu yang dapat mereka sumbangkan terhadap peradaban ini selain vagina” (Christopher Buckley).  Anda mungkin pernah menonton film berjudul Trade dan The Whistleblower, tentu tidak mudah melihatnya. Bukan saja perempuan, namun bocah lelaki juga menjadi korban pemerkosaan oleh lelaki heteroseksual.  Kalau tidak salah di Novel The Kite Runner, juga menceritakan kejadian seperti itu di Afganistan.

Bagaimana denganIndonesia? Aku pernah berbincang dengan salah satu kawan yang berasal dari Deli Serdang. Ia yang melakukan advokasi buruh dan menjadi Community Organizer (CO) buruh perkebunan. Ia menuturkan bahwa banyak buruh perempuan dengan upah rendah, bekerja lembur serta mendapatkan pelecehan seksual oleh mandor dan petugas perkebunan. Bahkan untuk kerja lembur tersebut tidak sedikit anak–anak mereka ikut bekerja membantu orang tuanya yang menambah jam kerja guna melunasi hutang. Kasus KDRT, penyebaran HIV/AIDS melalui pelacuran dan perpindahan militer, beban ganda (korban konflik sekaligus KDRT) terjadi subur di Tanah Papua. Kasus lainnya seperti penyiraman air keras oleh seorang suami kepada istrinya akibat cemburu, kasus TKI, perdagangan anak, dan sejumlah diskriminasi kepada perempuan juga ditemui di sekitar kita.

Apa yang harus kita lakukan? Pemerintah Indonesia telah meratifikasi/mengesahkan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Diskriminasi Terhadap wanita (UU No. 7 tahun 1984) dan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (UU No. 5 tahun 1998). Perempuan menjujung Separuh Langit berseru kepada kita untuk mampu menghormati hidup.

Bagaimana kita melakukannya? Sedikit berbagi cerita, aku pernah mewawancarai sebuah lembaga di NTT. Lembaga tersebut memiliki kelompok dampingan usaha perempuan bersama. Salah satu programnya adalah koperasi yang memiliki aturan bebas zona pelanggaran HAM. Sebagai contoh  suami yang memukuli istrinya tidak mendapat kesempatan kedua untuk meminjam uang dari koperasi.  Dalam suatu kesempatan berkunjung ke Deli Serdang, Sumatera Utara, aku pernah datang ke sebuah pertemuan akbar anggota Credit Union (CU) akhir Oktober 2009. Pertemuan tersebut diikuti kurang lebih seribu perempuan anggota CU. Mereka adalah perempuan buruh dan tani yang berasal dari Deli Serdang, Tanah Karo, Langkat, Simalungun, Dairi, Sergei dan sekitarnya. CU merupakan tempat bagi perempuan dan laki–laki sebagai pelaku ekonomi dan terutama untuk mendorong kemandirian perempuan.

Bagaimana dengan kawan–kawan? Kita tidak bisa lagi menjadi saksi….

Review buku ditulis oleh Inggrid Silitonga

5 Responses to “Perempuan Menjunjung Separuh Langit”


  1. 1 mira gusweni Monday, November 28, 2011 at 11:34 am

    informasi yg mewakili serpihan jiwa raga perempuan…saya perempuan dan patut memiliki buku ini…!

  2. 2 mashar Monday, November 28, 2011 at 3:57 pm

    Mira sekarang posisi di mana? Masih di Acehkah?

  3. 3 Inggrid Silitonga Monday, November 28, 2011 at 7:17 pm

    Yup Mba Mira, betul. Aih mana sahabatku yang gila baca Sylvia Bakarbessy. Bagi resensi buku lagi dong…:)

  4. 4 mashar Tuesday, November 29, 2011 at 6:37 am

    Sylvia Bakarbessy sekarang tenggelam di lautan buku-buku di Jerman, kuliah teruuus. Baca review bukunya di Rumah Baca >>
    https://rumahbaca.wordpress.com/2007/09/07/the-kite-runner/

    Masih menunggu review yang lain darinya.

  5. 5 indri Monday, December 12, 2011 at 7:54 pm

    setelah membaca buku ini terkesan pd tokoh Mukthar Mai dari Meerwala Pakistan penderitaan yg dialaminya membuatnya bertekad mendirikan sekolah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: