Pelangi Melbourne

Cover buku Pelangi Melbourne (Penerbit Kompas: Januari 2011) Penulis Zuhairi Misrawi

Rasanya menyesal sekali tidak membawa Novel Pelangi Melbourne (Penerbit Kompas: Januari 2011) hari itu, karena penulisnya Zuhairi Misrawi akan kutemui dalam diskusi “Reimajinasi Keindonesiaan Kita” yang diadakan Lingkar Muda Indonesia dalam menyambut hari kemerdekaan. Meski tidak akan bertemu secara langsung, tetapi sehabis Zuhairi memoderatori sebuah diskusi yang lain, rasanya aku bisa menyelanya untuk sekedar meminta novelku dibubuhi tandatangannya.

“Sebuah novel tentang keyakinan dan cinta yang menyatukan dua insan dalam indahnya toleransi….”

Sebaris kalimat yang tertulis pada sampul Novel karya Zuhairi Misrawi. Terkesan cerita romantik biasa. Itulah sekilas penilaian pembaca sebelum menyelami seluruh isi novel ini.

Novel ini mengisahkan Zaki Mubarak, seorang pemuda Indonesia yang datang ke Melbourne untuk mengikuti kursus bahasa Inggris selama enam bulan di Hawthorn English Language Centre. Zaki merupakan lulusan sebuah perguruan tinggi Islam di Jakarta. Zaki beruntung mendapat kesempatan kursus di Melbourne berkat bantuan sebuah lembaga donor untuk aktivis LSM. Bagi Zaki, kesempatan ini harus ia gunakan agar kelak dapat dipakai untuk melanjutkan studinya di salah satu Universitas Melbourne.

Zaki tinggal dirumah Hiroko, seorang seorang Jepang yang bersuamikan warga Melbourne. Dalam kesehariannya ia akan berinteraksi mengunakan bahasa Inggris. Dengan program homestay tersebut para pelajar dari berbagai negara akan dengan cepat menguasai bahasa Inggris dan mengenal cara hidup dan budaya selama di Australia.

Zaki memberanikan diri berkenalan dengan Ahmad seorang pelajar dari Arab, hal tersebut dikarenakan dirinya fasih berbahasa Arab. Zaki menguasai bahasa Arab karena bertahun – tahun menjadi santri di salah satu pesantren Salaf di Jawa Timur. Selain Ahmad, Zaki berteman baik dengan Diana Lee seorang pemudi asal Korea Selatan dan Rhauda yang berasal dari Arab.

Zaki memaknai pertemanannya di Hawthorn sebagai hubungan multikulturalisme yang indah. Zaki belajar dari perilaku, tugas dan hasil presentasi kawan – kawan sekelasnya. Dalam beberapa kesempatan Zaki berdialog dengan kawan – kawannya tentang ragam budaya, agama, adat istiadat serta sejarah dari negara asal mereka. Zaki juga menemukan sarana ibadah berupa mushola di tempat belajarnya sebagai wujud toleransi dan penghargaan terhadap agama minoritas.

Hubungan pertemanannya dengan Diana berlanjut menjadi hubungan yang lebih dekat. Kesederhanaanlah yang membuat mereka menerima perbedaan diantara keduanya. Zaki banyak menceritakan tentang Islam dan Indonesia. Ia mengulas tentang sejarah Islam, pandangan dan kejadian kemanusiaan yang mengaitkan Islam dengan terorisme. Dianapun terbuka tentang keluarganya serta rutinitas Khatolik yang ia jalani sejak kanak – kanak. Bagi keduanya urusan belajar tetap nomor satu sehingga mereka memanfaatkan hubungan diantara mereka untuk saling mendukung.

Cerita tentang Zaki dan Diana tidak berhenti di Melbourne. Di Indonesia, di Jakarta, Hubungan Zaki dengan Diana ditentang keluarga besarnya. Ketika ia kembali ke Jakarta setelah selesai kursus, ia mencoba mendiskusikan hubungannya dengan Ibunya. Zaki sedari awal memang telah menyadari bahwa hubungannya dengan Diana akan menuai perdebatan dan protes. Kenyataan pahit yang benar – benar nyata yaitu hilangnya penghasilan rutin ibunya dari warung nasi. Pelanggan yang selama ini kerap makan di warung ibunya berangsur – angsur tidak datang lagi. Bahkan di warung ibunya ada tulisan PERNIKAHAN BEDA AGAMA ADALAH HARAM, dan WARUNG INI JUGA HARAM.
Zaki menghadapi pemikiran fundamental keluarganya, apa yang terjadi dengan Zaki dan Ibunya? Apakah Diana mendapat penolakan yang sama oleh keluarganya di Korea Selatan dan bagaimana dengan kisah Ahmad dan Rhauda? meskipun sama – sama beragama Islam dan berasal dari Arab namun berbeda Kasta?

Novel Pelangi Melbourne hadir untuk memberi warna dalam hubungan antar iman di Indonesia yang saat ini mengalami masalah intoleransi, menguatnya fanatisme agama, etnik serta ancaman komunitarianisme. Berbagai peristiwa perusakan rumah ibadah, tindak kekerasan, pelarangan ibadah dan pertikaian antar umat beragama membutuhkan ruang – ruang mediasi dan dialog antar pemeluk agama. Menjadi pelajaran pertama bagi kita semua yaitu bagaimana pertama – tama menghadirkan dialog di dalam keluarga. Hal ini akan membuka kesempatan kepada kita untuk menerima perbedaan dan keberagaman dari lingkungan keluarga, hubungan pertemanan dan lebih luas lagi antar manusia lainnya.

Akhirnya saya ingin memuji Zuhairi Misrawi karena mampu menyajikan permasalahan perbedaan secara terbuka dengan bahasa yang lugas.

Review novel oleh Inggrid Silitonga

0 Responses to “Pelangi Melbourne”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: