Ikhtiar Persahabatan dalam Korespondensi

Relasi antara umat muslim dan kristiani telah berlangsung sejak 14 abad lalu, sesaat setelah risalah agama Islam dibawa Muhammad SAW. Sejak itu pula hubungan antara umat muslim dan kristiani melewati masa-masa pasang surut. Kecurigaan, peperangan, perdamaian dan persahabatan secara siklikal silih berganti menandai hubungan antarumat dua agama besar di dunia ini Meskipun pada permukaan tampaknya persahabatan didemonstrasikan namun sesungguhnya masing-masing ajaran agama disalahmengerti, yang kemudian dikodifikasi dalam ujaran-ujaran yang membenarkan agama masing-masing. Untuk mengurai ketegangan teologis inilah, Vatikan, otoritas kristiani terbesar di dunia memulai inisiasi untuk mencairkan hubungan antaragama. Usaha ini antara lain ditandai dengan rilis Ucapan Selamat Idul Fitri bagi umat muslim di seluruh dunia sejak tahun 1967 oleh Sekretariat untuk Agama-Agama Non-Kristiani yang kemudian berganti nama menjadi Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue/PCID). Sejak tahun 1991, sesaat setelah Perang Teluk meletus yang membuat ketegangan antarumat beragama semakin menguat, Sri Paus Johannes Paulus II mengambil inisiatif menulis sendiri ucapan selamat ini kepada saudara muslimnya di seluruh dunia. Ucapan Selamat Idul Fitri ini kemudian dibukukan dalam Perjumpaan dalam Persahabatan: Surat-Surat dari Vatikan kepada Umat Islam 1967-2011 (Penerjemah Aan Rukmana, Editor P. Markus Solo Kewuta, P.T. Elex Media Komputindo Kompas Gramedia, 2011).

Pada tahun-tahun pertama rilis Ucapan Selamat Idul Fitri, Vatikan merasa perlu berkali-kali untuk menegaskan bahwa ungkapan silaturahmi ini bukanlah ungkapan biasa dan bersifat formalitas melainkan sikap tulus umat kristiani yang merasa memiliki iman yang sama pada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Rahim. Dengan begitu, sebuah dunia baru yang mengganti kebencian dengan kasih, kecurigaan dengan pengertian dan ketakacuhan dengan solidaritas dapat dibangun. Persahabatan yang ditandai dengan korespondensi ini tak hanya berakar pada iman yang sama tetapi juga persahabatan yang dipersatukan oleh Allah sendiri. Bagi Vatikan, korespondensi ini diharapkan dapat menghentikan segala ketegangan maupun peperangan yang antara lain disebabkan karena perspektif teologi masing-masing agama yang disalahpersepsikan.

Dalam banyak Ucapan Selamat Idul Fitri yang dirilis, Vatikan berulangkali hendak meyakinkan umat muslimin bahwa umat kristiani sangat memahami laku religius yang dilakukan umat muslim sebelum merayakan Idul Fitri: Puasa Ramadan. Puasa juga merupakan salah satu ritus yang dilakukan umat kristiani, sehingga berkat dari puasa yang dilakukan umat muslim yakni penghayatan keimanan yang semakin meningkat juga dirasakan umat kristiani yang melakukan puasa sesuai ajaran agamanya. Interdependesi yang diajarkan dalam ritus puasa  selain memperkuat nilai-nilai spiritualitas seperti solidaritas dan pertobatan hati diharapkan  juga mempertemukan umat kristiani dan muslimin dalam situasi saling menghargai dan percaya serta melampaui perbedaan-perbedaan yang tak perlu ditutupi. Puasa atau menahan nafsu diri memang ritus paling lazim dalam banyak agama dan kepercayaan di dunia.

Meskipun tak ingin dianggap formalitas, Vatikan sejak mula mengakui bahwa korespondensi ini lebih banyak bersifat solidaritas dan sebagai satu upaya untuk berusaha mengenal satu sama lain secara lebih baik. Vatikan secara tulus menyebutkan bahwa kata-kata dalam korespondensi tidak dapat serta merta membawa damai ke tempat di mana peperangan sedang berlansung, atau membawa tawaran pekerjaan ke tempat di mana penganggur berada maupun membawa kebahagiaan bendawi ke tempat di mana kaum papa bermukim. Namun kiranya tanda-tanda persahabatan yang tumbuh akan menjelma menjadi kedamaian dan kebahagian seturut Idul Fitri yang dirayakan kaum muslimin.

Tak hanya mengulas isu-isu normatif dalam dialog antaragama seperti perdamaian, cinta kasih, atau tanggungjawab moral, Vatikan dalam tahun-tahun pada dekade 1990-2000-an mulai membuka diri terhadap isu-isu aktual masyarakat dunia zaman milennium seperti kemiskinan,  pemuda, anak-anak sebagai generasi penerus, teknologi termasuk di dalamnya kedokteran, genetika, teknologi informasi hingga internet agar selalu setia melayani manusia berdasar nilai-nilai kemanusiaan.

Umat muslim sebagai subyek korespondensi, terutama yang bermukim di Indonesia patut berbangga karena mendapat tempat dalam pesan-pesan perdamaian Vatikan. Secara eksplisit Vatikan menyebut Indonesia pada beberapa ucapan untuk menggambarkan relasi yang telah dibangun Vatikan dengan komunitas-komunitas muslim dunia. Meskipun aktif dalam dialog yang diselenggarakan masing-masing agama, usaha yang dilakukan Vatikan belum serta merta meredakan ketegangan teologis yang ada meskipun kita harus mendukukkan ketegangan ini sebagai faktor yang dependen terhadap banyak variabel yang terjadi—dan tentu tak diharapkan umat kedua agama.

Meski Vatikan telah mengawali memberi Ucapan Selamat Idul Fitri, membalas Ucapan Selamat Natal bagi sebagian umat muslim di tanah air telah menjadi polemik berkepanjangan. Bermula setidaknya sejak tahun tahun 1981 tatkala Komisi Fatwa MUI merilis fatwa yang ditandatangani oleh K.H. M. Syukri dan Drs. H. Mas’udi bahwa mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram yang kemudian ditafsirkan secara beragam oleh umat: ada yang menyebutkan bahwa fatwa hanya mengatur soal “upacara Natal bersama”—ada yang memahami upacara dalam konteks sakramen (ritual) Natal; ada pula yang memperluas maknanya sekaligus pada “Ucapan Selamat Natal”; maupun umat yang bersandar pada fatwa-fatwa ulama lain seperti Syeikh Al-‘Utsaimin dan Ibnul Qayyim yang mengharamkan ucapan Selamat Natal maupun ulama lain yang membolehkan ucapan Selamat Natal dengan sejumlah catatan seperti Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’ dan Dr. Yusuf Al-Qaradawi—ulama yang disebut terakhir cukup populer di tanah air.

Walaupun telah digelar sejumlah pertemuan dan konferensi melengkapi pesan-pesan yang dirilis Vatikan, sejumlah praktik beragama masing-masing umat masih menimbulkan ketidaknyamanan bagi umat agama lain. Tahun 1989 misalnya, pemuka-pemuka umat Islam Indonesia yakni Mohammad M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), K.H. Masykur (mantan Menteri Agama RI), K.H. Rusli Abd. Wahid (mantan Menteri Negara RI), dan Prof. Dr. H.M. Rasyidi (mantan Menteri Agama RI) melakukan korespondensi dengan Vatikan, mengucapkan selamat datang atas rencana kunjungan Paus Johanes Paulus II ke Indonesia. Melalui surat itu Natsir dan kawan-kawan secara santun meminta perhatian Vatikan atas penyalahgunaan Diakonia (pelayanan masyarakat) yang bagi sebagian umat muslimin dianggap sebagai Kristenisasi meskipun telah digelar Konferensi Internasional tentang Misi Kristen dan Dakwah Islam di Chambesy tahun 1976 sebagai ruang bagi tumbuhnya dialog, toleransi dan semangat saling menghargai.

Realitas ini tentu tidak dapat dijadikan konklusi bahwa umat muslim tak merespons secara positif pesan-pesan universal Ucapan Selamat Idul Fitri dari Vatikan, maupun ditafsirkan sebagai sikap mendua Vatikan dalam praktik beragama yang tak selaras dengan pasan-pesan perdamaiannya sehingga ketidaknyamanan masih hadir dalam sanubari saudara muslimnya. Realitas ini justru menegaskan bahwa Ucapan Selamat Idul Fitri dan pesan-pesan perdamaian Vatikan serta dialog, dan konferensi antarumat beragama semakin relevan untuk diteruskan untuk melampaui semua ketidaknyamanan akibat sesuatu yang salah dimengerti. Harapan dari semua ini tentu saja kedamaian, cinta kasih, penghargaan atas martabat kemanusiaan dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari yang salah satu perjuangannya dilakukan melalui teks-teks korespondensi.

Review buku ditulis oleh Febrie Hastiyanto, Kontributor pada Komunitas Rumah Baca. Pernah sekolah di Sosiologi FISIP UNS.

1 Response to “Ikhtiar Persahabatan dalam Korespondensi”


  1. 1 mashar Friday, January 13, 2012 at 8:23 am

    Seseorang mengatakan, “Maaf, saya tak boleh mengucapkan Selamat Waisak karena saya Muslim.” Seorang Buddhis akan mengerto bahwa orang itu sebenarnya mengucapkan apa yak tak diucapkannya. Dalam percakapan yang diam, ada yang tak bisa dijangkau oleh fatwa. – Goenawan Mohammad


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: