Lolita

Cover buku Lolita (Serambi: cetal ulang 2011)

Humbert Humbert, seorang profesor ahli sastra, berusia setengah baya, terobsesi cinta dengan seorang gadis muda belia. Dolorez Haze, sang Lolita. Agar ia bisa berdekatan dengan sang gadis belia, yang disebutnya “peri asmara”- Humbert menikahi ibu sang gadis. Takdir seolah berpihak pada sang Profesor, si ibu meninggal dalam kecelakaan. Humbert kemudian membawa anak tirinya berkelana keliling Amerika Serikat, menikmati cinta terlarang dengan segala manis- getirnya.

Novel ini dipandang sebagai salah satu novel terbaik sepanjang masa, paling tidak karena beberapa alasan. Pertama, tema cerita, sangat berani untuk zamannya (tahun ‘50an) yaitu tentang obsesi psikologis – ketertarikan seksual orang dewasa terhadap gadis belia (13 tahun- ketika dijadikan film diubah menjadi 15 tahun).  Tema ini membuat penerbitan novel  tertunda beberapa tahun. Terbit pertama dalam bahasa Inggeris di Prancis, tahun 1955 karena penerbit di Amerika menolak menerbitkan novel ini dengan alasan melanggar tata susila. Bahkan di Prancis sekalipun, novel ini dianggap berbahaya dan dilarang beredar, hingga dicabut larangannya tahun 1958. Novel ini terbit di USA tahun 1958, dan menjadi novel terlaris, dicetak 100.000 eksemplar yang habis terjual dalam waktu 3 minggu. Novel ini pernah dilarang beredar di Inggeris, Australia, Burma, Belgia, Austria. Bahkan di kampung halaman Nabokof, Rusia, novel ini baru beredar tahun 1980an- era Gorbachev. Di Indonesia, novel ini terbit pertama kali tahun 2008 oleh Serambi, menjadi novel laris dengan terjual 23.000 eksemplar dan kemudian dicetak ulang Oktober 2011.

Alasan kedua, adalah kepiawaian Nabokof, sang penulis novel yang luar biasa dalam teknis penulisan yang tidak lazim pada zamannya. Teknik flash-back, bahasa simbolik, bertutur dalam model riwayat hidup sedemikian kuatnya sehingga pembaca terhanyut dalam gulatan psikologis sang profesor, bahkan mampu membuat pembaca simpati dengan ‘cinta terlarangnya’, disamping suasana humor dan kegetiran hidup yang dibangunnya. Walau demikian, Humbert pada akhirnya juga berkata: “ perkawinan yang paling kacau sekalipun- masih lebih baik dari sebuah hubungan inses”.

Ketiga, jauh dari bayangan pembaca yang dipengaruhi kontroversial tema phaedopilia dan pelarangan novel “berbahaya” ini,  novel ini sama sekali tidak memuat deskripsi yang dapat “merangsang” pembaca. Novel ini sama sekali tidak memuat paragraf cabul. Disinilah kehebatan penulis, sehingga disatu sisi novel ini dapat dianggap sebagai novel dengan tema gangguan psikologis- kasus psikiatrik.

Lolita, sedemikian popularnya, dan dianggap sebagai salah satu novel paling berpengaruh pada abad kedua puluh oleh majalah Time dan dua kali diangkat ke layar lebar, tahun 1962 (sutradara Stanley Kubrick) dan tahun 1997 (Sutradara Adrian Lyne).

Review buku ditulis oleh Syahrizal Syarif, sesepuh komunitas Rumah Baca

1 Response to “Lolita”


  1. 1 mashar Tuesday, January 17, 2012 at 10:28 am

    Wah kayaknya saya termasuk yang terlambat mengetahui novel kontroversial ini. Segera berburu!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: