Kicau Kacau

Indra Herlambang benar-benar kacau jika sudah mencercau. Mungkin terbawa dengan keceriwisannya saat masih membawakan acara infotainment bersama Cut Tari beberapa tahun lalu. Dunia infortainment, celebrity, dan  persoalan remeh-temeh yang dia lihat, dan rasakan menjadi bahan tulisan yang menarik. Sudut pandang atau cara dia mengungkapkan peristiwa memang selalu memakai kacamata manusia biasa yang seringkali dia sendiri ikut terlibat dalam peristiwa yang dia tuliskan. Jadi tidak ada jarak. Dan itu membuat dia tahu betul persoalan manusia moderen, yang selalu galau alias gelisah dan kacau.

Buku Kicau Kacau (Gramedia: 2011) memang menggambarkan kekacauan cara berfikir sebagian  besar manusia moderen yang mudah galau, bingung, tak punya pendirian. Yang seringkali hidup hanya sekedar mengikuti gaya, trend, dan arus utama pada masanya.

Bandingkan dengan manusia yang hidup pada jaman, di mana efek digital belum begitu kuat menyergap setiap sendi kehidupan. Manusia jaman dahulu lebih mendarat, punya prinsip hidup yang biasanya diperoleh lewat wejangan, ”saur sepuh,” lewat petuah lisan, pertunjukan wayang, gurindam, dongeng, tembang, dll. Kearifan masa lalu itu cukuplah jadi pegangan hidup.

Manusia moderen itu rawan galau dan kacau, jika memang tidak punya prinsip, dan hidup hanya sekedar ikut-ikutan orang lain.  Karakter Indra Herlambang pas sekali menggambarkan fenomena itu. Dan orang tidak perlu merasa nyinyir atau naik pitam membaca tulisan-tulisannya, karena memang dia sendiri ikut serta dalam peristiwa itu, dan hadir bukan sebagai sosok yang menghakimi. Beragam hal yang dia coba ulas, diantaranya tentang persoalan gaya hidup, status perkawinan, Jakarta, Indonesia, dan persoalan keluarga.

Tulisan-tulisan itu sebelumya telah tersebar di berbagai majalah seperti Free magazine,  U magazine, ME Asia, dalam bentuk kolom. Gaya penulisannya mirip dengan gaya penulisan kolom parodi Samuel Mulia, yang biasa hadir setiap minggu di Harian Kompas. Tulisan-tulisan semacam itu memang cocok untuk rubrik gaya hidup.

Membaca tulisan Indra Herlambang tidak perlu mengernyitkan dahi. Dan memang tidak semua pandangan hidupnya wajib kita ikuti. Itu kan Cuma curahan hati, cara pandang dia melihat persoalan kehidupan. Tapi saya justru lebih suka menikmati goresan sketsanya yang dia buat sendiri untuk ilustrasi bukunya itu. Bahasa visualnya lebih membebaskan saya untuk berimajinasi. Indra Herlambang memang lulusan FSRD ITB jurusan desain komunikasi visual, selain seorang presenter, penyiar radio, kini menjadi seorang penulis.

Jadi, bagi yang sedang galau, bacalah buku Indra Herlambang ini. Dijamin ada temen curhat yang membuat hidup Anda yang sedang kacau jadi lebih kacau lagi.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

0 Responses to “Kicau Kacau”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: