Cinta dan Toleransi

Kebutuhan untuk dialog antarumat beragama telah mendapat penekanan dengan adanya berbagai peristiwa beberapa tahun terakhir ini. Dialog antaragama dipandang sebagai alternatif atas topik yang banyak didiskusikan, yaitu “benturan peradaban”. Mereka yang tidak setuju dengan teori bahwa benturan peradaban tidak akan dapat dihindari mengusulkan, selain dialog tentang peradaban, pertukaran pandangan untuk saling memperkaya, berbagi pandangan yang dapat membawa semua orang memahami secara mendalam hakikat Tuhan dan Kehendak Tuhan untuk umat manusia di planet ini.

Itulah yang dibahas dalam buku Cinta dan Toleransi (BE Publishing: 2012). Buku ini menghadirkan pandangan-pandangan salah satu tokoh muslim dan pemimpin spiritual yang berpengaruh di dunia Islam dewasa ini. Gerakan yang diilhami dan dipandu oleh M. Fethullah Gulen menawarkan kepada umat Islam untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai islami di tengah-tengah berbagai tuntutan masyarakat modern. Dari tempat asalnya di Turki, gerakan tersebut menyebar dengan cepat, melalui sekolah-sekolah di berbagai negara, melalui kegiatan-kegiatan kebudayaan dan media massa, dan melalui proyek-proyek sosial dan forum-forum dialog yang diselenggarakan orang-orang Turki yang tersebar di Eropa, Amerika Utara dan Australia hingga pengaruh gerakan Gulen dirasakan di semua wilayah, baik yang berpenduduk mayoritas beragama Islam maupun yang minoritas.

Buku ini memiliki tujuan ganda. Di satu sisi, buku ini mengajak umat Islam untuk benar-benar menyadari bahwa Islam mengajarkan perlunya dialog dan umat Islam dituntut untuk bisa menjadi agen-agen (khalifah Allah di muka bumi) dan saksi-saksi kasih sayang Tuhan yang universal. M. Fethullah Gulen menunjukkan pengetahuannya yang luas tentang Islam dengan membawa serta Al-Quran dan hadis yang dilaporkan dari Muhammad saw, dan pandangan-pandangan para tokoh muslim selama berabad-abad untuk membangun argumen yang meyakinkan bahwa toleransi, cinta dan kasih sayang adalah nilai-nilai Islam yang sebenarnya yang harus dibawa oleh umat Islam ke dunia modern.

Di sisi lain, buku ini berisi ajakan kepada nonmuslim untuk tidak berprasangka, curiga dan kurang percaya sehingga bisa memahami Islam yang sebenarnya. Seseorang yang pengetahuannya tentang Islam sebatas judul-judul berita di koran cenderung percaya bahwa agama tersebut mengajarkan terorisme, serangan bunuh diri, penindasan terhadap kaum wanita, dan kebencian terhadap orang-orang di luar komunitasnya. Siapakah yang sudi berdialog dengan orang-orang yang mempromosikan aksi-aksi seperti itu? Siapa yang mau tinggal bersama dengan orang-orang yang memiliki perilaku seperti itu?

Namun demikian, melalui tulisan-tulisan M. Fethullah Gulen, para pembaca akan mengetahui bahwa interpretasi yang benar terhadap ajaran Islam menunjukkan lebih pada nilai-nilai spiritual seperti ampunan, kedamaian batin, keharmonisan sosial, kejujuran dan kepercayaan kepada Tuhan. Dalam mengungkapkan nilai-nilai Islam ini, yang juga dimiliki oleh para penganut berbagai agama yang lain, Penulis tidak hanya mengajak orang-orang muslim untuk ikut berdialog, tetapi juga menyertakan nonmuslim dalam diskusi mengenai cita-cita bersama.

Seorang Pendeta Katolik yang tinggal di Roma sudah mengetahui anggota-anggota gerakan yang diprakarsai M. Fethullah Gulen selama lebih dari satu dekade. Ia menyatakan bahwa mereka secara tulus dan mengesankan menjalankan ajaran-ajaran pemandu spiritual mereka. Mereka dengan hormat menyapa Gulen “Hoca Effendi”, yang berarti “Guru”. Menurutnya, apa yang ada dalam buku ini diambil dari Al-Quran dan hadis, membentuk sikap-sikap yang dapat digunakan orang-orang muslim untuk mempraktikkan komitmen keagamaan mereka. Dalam membawa serta tulisan-tulisannya yang sudah muncul di berbagai jurnal dan wawancara, sebagian di antaranya belum pernah muncul dalam bahasa Inggris, M. Fethullah Gulen telah dengan baik melayani mereka yang ingin mengetahui cita-cita yang menandai gerakan ini.

Beberapa tahun yang lalu, Pendeta tersebut memberi kuliah di Urfa dan Gaziantep di Turki bagian timur. Dalam perjalanan pulang ke Roma, ia diundang untuk menemui sekelompok orang-orang muda di Istanbul pada pertemuan yang diadakan oleh gerakan Gulen. Sesampai di sana, ia terkejut mendapati perkumpulan sekitar 4.000 pemuda. Ketika berbicara di hadapan mereka, ia tahu bahwa mereka mewakili berbagai kalangan pemuda Istanbul, sebagian mahasiswa teknik, kedokteran dan ilmu komputer, sebagian lainnya karyawan dan karyawati. Beberapa wanita di antaranya bekerja sebagai sekretaris, agen perjalanan, atau guru sekolah. Ia juga bertemu pemuda yang bekerja di bank, sopir truk dan pekerja bangunan.

Mereka adalah para pemuda yang bergembira dan antusias yang berkumpul bersama untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Ia merasa sangat aneh, sebagai seorang Pendeta Katolik diundang untuk berbicara di hadapan mereka dengan tema “Rasulullah, Rahmat bagi Umat Manusia”. Ceramahnya diikuti dengan pembacaan puisi untuk menghormati Muhammad, dan malam itu ditutup dengan penyanyi terkenal Turki yang membawakan lagu puji-pujian kepada Tuhan dengan diiringi gitar elektrik. Ia merasakan malam itu seperti dalam banyak acara, bahwa jika M. Fethullah Gulen dan gerakannya telah mampu menanamkan keinginan pada sekian banyak pemuda untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan dan untuk hidup dengan cinta dan saling menghormati satu sama lainnya, mereka pasti telah terlibat dalam upaya spiritual yang sangat berharga.

Orang-orang nonmuslim akan setuju, bahwa inilah orang-orang yang bisa diajak untuk hidup berdampingan dan bekerja sama untuk kemaslahatan semua orang. Namun, tak diragukan lagi akan ada pertanyaan tentang pandangan-pandangan Gulen dan gerakannya terhadap orang lain di dunia muslim yang mudah berbuat kekerasan. Dalam buku ini, Penulis juga membahas pertanyaan “sulit” ini dalam bagian “Jihad-Terorisme-Hak Asasi Manusia”, yang menjelaskan pengertian jihad dan menyatakan secara jelas bahwa seorang muslim sejati tidak akan pernah terlibat dalam terorisme.

Gulen, sebagai guru spiritual yang dijuluki oleh Pendeta Katolik tersebut pernah menyatakan,

”Seandainya saya punya kemampuan untuk membaca pikiran orang, yaitu, seandainya saya punya kemampuan untuk mengetahui setiap orang dengan karakteristik khusus masing-masing, tentunya saya akan membimbing setiap orang menuju bukit kesempurnaan yang paling layak untuk mereka. Saya akan merekomendasikan refleksi, kontemplasi, pembacaan berkelanjutan; saya akan memberitahu mereka untuk mempelajari tanda-tanda Tuhan di alam, di diri manusia itu sendiri; saya akan menyarankan kepada orang lain untuk membaca ayat-ayat Al-Quran dan doa-doa tertentu secara reguler; saya tetap akan memberitahu orang lain untuk terus merefleksikan fenomena “alam”. Yakni, saya akan memberikan tugas-tugas kepada orang-orang pada bidang masing-masing sesuai kemampuan alami mereka.”[]

Review buku oleh Addys Aldizar.

0 Responses to “Cinta dan Toleransi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: