Illegal Alien: Kisah Petualangan Imigran Gelap di Amerika Serikat

Cover buku “Illegal Alien: Kisah Petualangan Imigran Gelap di Amerika Serikat” (Mediakita: 2011)

September 1893. Tak kurang dari 100.000 orang tak dapat menyembunyikan wajah tegang dan dada yang berdegup kencang. Tak lama kemudian satu senapan ditembakkan ke udara. Tidak, mereka tidak sedang berperang. 100.000 orang yang berbaris rapi di atas kuda masing-masing sedang menunggu tanda, dan lebih dari itu sedang memperjuangkan mimpi. Sesaat setelah senapan menyalak, mereka melesat, berlomba memacu kuda menuju tanah yang mereka kehendaki, menancapkan bendera, lalu jadilah mereka berkuasa atas tanah itu.

Kisah ini sungguh terjadi, dan kemudian dikenal sebagai Cherokee Strip Land Run alias Perburuan Tanah Jalur Cherokee. Tak usah membincangkan soal hak, 100.000 orang itu adalah imigran dari segala penjuru bumi yang berebut tanah 7 juta acre (28.000 km2), tanah yang sah milik Suku Cherokee. Perburuan ini menjadi perburuan tanah terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat, sekaligus menandai kawasan tersebut sebagai tanah impian bagi imigran: imigran-penjajah, imigran-perantau, imigran-petualang, hingga imigran-ilegal.

Serupa gula-gula, Amerika Serikat dan banyak kota besar di dunia menjadi magnet dengan memiliki daya tarik ekonomi yang dapat membuat orang melakukan apa saja untuk menjamahnya, dan mewujudkan mimpi-mimpi kemakmuran dalam benaknya. Sebagian mampu mengangkat dagu dan membuktikan diri sebagai pemenang di tanah orang, sebagain yang lain tetap tak menjadi siapa-siapa, bahkan tak sedikit yang harus kalah sebelum bertanding. Mereka dideportasi. Ya, Amerika Serikat bersikap ketat terhadap kedatangan imigran di negaranya. Tak ingin menjadi negara penyantun imigran secara cuma-cuma, Amerika Serikat memperketat perizinan dan setumpuk dokumen bila seseorang ingin mengadu nasib di negerinya. Meskipun Amerika Serikat berlaku ketat, namun Amerika Serikat sesungguhnya satu negara yang masih berpijak di dunia belaka, dengan manusianya yang bertabiat segala rupa. Artinya, Amerika Serikat sekalipun tetap dapat disiasati. Prosedur resmi dapat dicarikan celah bagi imigran gelap (illegal alien) yang mencoba peruntungan di sana.

Pemerintah Amerika Serikat sesungguhnya bukan tak tahu praktik ini. Kenyataannya mereka membutuhkan imigran gelap untuk pekerjaan-pekerjaan kasar. Meskipun tak ada data statistik pasti, hampir sepertiga warga Amerika Serikat adalah imigran gelap, sebagian besar diantaranya sudah beranak pinak pula. Amerika Serikat memperlakukan imigran gelap dengan baik, yang mereka kategorikan sebagai penduduk serupa warga negaranya yang legal. Sepanjang mereka tak melakukan tindak kriminal, sebenarnya menjadi imigran gelap di Amerika Serikat cukup aman. Mereka berusaha menaklukan Amerika Serikat dengan segala kisah yang menggugah kemanusiaan kita, dengan segala kekonyolan, pencapaian, kegagalan, pun kecerdikan. Agung Suryawan, satu awak kapal pesiar asal Yogyakarta, Indonesia tentu saja, telah menuliskan kisahnya bersama Hartono Rakiman dalam merebut mimpi Amerika sebagai imigran gelap dalam bukunya Illegal Alien: Kisah Petualangan Imigran Gelap di Amerika Serikat (Media Kita, 2011).

Bosan menjadi awak kapal pesiar dengan posisi sebagai waiter, Surya membuat keputusan penting untuk melakukan jump ship. Bukan meloncat dari atas kapal secara harfiah melainkan memutuskan kontrak secara baik-baik dan pulang ke tanah air. Menurut prosedur jump ship yang berlaku, 30 hari sejak berhenti bekerja di kapal pesiar, ia harus segera kembali ke tanah air. Pelanggaran atas tenggat waktu ini berakibat status ilegal sebagai imigran di Amerika Serikat. Namun Surya tak segera pulang ke tanah air. Ia mencoba peruntung sebagai imigran gelap, dengan segala konsekuensinya.

Bagaimana sepak terjang Surya menyiasati statusnya dari illegal menjadi legal? Bahkan Surya mampu merubah nasib dari seorang waiter menjadi seorang manjer di Island Resort Hilton Head, termasuk orang penting yang mendesain event di pulau resort itu. Surya tak ingin menikmati keberhasilan seorang diri, ia berusaha melobi HRD perusahaan tempatnya bekerja agar mendapangkan tenaga kerja dari Indonesia, secara legal, dan berhasil. Setelah puas bekerja di Amerika Serikat, Surya kini kembali ke tanah air dan sedang “menyepi”, membangun resor bernuansa alam liar di kawasan Ijen.

Kisah Surya tak hendak memberi contoh criminal untuk berbuat illegal, namun kita dapat merasakan semangatnya untuk mengadu nasib dan bagaimana ia memaknai hidup serta menjalaninya.

Review buku oleh Febrie Hastiyanto, kontributor pada Komunitas Rumah Baca. Menulis manuskrip backpacker bertajuk Kota di dalam Ranselku.

2 Responses to “Illegal Alien: Kisah Petualangan Imigran Gelap di Amerika Serikat”


  1. 1 klinikpsikis Monday, May 21, 2012 at 10:31 am

    wa…memang Imigran ada.karena mencari kehidupan yg lebih layak. sama kayak imigran dari timteng..yang nyasar ke indonesia..

  2. 2 Griya Kuliner Sunday, October 5, 2014 at 9:41 pm

    Keliatannya keren nih.
    Mampir ke toko buku ah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: