Candik Ala

Cover novel Candik Ala (KataKita: 2011)

1965 adalah tahun yang suram , atau boleh dibilang traumatik dalam sejarah negeri ini. Pasca reformasi 1998 seakan ada genre baru di dunia sastraIndonesiayaitu ’sastra 1965” yang mengambil setting seputar peristiwa 1965,

Pada era orde baru pun sebenarnya ada juga beberapa novel atau roman yang ‘menyinggung’ peristiwa 1965 (di antaranya Para Priyayi karya Umar Kayam, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari)  yang tentunya disesuaikan dengan kondisi politik pada waktu itu.

Karya–karya fiksi (novel, cerpen dan puisi) dengan tema 1965 pasca  reformasi coba meghadirkan kembali pergolakan politik yang gemuruh dan berdarah khususnya mengelaborasi pembantaian massal yang terjadi pada waktu itu. Hingga kemudian lahirlah novel “CandikAla” (KataKita: 2011), yang ditulis oleh Tinuk R. Yampolsky. Candhik Ala adalah ungkapan Jawa yang berarti : langit kuning kemerahan menjelang senja. Judul ini seakan ingin mengatakan bahwa tahun-tahun itu langitpun pun ikut memerah karena di bumi banyak darah tertumpah.  

Berbeda dengan karya lain dengan tema tragedi 1965 yang umumnya melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang ‘survivor’ atau ‘pemenang”, Candik Ala 1965 coba memaparkan peristiwa menakutkan tersebut dari sudut pandang seorang anak.

Buat generasi yang lahir pasca 1965 (khususnya Wong Solo) novel ini bisa memberikan sedikit informasi mengenai ‘pencidukan’ yang waktu itu terjadi di seputar Solo.

Tokoh utama novel ini adalah seorang anak perempuan Jawa, yang dipanggil Nik. Alkisah ketika geger 1965 terjadi Nik masih duduk di bangku kelas dua SD, berumur sekitar 7 tahunan. Sekolahnya ada di belakang Gereja di samping Balaikota Solo. Jadillah setiap pulang sekolah dia melihat ‘ orang-orang hasil tangkapan yang dibariskan di terik matahari di halaman balaikota yang beraspal dijadikan tontonan. “Di pepe” istilah jawanya.

Topik obrolan anak-anak kala bermain pun pada saat itu menjadi bergeser ke soal pencidukan, betapa setelaha da truk tentara terpakrkir di depan kantor lurah, setelahnya anak-anak kampung mulai berhitung ‘ siapa-siapa saja tetangga yang kena ‘ciduk’ : sipil ataupun ”Tentara Semangka” istilah pada waktu itu. Tentara yang dianggap Pro PKI  Luarnya “Hijau” tapi dalamnya “merah”. ”Semua hal itu hanya bisa disaksikan oleh Nik dengan beragam pertanyaan dan keheranan yang pada waktu itu sama sekali dia tidak mengerti.

Tokoh Nik kecil dalam novel ini bisa dibandingkan dengan “Budi” salah satu tokoh di Film Dokumenter “40 years of Silence” yang disutradarai Robert Lemelson.

Tidak sama persis memang , kalau Budi adalah anak seorang eks tapol yang lahir jauh setelah peristiwa 1965, Orang tua Nik pada novel ini justru ‘bersih’. Saudara laki-lakinya lah yang dianggap ‘simpatisan” sampai akhirnya harus ikut  “ke tanah sebrang”.(Buru-red)

Dengan cara berbeda peristiwa 1965 mempengaruhi keduanya, Nik pada novel ini tidak mengalami diskriminasi dan olok-olok dari teman-temannya. Budi sebaliknya, karena diskriminasi dan teror sampai harus tinggal dan ditampung di Panti Asuhan dan  ’memendam dendam’ atas perlakuan terhadap keluarganya sampai saat dia menjelang dewasa.

Buat Nik, ‘kenangan pada peristiwa ‘pencidukan akhirnya membuatnya bersentuhan dengan para aktivis demokrasi yang melakukan ’klandestain’ terhadap rezim yang berkuasa pada waktu itu. Termasuk pertemanannya dengan “Si Gagap Penyair Dari kampung Tetangga” yang jelas merujuk ke sosok Wiji Thukul.

Pada akhir Novel , Nik menemukan akhir ‘pencariannya’terhadap beberapa hal yang tidak dia mengerti sewaktu kecil dan juga ikatan moril dengan swargi ibunya yang pada akhirnya membawanya untuk mengetahui bagaimana nasib Bu Arum tetangga sahabat ibunya.

‘Jalan yang ke kiri akan membawa mereka ke arah penjara sedangkan jalan yang ke kanan ke arah kebun karet – Musim Gugur Kembali di Connecticut, Umar Kayam.

(catatan penulis : lelaki itu digiring ke kebun karet, ia tahu sedang menghadapi akhir kehidupan ………. )

Kutipan sebelum Bab penutup ini seakan ingin mempertegas bagaimana ‘Candik ala 1965’ terjadi di bumi ini.

Review buku ditulis oleh Nugroho, kontributor Rumah Baca

1 Response to “Candik Ala”


  1. 1 eL Monday, February 11, 2013 at 6:28 pm

    Mau nanya, apa judul film dokumenter yang di buat sama Tinuk Yampolsky…?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: