Kisah Cinta Enrico

“Cinta tak perlu diuji atau dikatakan. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika memang mau tumbuh.”

Ayu Utami, “Cerita Cinta Enrico”, (KPG: 2012) halaman 145.

Dengan lincah Ayu Utami memainkan piano. Malam itu, bertempat di Kafe Tjikini Ayu mengiringi lima pembaca novel. Jumat 17 Februari 2012, Ayu Utami mengundang para sahabat dan kawan–kawan terdekatnya hadir dalam Soft Launching Novel Cerita Cinta Enrico karyanya. Sebelumnya, Ayu Utami mengumumkan kepada kawan–kawan yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Membaca Sastra (GIMS) untuk hadir sekaligus membaca nukilan dari cerpen barunya.

Meskipun Ayu mengaku jarinya tidak selincah dulu, akibat sering memanjat tebing, nyatanya Ayu mampu memukau kami yang hadir. Ia nampak bahagia memainkan lagu yang diciptakan oleh keponakannya, terlebih lagi, Enrico, Rico yang kemudian disapa Eric sang tokoh dalam novelnya turut hadir.

Ketika nukilan tentang peristiwa mencelikkan burung dibacakan, kami sontak tertawa. Agar diterima sebagai anak asrama, anak–anak kolong Belakang Tangsi, Enrico harus melalui beberapa tahapan ujian.  Yang kemudian membuat dirinya tertegun dan senang mencelik–celikkan kepala unggas kecilnya (Bagian Ujian, halaman 82)

Enrico, dikisahkan lahir bersamaan dengan sebuah pemberontakan di Padang. Revolusi yang dikenal sebagai pemberontakan PRRI pada tanggal 15 Februari 1958. Ayah Enrico, Muhamad Irsad adalah seorang letnan yang bertugas di bagian keuangan. Ayahnya tidak memiliki pilihan selain mendukung revolusi yang dinyatakan di Sumatera Barat itu. Sang Ibu Syrnie Masmirah, yang baru saja melahirkannya, membawa serta kakak perempuannya, Sanda, ke dalam hutan. Bentuk kaki Enrico di kemudian hari, ditentukan oleh bentuk revolusi bagi ayahnya. Sebuah revolusi kaki kurus, pemberontakan kaki kurus, sebagaimana bentuk kaki Enrico. Di hari kedua hidupnya, Enrico telah menjadi anak dari keluarga gerilya.

Enrico, bayi yang masih merah itu, sungguh kelaparan. Seperempat puting kiri ibunya pun ditelannya. Hampir tak ada persediaan makanan yang mengakibatkannya air susu ibunya tak lancar. Pasukan Ahmad Yani berhasil menghancurkan Pemberontakan PRRI tersebut, termasuk melucuti pangkat ayahnya. Beruntung Muhamad Irsad kembali bertugas, meski tanda pangkat telah lepas dari baju ayahnya, Ibunya tetap menyambut ayahnya dengan langkah mantap. Betis yang mengayun dari balik rok, jauh berbeda dengan kaki kurusnya.

Enrico begitu kagum dengan ibunya, bersama ayahnya, mereka bertiga melewatkan waktu bersama. Namun, Sanda, baginya sebuah kisah kematian yang tak ia ingat betul. Sanda meninggal karena penyakit asma. Bagi ibunya, kematian itu tak mungkin terjadi jika ayahnya tidak mengajaknya dan Sanda bermain di pantai. Ibunya memendam kepedihannya dalam– dalam.

Sikap Ibunya berubah ketika mengenal dan aktif sebagai saksi Yehuwa. Sebuah keyakinan tentang hari kiamat, hari penantian yang kemudian diyakininya sebagai perjumpaan dengan Sanda. Syrnie sebelumnya adalah seorang Katholik, menikah dengan Muhamad Irsad yang berketurunan Madura dan beragama Islam. Pernikahan beda agama keduanya ditentang oleh keluarga besar Irsad di Madura. Maka mereka memilih menjauh, pergi ke Padang dan membangun rumah tangga. Syrnie Masmirah, terlahir dari istri pertama seorang pedagang di Kudus. Kehadiran istri kedua, membuat Sarah, Ibu Syrnie memilih meninggalkan suaminya. Ia pergi membawa serta semua anak perempuannya ke Semarang, kemudian menjadi pengikut Kristus.

Enrico sulit membatah kemauan ibunya, bahkan untuk mendapatkan kesenangan menonton bioskop atau sekedar bermain dengan kawan–kawan. Enrico harus mengerjakan pekerjaan rumahnya hingga selesai. Masa kanak–kanak Enrico, dilaluinya dengan tanggungjawab besar, saat ibunya mengalami pendarahan, ia lah yang merawat ibunya. Namun, bagi ibunya, tidak ada hal yang ia banggakan dari Enrico. Baginya, dalam dirinya hanya Sanda. Hanya tentang hari kiamat yang diperkirakan datang pada tahun 1975, sebagaimana keyakinan kaum Yehuwa saat itu.

Enrico, kemudian memperoleh tiket kebebasannya untuk berkuliah di ITB Bandung. Jauh dari Ibunya, jauh dari kewajiban melakukan siar. Tiket kebebasan ditukarnya dengan baptisan dirinya sebagai saksi Yehuwa. Berbeda dengan ayahnya, tanpa harus sedemikian keras seperti ibunya,  ia telah membebaskan anaknya menentukan pilihan. Demikianlah Enrico yang memilih kebebasannya, yang membawa dirinya pada sebuah lakon yang tidak pernah ia sangka, bahwa dirinya akan menjadi seorang juru foto. Fotografer.  Bukan seorang sarjana dari Universitas ITB.

Tentang perjumpaan Enrico dengan A di Teater Utan Kayu (TUK), dimulai pada bagian ketiga, Cinta Terakhir. A memang bukan satu–satunya wanita yang pernah ia singgahi. Sebelum Enrico menjadi yatim piatu, ia memiliki banyak teman wanita, sekaligus teman tidur siangnya. Awal kedekatan Enrico dengan A, saat A memintanya membuat foto nude. Enrico yang saat itu sedang merindu kekasih, melihat A, seperti sosok ibunya, memiliki kaki indah, memiliki pancaran kedewasaan dan kokoh.

Ayu Utami kembali memainkan piano, saat akhir nukilan dibacakan. Dimas Hary yang bertugas sebagai Master of Ceremonies (MC), kemudian menggoda Enrico yang katanya malu diantara sahabat Ayu. “Mana nih Mas Enrico, Mas Eric, ke depan dong”. Malam itu, Ayu Utami juga telah menyiapkan kue ulang tahun buat Enrico. Ketika lilin–lilin dinyalakan, semua bernyanyi membuat bahagia keduanya yang telah menjadi sepasang suami istri itu.

Cerita Cinta Enrico mampu memberikan cerita yang memilki kedalaman jiwa. Kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga reformasi. Setiap bagian dalam ini diceritakan Ayu Utami dengan hati, menceritakan tentang dirinya dengan Enrico, tentang kisah cintanya, dalam dan hangat. Tak hanya tentang Enrico kecil, dewasa dan saat ini bersamanya.

Review buku ditulis oleh Inggrid Silitonga.

—————————————————————————————————

Inggrid Silitonga adalah penulis kontributor Rumah Baca dan menjadi salah satu relawan GIMS.  Gerakan Indonesia Membaca Sastra (GIMS) adalah sebuah gerakan bersama yang mencoba menghidupkan kegairahan membaca sastra di kalangan masyarakat luas. GIMS didirikan pada Agustus 2011, merupakan inisiatif Ayu Utami, Indah Ariani dan Olin Monteiro. Kegiatan GIMS dilakukan sambil menikmati sore atau petang di kafe, komunitas sastra, dan ruang-ruang publik lainnya.

2 Responses to “Kisah Cinta Enrico”


  1. 1 indri Tuesday, March 13, 2012 at 10:33 pm

    kisah percintaan enrico yang menarik…pingin lebih jauh membaca ttg masa kecil enrico… menarik untuk dipelajari…

  2. 2 IRMHA Thursday, January 2, 2014 at 2:50 am

    cerita ini menarik untuk dikaji menggunakan te0ri psikoanalisis..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: