The Last Narco

Cover buku "The Last Narco" (Serambi: 2011)

Ingat film Spiderman IV? Dalam film itu Spiderman memiliki 2 karakter: baik dan jahat. Karakter jahat direpresentasikan dengan karakter ”Black Spiderman.” Celakanya, dalam sebuah tontonan, karakter jahat justru lebih disukai. Tengoklah film-film keluaran Hollywood. Film laris biasanya punya karakter jahat di dalamnya, seperti American Gangster, God Father, atau Silence of the Lamb.

Buku “The Last Narco” (Serambi: 2011) yang ditulis oleh wartawan kawakan Malcolm Beith ini juga mengupas sosok jahat dan paling dicari di dunia: gembong narkoba, “El Chapo!”

Mengapa sebagian besar dari kita lebih suka membaca buku atau menonton film dengan karakter jahat di dalamnya? Jawaban paling mendasar dari pertanyaan ini barangkali kita ingin menelisik mengapa seseorang bisa menjadi jahat? Sama sekali bukan untuk meniru karakter jahatnya.

Tapi sehabis membaca buku ”The Last Narco” ini saya justru menangkap perspektif lain dari sebuah panggung kehidupan. Sang gembong narkoba yang paling dicari di dunia ini sebenarnya adalah sosok yang jujur dengan keberadaannya di dunia. El Chapo dengan terang-terangan menunjukkan kepada dunia, bahwa dia memang gembong narkoba. Sosok ini berseberangan dengan para sipir penjara, politisi, penguasa, atau agen DEA sekalipun. Mereka adalah sosok munafik bin hipkorit yang kelihatan bersih di luar tapi di balik itu mereka tangannya berlumuran darah. Mereka adalah manusia-manusia korup, yang justru hidup dari narkoba, sesuatu yang seharusnya mereka perangi. Lembaran dolar telah menyilaukan nurani mereka. Dan itu tak hanya terjadi di Mexico. Jangan kaget kalau kebobrokan moral itu juga terjadi di Indonesia. Jangan pula kaget kalau di depan sebuah diskotik terpampang banner dengan tulisan ”Mari kita berantas narkoba!” Padahal tulisan itu dibuat oleh mereka yang justru memperdagangkan narkoba di dalam diskotik itu!

El Chapo, atau dalam bahasa Mexico artinya si cebol, adalah sosok multi dimensi. Nama aslinya adalah Joaquín Archivaldo Guzmán Loera, berasal dari keluarga petani miskin di Sinaloa, Mexico Barat Laut. Sebagai gembong narkoba, dia telah melampaui ujian untuk menjadi seorang pemimpin. Dia adalah sosok yang tegas dan berdisiplin tinggi. Siapapun yang mencoba mengkhianati atau mencurangi dia, langsung ditembak mati. Tapi El Chapo juga sosok romantis. Ada lusinan perempuan-perempuan disekeliling dia. Untuk merayu perempuan-perempuan itu, tak segan-segan El Chapo mengirim puisi (yang ditulis oleh ajudannya), buket bunga mawar, atau lembaran cek.

El Chapo juga sosok yang licin bagai belut. Ketika dipenjara di Puente Grande, Guadalajara, dengan mudah dia meloloskan diri dengan kereta binatu, dan hingga kini menjadi buronan kelas dunia.

Buku ini bukan sekedar mengupas satu sosok manusia, sang gembong narkoba, tapi juga keboborkan sistem hukum, birokasi dan korupsi yang telah menggurita di mana-mana.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

0 Responses to “The Last Narco”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: