Gadis Kretek

Cover novel "Gadis Kretek" by Ratih Kumala (Gramedia: Maret 2012, 274 halaman)

Novel Gadis Kretek ini mengesankan bagi saya. Kisah roman dengan latar belakang kelahiran dan jatuh bangunnya salah satu agro-industri bangsa kita, yaitu kretek. Mengingatkan saya pada “Canting“, novel Arswendo A yang berlatar kehidupan pengrajin batik, “Madre” yang berlatar industri roti dan “Filosofi Kopi“nya Dewi Lestari, atau bahkan “Bumi Manusia” nya Pram yang berlatar pabrik gula.

Gadis Kretek dibuka dengan episode menjelang kematian raja kretek pendiri dan pemilik Kretek Djagad Raja (baca: jagad raya). Dalam keadaan sekarat, raja kretek yang dipanggil Romo ini menyebut-nyebut nama “Jeng Yah” (jeng = adik, bhs. Jawa Tengah). Yang membuat istrinya marah (cemburu), dan ketiga anaknya, – Tegar, Karim dan Lebas (aku) – penasaran.

Ketiga anaknya memutuskan untuk mencari tahu siapa “Jeng Yah” itu dengan melakukan perjalanan ke kota asal kerajaan kretek mereka di Kudus dan Kota-M di Jawa Tengah. Plot cerita mengalir flash-back ke asal-muasal berdirinya dinasti Kretek Djagad Raja dan misteri “Jeng Yah.”

Roman dimulai dengan kisah dua pemuda, Idroes Moeria dan Soejagad rekan sekerjanya, di perusahaan rokok kecil di kota kecil M (nama disingkat membuat penasaran). Keduanya naksir cewek yang sama, Roemaisa. Persaingan yang akhirnya berkembang multidimensi, ya pribadi ya bisnis, hingga keturunan mereka.

Persaingan remaja dimenangkan oleh Idroes yang berhasil meminang Roem. Idroes juga berhasil lebih dulu mendirikan perusahaan kretek, karena rajian menabung dia lebih cepat membeli stok tembakau milik juragannya saat Jepang masuk. Namun, tragedi terjadi pada pengantin baru dan perusahaan Klobot Joyoboyo yang baru ini, saat Idroes diculik Jepang. Sementara itu, Soejagad pesaingnya juga membuka usaha yang sama dengan merek Klobot Djagad. Dia mencoba-coba menggoda Roem, yang suaminya tak ketahuan nasibnya.

Ternyata Idroes selamat dan pulang, setelah Jepang kalah perang. Indonesia Merdeka. Dengan psikologi “bebas dari kamp konsentrasi Jepang” dia ubah nama Klobot Djojobojo dengan “Kretek Merdeka.” Ini untuk menyambut momentum kemerdekaan, dan inovasi dari “klobot” (tembakau, cengkih dibalut kulit jagung) ke “kretek” (tembakau, cengkih, “saus” dibalut kertas papier). Idroes memang inovatif. Tapi ternyata Soedjagad juga bisa mengikuti jejak saingannya ini dengan meluncurkan “Kretek Proklamasi”

Kegemasan, ketegangan pembaca tercipta selama mengikuti kronik persaingan antara dua brand atau dua keluarga, Idroes vs Soedjagad, hingga keturunannya.

Idroes dan Roem dikaruniai dua anak perempuan. Dasiyah dan Rukayah. Idroes  sesungguhnya mendambakan anak laki-laki yang bisa diharapkan jadi penerusnya. Tapi Dasiyah walau perempuan ternyata menunjukkan bakat kuatnya di”kretek”. Ini terbukti dengan inovasi lintingan “tingwe“nya yang sangat disukai Idroes. Dia banggakan “tingwe” Dasiyah kepada kolega dan tamu-tamu istimewanya. Dan, semua ahli kretek itu terkesan, sehingga tak jarang yang menwarkan kongsi untuk mengembangkan “resep saus” Dasiyah.

Persaingan usaha mengundang inovasi terus menerus. Idroes terus menerus mengembangkan merk alternatif, sampai Dasiyah perlu mengingatkan pentingnya fokus di satu-dua merk. Salah satunya “Kretek Gadis” yang bungkusnya seperti pada sampul buku.

Kisah berlanjut pada generasi Dasiyah, sang gadis kretek yang mengelola merk Kretek Gadis dalam estafet usaha. Bagaimana dia bertemu pemuda Soeraja yang menjadi pujaan hatinya? Bagaimana hubungan “Kretek Gadis” dengan “Kretek Djagad Raja” yang disebut di depan? Bagaimana akhir perjalanan tiga pemuda Tegas, Karim, dan Lebas menguak misteri “Jeng Yah”? Tentu tak elok saya ceritakan semua disini. Sila baca bukunya.

Asyiknya membaca novel yang dimulai kilas balik adalah misteri. Apalagi kalau fakta akhir yang diungkap juga sangat terbatas. “Jeng Yah”, siapa dia, mengapa diakhir hayatnya sang raja kretek menyebut-nyebut namanya. Tebak-menebak, ketegangan harap-harap cemas, terjadi di pikiran kita selama membaca.

Gadis Kretek dikisahkan dalam 15 Bab yang masing-masing diberi judul merek, jenis  kretek atau nama tokohnya. Yang sedikit menyulitkan dalam mengikuti ialah karena kisah ini melintas tiga generasi dan banyaknya banyaknya nama tokoh yang mesti ditebak sebagai “lakon/pelaku utama.”

Sungguh nikmat mengikuti  kisah romansa, persaingan, cemas dan tegang, apalagi melintas dua tragedi, masa penjajahan Jepang dan peristiwa G30S/PKI yang dampaknya besar bagi kehidupan tokoh-tokoh dalam cerita.

Sedikit kekurangan dari novel ini ialah kurang diperkuatnya pergulatan bathin tokoh-tokohnya. Akibatnya konflik-konflik dan keputusan yang diambil oleh tokoh yang berkonflik “cukup logis” tapi seharusnya bisa lebih “mencemaskan atau menegangkan,” serta menegaskan nilai moral yang mau ditonjolkan. Sebaliknya dialog antara Mas Tegar, Karim dan Lebas (aku) agak berlebihan upaya menonjolkan karakter dalam dialog-dialog yang gak penting, padahal ternyata ketiga figure ini hanya pengantar cerita. Kharisma legenda Sang Gadis Kretek juga masih bisa diperkuat dan dibuat lebih berwibawa lagi.

Saya senang membaca novel ini karena bisa melacak sedikit kisah perjalanan produk yang bisa melintas generasi. Seandainya banyak usaha rakyat di Tanahair yang sampai turun temurun seperti ini, niscaya akan ada merk lokal yang mendunia. Saya jadi pengen baca “Kronik Betawi,” novel Ratih Kumala yang sebelumnya.

(Review buku oleh Risfan Munir, penulis buku “Manajemen Apresiatif”, Kaifa-Mizan, 2011). www.manajemenapresiatif.blogspot.com, twit:@masrisfan.

2 Responses to “Gadis Kretek”


  1. 1 sinarbuku Friday, April 6, 2012 at 9:20 am

    membaca resensinya seru juga. Mungkin bisa jadi masukan buat saya yg sdang nulis novel.trims resensinya kang

  2. 2 Inggrid Silitonga Monday, April 30, 2012 at 4:57 pm

    Hukumnya wajib ini. Beli bukunya..untuk mengetahui siapa Jeng Yah….Kisah ini mengingatkan saya pada Novel Arswendo Atmowiloto “Dewi Kawi”. Resensi yang memikat Pak. Saya suka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: