Aku Ingin Jadi Peluru

Sejujurnya saya tidak selalu bisa menikmati saat membaca puisi, tetapi membaca kumpulan puisi Wiji Thukul, “Aku Ingin Menjadi Peluru” (Indonesia Tera: 2004) saya sungguh bisa sangat menikmati.

Sebagian besar dari kita pasti mengenal kalimat pendek petikan dari sajak perlawanan ini “Hanya ada satu kata: lawan!” Bahkan kalimat pendek tersebut jauh lebih dikenal daripada penyairnya sendiri. Puisi ini ditulis oleh Wiji Thukul pada tahun 1986, atau lebih dari satu dekade sebelum reformasi.

Bisa dimengerti, bahwa sudah sekian lama Wiji Thukul memendam keresahanya pada keadaan di sekelilingnya, hingga pada akhirnya dia mengambil pilihan untuk ”melawan.” Sebuah pilihan yang menjadikannya sebagai korban asap politik. Munir menyatakan bahwa ”Hanya satu kata: lawan!” telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. Munir juga yang menulis esai pengantar untuk kumpulan puisi Wiji Thukul ini. Dalam kalimat penutup pengantarnya Munir menyatakan bahwa Thukul adalah guru bersama untuk melawan ‘penghilangan orang.’ Dan ironisnya, Munir sendiri akhirnya juga ‘dihilangkan”.

Namun berbeda dengan Thukul yang sampai sejauh ini tidak jelas di mana berada, entah sudah meninggal (ini yang diyakini oleh sebagian besar orang) atau masih hidup …?? Sampai saat ini belum jelas 100%, karena kalau memang meninggal, toh sampai sekarang juga tidak jelas di mana jasadnya berada.

Kumpulan puisi ini menampilkan sosok kepenyairan Wiji Thukul secara lengkap dalam 5 sub kumpulan : Lingkungan Kita Si Mulut Besar, Ketika Rakyat Pergi, Darman Dan Lain-Lain, Puisi Pelo, Baju Loak Sobek Pundaknya, serta diakhiri dengan Puisi dari Putri Wiji Thukul, serta wawancara dengan Thukul. Kumpulan terakhir merupakan puisi-puisi yang ditulis Thukul semasa dalam pelarian pasca 1 Agustus 1996.

Membaca puisi–puisi Thukul seperti melihat sinetron di mana tokoh utamanya adalah wong cilik. Ada rintihan orang kecil yang resah, gelisah, dan takut. Dan tak lupa, selalu ada suami–istri yang bertengkar (seperti di sinetron TV kita saat ini) karena uang beras belum ada, uang SPP tidak punya, tukang becak yang makin tergusur dll. Terasa ada nuansa perlawanan dan anti kemapanan yang kuat hampir di semua puisinya.

Sepertinya buku ini merupakan dokumentasi penting era reformasi. Apalagi seperti yang disampaikan oleh penerbitnya, bahwa ini bukan merupakan pekerjaan mudah untuk mengumpulkan semua puisi Wiji Thukul dalam sebuah buku, yang pada umumnya puisi-puisi Thukul itu tersebar di berbagai tempat, Menjadi penting karena Wiji Thukul sendiri kurang dikenal dibanding dengan beberapa politikus/ aktivis alumni reformasi 1998. Padahal jauh sebelum itu dia sudah melakukan perlawanan. Perlawanan wong cilik. Seperti tema utama keseluruhan puisinya yang ironisnya berujung pada ‘hilangnya” Thukul.

Sebuah kehilangan yang sunyi,…

Review buku oleh Nugroho, Kuntributor Rumah Baca, tinggal di Kupang, NTT

1 Response to “Aku Ingin Jadi Peluru”


  1. 1 jamal Tuesday, April 24, 2012 at 3:23 pm

    oh kemana kah penyair kita menghilang?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: