Tawanan Benteng Lapis Tujuh

Cover Tawanan Benteng Lapis Tujuh (Zaman: 2011)

Ibnu Sina, orang barat mengenalnya dengan Avicenna. Dia adalah seorang filosof, dan juga ahli dalam ilmu kedokteran. Pemikiran-pemikiran Ibnu Sina banyak menggilhami ilmuwan-ilmuwan. Bahkan bukunya yang sangat terkenal Al-Qanun fi at-Thibbi dan As-Syifa sampai sekarang masih menjadi salah satu buku rujukan yang harus dibaca oleh para mahasiswa-mahasiswa kedokteran di Eropa.Dalam novel biografi Ibnu Sina yang berjudul Tawanan Benteng Lapis Tujuh karya Husayn Fattahi (Zaman: 2011) menceritakan kronologis kehidupan Ibnu Sina mulai sejak kecil hingga kematianya. Ibnu Sina lahir di Asyfana, ayahnya bernama Abdullah, ibunya bernama Sattrah dan adiknya bernama Mahmud. Pada saat usia Ibnu Sina lima tahun ayah Ibnu Sina (Abdullah) bersama keluarganya pindah dari Asyfana ke Bukhara. Di Bukhara ayahnya mendapatkan pekerjaan yang terhormat di pemerintahan Nuh ibn Manshur as-Samani. Ketika sudah dewasa Ibnu Sina dijuluki dengan sebutan Syaikh ar-Rais (syaikh tertinggi) julukan ini menggambarkan bahwa Ibnu Sina memang sangat cerdas dan menguasai begitu banyak ilmu secara mendalam.

Sebelum mukadimah dalam buku ini, ada sebuah gambar peta tentang pelarian Ibnu Sina. Hal ini mengambarkan bahwa kehidupan Ibnu Sina sangat keras dan penuh dengan cobaan. Pada setiap pelarian dirinya, ia selalu mencoba untuk selalu berkarya. Bahkan beberapa bukunya ditulis pada saat ia melarikan diri.

Pada usia masih dini, Ibnu Sina berguru pada Syaikh Nawahi. Suatu ketika Syaikh Nahawi berkunjung kerumah Abdullah (ayah ibnu sina) dalam kunjungan tersebut Syaikh Nahawi memberi tahu bahwa tugasnya sebagai guru Ibnu Sina sudah selesai. Karena Ibnu Sina masih umur sepuluh tahun sudah hafal Al-Qur’an, sudah mempelajari Nahwu-Shorof, ilmu mantiq dan ilmu bayan.

Setelah berguru dengan Syaikh Nahawi, ayah Ibnu Sina menemui Syaikh Massah, dan meminta Syaikh Massah untuk mau menjadikan Ibnu Sina sebagai muridnya. Tidak lama setelah berguru, Syaikh Massa menyerah untuk menjadi guru Ibnu Sina, bukan karena apa-apa. Syaikh Massah menyerah untuk menjadi guru Ibnu Sina, karena Ibnu Sina sudah menyerap semua ilmu-ilmu yang telah diajarkannya.

Setelah Ibnu Sina berguru pada Syaikh Massah, Ibnu Sina berguru pada Syaikh an-Natili. Pada Syaikh an-Natili Ibnu Sina belajar tentang filsafat dan  hikmah.  Ibnu Sina mampu menyelesaikan masalah-masalah yang sulit yang terdapat pada filsafat yang mana masalah-masalah  tersebut belum pernah terselesaikan oleh murid-murud Syaikh an-Natili yang terdahulu.

Setelah selesai berguru pada Syaikh an-Natili, Ibnu Sina tidak berguru pada seorang syaikh lagi, akan tetapi kehidupan keseharian  Ibnu Sina dihabiskan untuk membaca dan mencari ilmu secara mandiri. Pada masa-masa itu Ibnu Sina mulai tertarik dan mulai mempelajari ilmu kedokteran.

Pada saat ibunya, Sattarah, sakit,  dokter-dokter lain tidak mampu menyembuhkanya. Di saat itulah Ibnu Sina memintah izin kepada ayahnya untuk menggobati ibunya. Ayah Ibnu Sina kaget dengan permintaan Ibnu Sina. Pada mulanya ayah menolak Ibnu Sina untuk menggobati ibunya, akan tetapi Ibnu Sina mendesak ayahnya untuk mengizinkan mengobati ibunya. Dengan berat hati ayahnya mengizinkan Ibnu Sina untuk mengobati ibunya. Setelah Ibnu Sina menggobati ibunya, sakit panas ibunya berangsur-angsur turun dan akhirnya sembuh.

Kabar keberhasilan Ibnu Sina mengobati ibunya mulai menjadi omongan tetangga-tetanga sekitar, bahkan Ibnu Sina mulai menjadi bahan omongan orang-orang sampai di pinggiran kota.

Pada suatu ketika ada tetangga Ibnu Sina yang bernama Salwa memintah tolong kepada Ibnu Sina untuk mengobati suaminya yang telah lama sakit. Pada awalnya Ibnu Sina tidak mau, karena Ibnu Sina pada waktu itu masih belum merasa sebagai dokter, akan tetapi karena dorongan dari ibunya, Ibnu Sina mau menggobati suami Salwa (Abu al-Husayn), karena Abu al-Husayn sudah beberapa kali didatangkan dokter tetapi penyakitnya tidak sembuh-sembuh, malah menjadi semakin  parah. Ibnu Sina mulai mencoba untuk mendiagnosa penyakit Abu al-Husayn, kemudian meracik sebuah ramuan pengobatan. Setelah obat itu diminum secara rutin  oleh Abu al-Husayn, Abu al-Husayn mulai berangsur-angsur sembuh. Setelah sembuh Salwa memberikan hadiah kepada Ibnu Sina sebuah kalung kristal kecil berwarnah biru. Ibnu Sina mau menerima hadiah tersebut, dan Ibnu Sina berjanji akan selalu menjaga hadiah tersebut sampai akhir hidupnya.

Kabar keberhasilan Ibnu Sina berhasil menyembuhkan Abu al-Hasayn yang telah lama sakit mulai menyebar di kota Bukhara, dan Ibnu Sina menjadi semakin tersohor. Dari keberhasilan tersebut Ibnu Sina diminta untuk menjadi salah satu dokter di rumah sakit kota Bukhara. Ibnu Sina mau menerima tawaran tersebut. Pada saat bekerja di rumah sakit kota itu, Ibnu Sina berteman baik dengan Abu Sahal, pertemanan mereka sangat erat, hinggah sampai akhir hayat.

Terdengar kabar bahwa Raja Isfahan yakni Raja Nuh II mengalami sakit. Penyakit raja menjadi sangat parah karena dokter pribadi raja salah mendiagnosa penyakit raja. Maka dipanggillah Ibnu Sina untuk menyembuhkan raja. Setelah raja sembuh, Ibnu Sina mendapatkan hadiah yang sangat besar, yakni raja memberikan seluruh kekayaan Isfahan, akan tetapi Ibnu Sina menolak hadiah tersebut, karena dinilai hadiah tersebut teralalu besar. Ibnu Sina hanya meminta hadiah dari raja supaya ia diizinkan setiap hari untuk masuk ke perpustakaan kerajaan, perpustakaan Samaniyah.

Setelah Raja Nuh II meninggal dan digantikan oleh putranya, Ibnu Sina difitnah oleh salah satu pejabat tinggi istana kerajaan karena mempunyai sifat iri kepada Ibnu Sina yang semakin tersohor. Ibnu Sina terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Dalam pelarian diri tersebut Ibnu Sina ditemani oleh sahabatnya yang sangat setia yakni Abu-Sahal. Akan tetapi ketika melewati padang Gurun Sahara, Abu Sahal tewas karena tidak kuat dengan terjangan badai gurun padang pasir.

Ujian Ibnu Sina tidak berhenti di situ saja. Ketika Ibnu Sina menjabat sebagai perdana mentri di pemerintahan Syams ad-Daulah di kerajaan Hamdan, Ibnu Sina nyaris terbunuh karena kebijakan Ibnu Sina bertentangan dengan angkatan bersenjata.

Cobaan Ibnu Sina yang paling berat adalah pada masa kekuasaan Ala-ad-Daulah. Ibnu Sina harus dijebloskan di penjara tujuh lapis karena dianggap merampas budak Taj Malik, yang mana budak tersebut sekarang menjadi istri Ibnu Sina. Namun di dalam penjara yang sangat dingin dan dalam kondisi kekalutan itu, Ibnu Sina berhasil menyelesaikan buku Magnum Opus-nya Al-Qanun fi at-Thibbi dan As-syifa.

Kekurangan dari buku ini adalah sebagai mana novel yang berasal dari daerah timur tengah kurang menampilkan ciri-ciri fisik sang tokoh dalam novel. Misalnya Ibnu Sina itu berbadan tegap, kurus, atau gemuk? Beramput ikal atau lurus? Mempunyai wajah yang tampan atau kurang tampan? Sehingga yang membaca novel ini kurang bisa membayangkan secara imajiner sosok Ibnu Sina, meskipun pada sampul buku ini ada ilustrasi sosok Ibnu Sina. Akan tetapi hal tersebut belum cukup mewakili sosok bentuk Ibnu Sina.

Sangat asyik membaca buku ini, karena buku ini menceritakan perjuangan seorang ilmuan hebat yang mempunya semangat yang kuat untuk berkarya serta mengambarkan kegigihanya dalam menghadapi berbagai masalah. Buku ini bisa membakar semangat pembacanya untuk selalu semangat belajar dalam kondisi apapun.

Jadi, bagi anda penggemar Ibnu Sina, sangat sayang jika Anda melewatkan buku ini.

Review novel oleh A. Faisol Haq, kontributor Rumah Baca. Lahir di Surabaya. Peminum kopi di kantin kampus bersama teman-temanya, sambil sesekali mendiskusikan topik-topik filsfat yang kalau semakin dipikir semakin ruwet saja.

3 Responses to “Tawanan Benteng Lapis Tujuh”


  1. 1 jamal Friday, April 27, 2012 at 1:03 pm

    Bagi Anda yang menggunakan alasan ‘keterbatasan’ sebagai penghambat dalam berprestasi, bacalah kisah dari Ibnu Sina (Avicena) ini, Beliau telah membuktikan bahwa ternyata karya monumental tak (harus) dihasilkan dengan kenyamanan, tapi dalam keterhimpitanpun beliau mampu.
    Kisah yg inspiratif dr ulama islam yg tersohor dari timur hingga ke barat.

  2. 2 faisol2haq Sunday, April 29, 2012 at 7:04 pm

    semoga ini bisa menyemanggatiku untuk terus berkarya, terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: