Proses Kreatif Menulis Cerpen

Cover buku “Proses Kreatif Menulis Cerpen” oleh Hermawan Aksan (Penerbit Nuansa, bandung: 2011)

Tidak bisa disangkal lagi bahwa Membaca dan Menulis merupakan modal paling utama untuk menjadi seorang penulis. Jika seseorang yang ingin menjadi penulis tapi tidak suka membaca, maka dapat dipastikan karya yang ditulis akan dangkal. Sedangkan jika hanya senang membaca tanpa pernah menulis, maka impian menjadi seorang penulis hendaknya dikubur saja.

Begitu juga Hermawan Aksan, membaca baginya adalah kebutuhan, dalam bab kesembilan belas (Membaca Itu Bernapas), Hermawan menulis: “Membacalah, maka akan kautemukan banyak sumber ide bagi penulisan. Tulisan akan bertambah kaya. Gaya tulisan akan terasah (hlm. 158).”

Kepada para calon penulis cerpen, buku ini ditujukan dan direkomendasikan. Karena selain akan diajarkan bagaimana menulis cerpen yang baik, buku ini juga memuat banyak cerpen yang sangat bagus untuk dijadikan “bahan bacaan” yang bergizi untuk menyegarkan dan memperkaya ide untuk menulis. Ada sekitar sebelas cerpen dalam buku ini—tiga cerpen mini, dua cerpen Hermawan Aksan sendiri dan enam cerpen penulis lain. (ada cerpennya O Henry yang sangat legendaris juga loh!)

Bagaimana dengan teori ataupun kiat menulis cerpennya? Tentu saja juga ada, malah lumayan lengkap dan dengan mudah dimengerti karena ditulis dengan bahasa yang sederhana. Mulai dari bagaimana menggali ide, mengenal unsur-unsur fiksi, menjaring tema dan topik, mencari judul, menyusun plot, membuka dan menutup cerita, memilih diksi, menyunting, sampai tips agar mudah diterima redaksi.

Hermawan Aksan yang sebagai redaktur Harian Tribun Jabar, banyak memberikan bocoran tentang pertimbangan kebanyakan redaktur dalam memilih cerpen, mengapa sebuah naskah dimuat dan tidak. Penulis juga memberi saran bagaimana memperkaya isi cerita dan juga memberi tahu apa saja kesalahan-kesalahan penulis pada umumnya.

Kesalahan-kesalahan yang biasanya dilakukan itu adalah menunda-nunda waktu penulisan, menuliskan kata-kata yang rumit padahal sebenarnya bisa dituliskan dengan bahasa yang lebih sederhana, menjelaskan dengan bahasa yang terlalu berbunga, berhenti di tengah jalan, cepat menyerah dan menunggu waktu yang tepat untuk menulis padahal menulis bisa kapan saja.

Kemudian biasanya penulis pemula akan mengeluh, “Saya ingin menjadi penulis, tapi saya tidak tahu apa yang bisa saya tulis?” Jawabannya bisa dilihat pada halaman 99, Hermawan menuliskan beberapa sumber-sumber ide yang bisa digali seperti Pengalaman Pribadi; Banyak penulis besar yang terpicu membuat karya dari pengalaman mereka, sebut saja Mochtar Lubis, Budi Darma, Ernest Hemingway. Kemudian, ide cerita bisa juga berasal dari Obrolan Dengan Orang Lain seperti cerpen Hermawan yang berjudul “Rose”. Bisa juga ide itu dari Sejarah, Petualangan, bahkan Mimpi, dan lain sebagainya.

Di dalam buku ini Hermawan juga banyak menceritakan perjalanan kepenulisan pribadinya; tentang cerpen pertamanya yang dimuat, buku pertamanya yang terbit, pengalaman menerjemahkan buku, pengalaman menjadi editor dan penyunting buku, pengalaman menulis buku dalam sepuluh hari dan pengalaman menjadi redaktur. Pengalaman-pengalaman ini sangat baik untuk dijadikan pemicu semangat bagi penulis lainnya dan mereka yang bercita-cita menjadi penulis.

Dari pengalaman tersebut Hermawan mengatakan, “Tapi dalam perjalananku, kemudian aku menyimpulkan bahwa, setidaknya, menulis itu tidak sesulit yang dibayangkan. Karena itu, melalui buku ini, aku juga ingin memberikan gambaran bahwa menulis itu bukanlah kegiatan yang rumit. Menulis juga tidak memerlukan bakat besar. Bakat yang biasa-biasa saja punya peluang menjadi penulis. Lagi pula,  siapa sih yang tahu bahwa kita punya—atau tidak punya—bakat menulis? Analogi yang yang paling terkenal adalah ucapan Thomas Alva Edison : 1 persen bakat, 99 persen kerja keras (hal 17).

Sudah banyak buku kepenulisan yang beredar di Indonesia, tapi buku kepenulisan yang mengkhususkan pada cerpen dan ditulis oleh orang Indonesia sendiri tergolong langka. Kita mungkin cuma bisa menyebut buku  seperti Yuk, Nulis Cerpen Yuk oleh Muhammad Diponegoro, Kiat Menulis Cerita Pendek oleh Harris Effendi Thahar, atau Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel karya A.S. Laksana. Dan buku Proses Kreatif Menulis Cerpen karya Hermawan Aksan ini pun telah mengisi kekosongan literatur tersebut. Sebuah karya yang patut diapresiasi.

Jadi tunggu apa lagi? Ingin menulis cerpen? Baca buku ini!

Review buku oleh Jamal Kutubi, kontributor Rumah Baca

7 Responses to “Proses Kreatif Menulis Cerpen”


  1. 1 elvira157 Friday, May 11, 2012 at 4:47 pm

    sering liat covernya, kayaknya kali ini kudu baca isinya deh🙂

  2. 3 faraziyya Saturday, May 12, 2012 at 1:57 pm

    wah, masuk jadi buku2 yg dicari nih buat amunis. hehhe.
    tfs😀

  3. 6 M. Darmawan Wednesday, June 20, 2012 at 3:43 pm

    Buku yang menjadikan saya kian terpacu untuk menjadi seorang penulis atau cerpenis. Trims untuk Bung Redaktur.

  4. 7 yuswinda Saturday, November 8, 2014 at 1:36 pm

    Reblogged this on yuswinda and commented:
    Proses Kreatif Menulis Cerpen


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: