The White Tiger

Apakah kau masih percaya dengan demokrasi? Bukankah itu hanya omong besar belaka?

India selalu digembar-gemborkan sebagai negara paling demokratis di Asia. Karena dengan pluratitas bangsa itu, mampu menyelenggarakan pemilu secara teratur, dan memiliki sistem multi partai. Konsekuensi dari sistem demokrasi multi partai adalah instabilitas politik. Dan yang paling mendasar sebenarnya adalah rakyat marjinal selalu menjadi korban. Demokrasi itu ternyata hanya menjadi barang mainan mereka yang seolah-olah bertikai di elit partai, tapi itu ternyata tak lebih dari praktik dagang sapi. Tawar menawar harga, dan tinggal menentukan siapa yang menang. Siapa dapat apa? Rakyat marjinal tetap saja jadi korban, seperti Balram Halwai, tokoh dalam novel ”The White Tiger” (terjemahan, Sheila: 2010).

Novel yang ditulis oleh Aravind Adiga, pernah menjadi koresponden India untuk majalah Time, merupakan gugatan dan perenungan sang wartawan atas carut marut negerinya, di bawah sistem demokrasi.

Ketika tak ada lagi tempat yang pantas untuk dikeluh-kesahi, maka novel ini kemudian menjadi wahana untuk berutur melalui mulut tokoh Balram Halwai, anak seorang penarik becak, Vikram Halwai, lewat sebuah surat kepada Perdana Menteri China, Mr. Jiabao. Tidak  jelas diceritakan, apa latar belakang surat itu mesti ditujukan kepada PM China. Bukan Presiden Amerika, atau Presiden Indonesia? Tapi mungkin maksudnya Balram hanya ingin menumpahkan kekesalannya atas perilaku bangsa India yang katanya demokratis, tapi justru lebih menyengsarakan rakyat. Ironisnya justru lebih bobrok  daripada China di bawah partai komunis yang otoriter.

Novel ini bertutut dengan sangat jenaka, tapi sekaligus satir. Kita seperti membaca etnografi bangsa India, yang percaya dengan 36 juta dewa-dewi, masih percaya dengan sungai Gangga yang katanya suci tapi telah terpolusi dan berwarna hitam lengket, dan banyak pernak-pernik perilaku bangsa India yang menggelikan lainnya. Ini memang novel muram, tak menyediakan ruang untuk berfikir positif bagi perubahan. Jalan satu-satunya bagi perubahan justru sekalian menjadi seorang pembunuh!

Maka, melalui surat 7 hari-7 malam itu, Balram Halwai, menceritakan rangkaian cerita sejak di sekolah dasar, takut pada kadal, kemudian tumbuh besar sebagai pelayan kedai teh, pemecah batu bara, merantau dari desa Kegelapan Laxmangarh menuju Delhi sebagai seorang sopir pribadi.

Karir sebagai seorang sopir pribadi inilah yang telah membuka matanya dan sekaligus kupingnya dengan segala peristiwa yang dia lihat dan dia dengar dari obrolan orang-orang di dalam mobil Honda City yang dia sopiri.

Analisanya kemudian muncul, dan pada akhirnya Balram menyimpulkan bahwa lingkaran setan kebodohan dan kemiskinan rakyat India karena mereka hidup dalam sistem yang dia sebut sebagai jebakan ”Kandang Ayam.”  Itu artinya masyarakat telah  terjebak dengan kehidupan sehari-hari yang mirip seperti nasib seekor ayam yang menunggu disembelih.  Sebagai korban, maka tak ada lagi kemampuan untuk berontak keluar. Bahkan ketika ada yang mau berontak, justru ada kekuatan dari dalam diri sendiri yang mencegah untuk tidak melakukan perubahan.  Hanya menerima nasib.

Tapi Balram berontak! Dia tak mau jadi korban, tak mau jadi budak. Saatnya untuk berontak. Menjadi Harimau Putih. Menjadi seorang enterprenur sosial, yang berjaya di Bangalore. Cara satu-satunya untuk memutus lingkaran setan itu adalah dengan membunuh majikannya sendiri: Ashok Sharma!

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

6 Responses to “The White Tiger”


  1. 1 Jamal Kutubi Monday, September 3, 2012 at 7:32 pm

    Wau! Review-nya ajib banget!
    nulis review ini mungkin pake tenanga halilintar ya mas?
    aq suka banget novel ini mas, bahasanya jenaka tp penuh taburan metafora yg sangat cerdas!
    Balram hanya ingin merdeka, katanya dia menyesal telah membunuh majikan yg sangat dia hormati itu, tapi setelah kejadian ironis itu, dia merasakan kemerdekaannya.. rasanya berbeda!

    • 2 mashar Tuesday, September 4, 2012 at 8:49 am

      Bikin review buku itu harus komprehensif. Bukan semata-mata menceritakan isi buku, tapi konstelasi lain yang melingkupinya. Aspek yang disorot juga harus luas. Nah, bahan-bahan dasar itu kemudian diolah dalam kalimat, paragraf yang bertenaga, meninggi, dan bikinlah ledekan di akhir kalimat!

  2. 3 fujianti312 Friday, September 21, 2012 at 8:03 pm

    Wah ternyata dan ternyata , India dan Indonesia hampir sama rupanya, ehmmm apa hampir semua negara juga mengalaminya (atau hampir pernah)?hemmm seru juga nih novel, Novel ttg Politik sepertinya sedikit ya negara kita… mungkin salah satu contohnya yg pernah saya liat (belum membaca nya) novel karya tere Liye’ yang terbaru, wah sayangnya saya lupa judul novelnya ….

  3. 5 Jamal Kutubi Wednesday, November 7, 2012 at 4:51 pm

    Btw, kenapa ya cover ini sengaja dibikin agak miring ke kanan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: