Honeymoon with my Brother

Cover buku “Honeymoon with my brother” Penerbit Serambi, edisi baru, 2012

Keputusan untuk membeli sebuah buku biasanya diawali dengan rasa penasaran yang dipicu oleh dua hal ini, yaitu cover dan judul yang menggelitik! Dan syarat itu telah terpenuhi untuk buku “Honeymoon with my brother” (terjemahan, Serambi: edisi cetak ulang 2012).

Dari judulnya saja sudah membuat orang penasaran. Honeymoon with my brother adalah peristiwa langka, bulan madu dengan saudara laki-laki? Apakah mereka homo? Adakah yang salah dengan mereka? Cover buku ini juga dahsayat secara visual, baik versi aslinya maupun versi terjemahan. Untuk edisi terjemahan dari penerbit Serambi sendiri telah mengalami perubahan cover sejak edisi tahun 2008, hingga cetak ulang ke enam. Untuk edisi tahun 2012, Serambi melakukan perombakan cover kembali. Dan hasilnya tetap sama: dahsyat!

Ini adalah kisah nyata seorang laki-laki yang diputus cintanya pada detik-detik terakhir pesta perkawinan. Padahal undangan telah tersebar keseantero dunia. Hotel, tiket pesawat, jamuan makan, gaun pengantin, paket wisata honeymoon telah dipesan. Lalu apa yang terjadi ketika mimpi indah yang sebentar lagi menjadi kenyataan itu tiba-tiba gugur total? Haruskah pengantin laki-laki bunuh diri saja?

Tak mudah keluar dari kesedihan yang teramat mendalam ini, juga rasa malu yang mendera. Dibutuhkan mental baja dan selera humor yang tinggi untuk berbalik 180 derajad dan tetap meneruskan hidup dengan penuh semangat dan keceriaan.

Adalah pilihan hidup yang cerdas ketika Franz Wisner (sang mempelai laki-laki) berani mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan rencana berbulan madu, tanpa calon istri. Sebagai gantinya dia mengajak adik laki-lakinya, Kurt Wizner. Maka, kemudian buku ini menceritakan kisah petualangan kakak beradik menjelah dunia.

Kisah dalam buku ini tak hanya menceritakan ketegaran seorang laki-laki ketika diputus cinta. Tapi juga soal rekonsiliasi kakak dan adik yang selama ini jarang bertemu dan berkomunikasi satu sama lain. Perjalanan mereka berdua telah membuka dinding kebuntuan komunikasi keduanya. Mereka berdua kemudian menjadi bisa lebih saling memahami.

Kisah dalam buku ini juga megajarkan soal cara menikmati hidup yang tidak harus terjebak dalam rutinitas: bekerja, mendapat gaji, membeli rumah, membeli mobil, punya anak, dll. Tapi mengajarakan soal cara menikmati hidup dari perspektif yang berbeda. Keputusan paling barani yang mereka ambil adalah berhenti dari pekerjaan, menjual rumah, menyumbangkan pakaian dan perabortan, membuang ponsel, dan memulai petualangan keliling dunia!

Di sela-sela kisah perjalanannnya, Franz Wsiner menyisipakan tips-tips perjalanan, sekaligus pengamatan dia soal wisata ransel, atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah backpacker. Jadi, buku ini cocok untuk dibaca para backpacker, terutama para backpacker jomblo, atau mereka yang baru saja diputus cintanya oleh sang pacar!

Kemasi barangmu, dan mari berpetualang keliling dunia!

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

0 Responses to “Honeymoon with my Brother”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: