Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada

bodyPertama-tama saya menyampaikan salam hormat untuk Kompas yang telah secara konsisten menjadi penjaga gawang kebhinekaan dan keaslian budaya Indonesia. Melalui tulisan-tulisan yang setiap hari hadir di Koran Kompas, juga dengan penerbitan buku-buku bermutu. Tendensi penerbitan buku-bukunya selalu mengedepankan esensi dan jauh dari kontroversi.

Menemukan buku bersampul hitam dengan lambang purba, berupa bulatan putih dan garis-garis menyilang membentuk irisan konsep mind, body, spirit. Judulnya seolah memanggil-manggil saya. “Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada.”

Lalu saya melihat di sana ada nama Jakob Oetama dan Bre Redana. Kombinasi sederhana desain grafis, nama Kompas, Jakob Oetama, Bre Redana dan PGB Bangau Putih Gunawan Rahardja langsung menyedot perhatian saya. Saya tak lagi perlu berpikir, maka langsung menyataan ini pasti buku bagus karena ditulis oleh orang-orang yang punya komitmen tinggi untuk kemajuan bangsa.

Tak salah. Sejak halaman prakata, hingga menelisik isinya, sangat menyejukkan jiwa, dan sekaligus memanjakan mata dan rasa oleh ilustrasi foto-foto indah yang dibuat Widya Poerwoko, dan desain grafis oleh Gamaliel W. Budiharga (Boim). Saya menemukan ruang dan waktu yang selama ini saya cari jawabnya.

Saya segera  membenamkan diri dalam kamar anak saya. Saya seperti menemukan ruang baru dalam  dunia membaca. Ternyata sangat nyaman membaca di ruang tidur anak saya sendiri.  Kebaruan itu saya nikmati dan rasakan. Dan saya juga menemukan sebuah kebahagiaan ketika tiba-tiba istri saya mencari-cari saya, karena saya tidak pernah berbenam diri di ruang itu.  Saya biasanya beredar di taman belakang rumah, beranda depan, atau sedang mencabut rumput. Sebuah kebahagian, ketika ada yang mencari dan menemukan.

Lalu apa hebatnya buku tulisan Bre Redana ini? Saya tak akan menulis kehebatan tulisan, karena buku itu secera terus menerus justru menggempur pertahanan ego saya yang selalu ingin tampil lebih dan serba hebat.

Buku ini adalah catatan kecil Bre Redana yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Dewan Pelatih PGB Bangau Putih. Maka sangat pas ketika Bre Redana menyebut kata ganti kami, sebagai kata ganti orang ketiga banyak untuk mengantar tulisan dalam buku ini.

Buku ini kembali membongkar ruang dan waktu yang telah saya jalani selama ini. Tentang sepak terjang  dalam mengarungi hidup. Sudah benarkah cara dan proses hidup saya?

Buku ini secara struktur sangat lentur, berupa catatan-catatan perenungan pendek Bre Redana setelah bertahun-tahun berguru di PGB Bangau Putih. Dari catatan Bre Redana itu saya  jadi mengenal Subur Rahardja dan Gunawan Rahardja yang mereka sebut sebagai guru atau suhu di padepokan itu.  Lalu saya menjadi sangat intim dengan Rendra yang ternyata punya kedekatan yang amat sangat dekat dengan Bangau Putih. Setiap kata dalam sajak yang mengalir, setiap gerak yang hadir di pentas-pentas Bengkel teater adalah hasil serapan Rendara ketika berguru di PGB Bangau Putih.

Saya jadi mengenal Keroncong Asmara, sebuah perkumpulan keroncong  yang selalu hadir setiap Senin malam di padepokan itu. Saya juga jadi mengenal Happy Salma, tapi bukan dirinya sebagai seorang  artis, melainkan sebuah pelajaran soal resiko memindahkan ruang dan waktu pertunjukan.

Secara konsep, buku ini ingin menularkan sebuah semangat hidup, seperti yang terpancar lewat semangat dan oleh gerak orang-orang yang terlibat di PGB Bangau Putih, yang hingga bulan Januari 2013 ini berulangtahun yang ke 60. Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa buku ini hadir di tengah-tengah publik Indonesia. Buku ini secara garis besar berisi soal konsep kombinasi tubuh dan pikiran (body and mind), yang pada gilirannya akan melahirkan daya gerak (spirit). Dalam tulisan-tulisan berikutnya, saya kemudian menangkap soal konsep ruang dan waktu.  Lalu soal kredo PGB Bangau Putih,  bahwa hidup itu semestinya disikapi dengan komitmen, fokus dan terus-menerus.

PGB Bangau Putih mengajarkan gerakan yang bisa bikin orang frustasi, karena dalam setiap latihannnya selalu mengajarkan gerakan dasar: Pa Hong (memukul angin), yang bisa membuat orang merasa tolol karena seperti orang meninju angin kosong tanpa makna. Dan itu dilakukan berulang-ulang sampai tubuh merasa cukup dan berhenti.  Gerakan dasar yang lain adalah kuda-kuda, geseran, jatuhan. Dalam setiap latihan, juga selalu ada Tui Cu (latihan silat berpasangan). Ini sebenarya latihan mengendalikan diri sendiri, meskipun tujuannnya adalah menjatuhkan lawan. Tantangan paling berat dalam Tui Cu adalah bergerak, melakukan, tapi tak boleh berpikir. Apalagi punya pikiran untuk menjatuhkan lawan. Konsepnya adalah bergerak, mengikuti gerak tubuh, dan kosongkan pikiran. Sekali pikiran diisi dengan semangat menyala-nyala untuk menjatuhkan lawan, maka bukannya kita akan sukses menggempur lawan, alih-alih kita sendiri yang terjungkal.

Soal melakukan dan mengosongkan pikiran inilah yang menjadi persoalan serius kita sehari-hari. Saya termasuk di dalamnya. Pikiran orang modern selalu dipenuhi dengan ambisi untuk sukses, dibilang hebat. Ukurannya adalah jabatan, pangkat, harta, dan popularitas.

Saya mencoba merefleksikan konsep latihan bergerak dan mengosongkan pikiran dalam ritual shalat yang saya lakukan. Apakah gerakan itu dikendalikan pikiran? Apakah di sana sudah muncul gerakan bawah sadar? Dan yang paling esensial, apakah di sana ada kepasarahan total ketika shalat? Maka akan menjadi persoalan sendiri ketika shalat yang kita lakukan hanya mekanik, atau lebih parah lagi diisi dengan pikiran agar kita mendapat pahala berlimpah dari  Yang Maha Kuasa, menjadi kaya, menjadi hebat, dan selalu terhindar dari mara bahaya.

Maka proses hidup akan selalu digoda dengan komitmen, fokus dan terus-menerus itu. Kewajaran, kepasrahan sangat sulit untuk diraih. Janganlah kita mengira, murid-murid PGB Bangau Putih yang telah bertahun-tahun berguru di sana akan mampu menjatuhkan lawan saat melakukan Tui Cu. Merasa telah senior, merasa telah menjadi murid perguruan, merasa telah berilmu, justru akan menjadi batu sandungan. Karena tugas selanjutnya justru menyediakan ruang kosong dalam diri sendiri untuk menerima, dan bukan merasa telah penuh.

Sebagai bagian dari review buku ini, saya merasa perlu untuk menyampaikan sebuah kesaksian atas apa yang saya alami dalam dunia tulis-menulis. Ketika saya membuat debut dalam menulis buku, dengan melahirkan “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar,” saya tak punya ambisi apa-apa soal buku itu, selain kegairahan dalam menulis dan berbagi untuk kawan-kawan yang akan bekerja di kapal  pesiar atau mereka yang sudah bekerja di kapal pesiar. Maka tanpa saya sadari, buku itu mendapat sambutan yang luas dari pembaca. Mendapat liputan yang luas dari media, radio, koran, majalah, hingga muncul di acara Kick Andy. Justru di situ awal persoalannya.  Saya kemudian masuk dalam godaan ego. Sebuah niat menulis yang bisa salah. Karena dalam buku berikutnya, yang ada adalah kalkulasi marketing, kemudian sibuk memikirkan ide kontroversial, memikirkan popularitas, memikirkan laba, dan tetek bengek lainnya.

Tetapi bukan berarti kemudian saya akan berhenti untuk menulis. Yang ingin saya rubah adalah nawaitu-nya, niat ingsun-nya. Saya akan mencoba tetap bersilat lewat kata-kata. Semoga Tuhan masih berkenan memberi umur panjang, berkarya buat orang banyak, dan jauh dari ambisi-ambisi dunia yang menyesatkan.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

8 Responses to “Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada”


  1. 1 bre redana Monday, January 14, 2013 at 3:49 pm

    terimakasih apresiasinya. salam perguruan

  2. 3 kang oded Saturday, January 26, 2013 at 5:26 pm

    mantap… baru baca reviewnya saja sdh terasa aura buku tsb.

  3. 4 Risfan Munir Monday, January 28, 2013 at 7:28 am

    Sejalan dengan buku saya “Samurai Sejati” …

  4. 5 santi wibisono Saturday, September 14, 2013 at 10:44 pm

    selama 6tahun terakhir , hampir setiap minggu sekali kami mengantar putra kami Kay berobat ke PGB Bangau Putih. Biasa melihat-lihat di toko kecil di sudut kanan rumah suhu,biasanya kami membeli jajanan disana,sore ini, mata kami tertuju pada buku hitam “mind,body,spirit”, tergerak membelinya.
    Si engko disana berpesan, nanti minta tanda tangan suhu ya setelah berobat….
    buku kami serahkan kepada suhu, terdiam sejenak, suhu menulis “hadir dan mengalir”….lalu beliau tanda tangani : Gunawan Rahardja.
    Melalui buku ini kami mengenal lebih jauh….tentanag suhu dan rumah PGB BP yang selalu menerima kami, terutama putra kami Kay, apa adanya….ia hadir dan mengalir…senyatanya…wajar.ternyata di buku ini kami memahami KESEIMBANGAN HIDUP: air akan terus mengalir , dankehidupan terus berjalan…(HAL. 99)

  5. 7 erwinsantoso Sunday, November 3, 2013 at 2:31 pm

    Silihi, mas. Kirim ke Salatiga, yak?😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: