Sabuk Hijau Wangari

 Judul Buku: Gerakan Sabuk Hijau, Judul asli: The Green Belt Movement: Sharing the Approach and the Experience. Penulis: Wangari Maathai. Penerjemah: Ilsa Meidina. Penerbit: Marjin Kiri, 2012, Tebal: xvi + 136 hlm

Judul Buku: Gerakan Sabuk Hijau, Judul asli: The Green Belt Movement: Sharing the Approach and the Experience. Penulis: Wangari Maathai. Penerjemah: Ilsa Meidina. Penerbit: Marjin Kiri, 2012, Tebal: xvi + 136 hlm

Entah saya yang sedang galau atau karena memang momen yang saya saksikan mengharukan. Yang jelas saat itu saya kok  terharu menyaksikan Wangari Muta Maathai, perempuan asal Kenya, Afrika itu menerima Nobel Perdamaian pada 2004 lalu.

Panitia Nobel Norwegia menganggap Wangari layak menerima Nobel atas sumbangsihnya dalam “pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian” dunia. Itu semua dilakukan Wangari melalui Gerakan Sabuk Hijau yang digagasnya dan yang kini menjadi inspirasi gerakan penanaman pohon di banyak negara lain.

Wangari sudah tiada. Ia meninggal akibat kanker pada 25 September 2011 di usia 71 tahun, tapi gagasannya terus dijaga melalui lembaga Wangari Maathai Institute for Peace and Environmental Studies.

Saya tentu saja tidak ikut ke Norwegia, hanya lihat dari film dokumenter pendek berjudul Planting Hope. Ini film karya Alan Dater dan Lisa Merton dari Marlboro Production. Lewat film berdurasi 7 menit itu saya menyaksikan kilasan perjuangan Wangari bersama perempuan-perempuan perdesaan di Kenya hingga memperoleh penghargaan bergengsi: Nobel Perdamaian.

Saya sendiri merasa Wangari layak mendapatkannya setelah apa yang diperjuangkannya sejak 1974 di Kenya. Rasa hormat saya muncul bukan saja karena telah menyaksikan film pendek itu tapi juga usai membaca buku karya Wangari berjudul Gerakan Sabuk Hijau. Ini buku terbaru yang diterbitkan Marjin Kiri. Ia diluncurkan ke pasar 25 November 2012 lalu untuk turut merayakan gerakan menanam pohon di Indonesia yaitu: Hari Penanaman Pohon pada tanggal yang sama dan Bulan Menanam Pohon di sepanjang Desember.

Buku Wangari tentang Gerakan Sabuk Hijau yang pertama terbit pada 1985. Edisi revisi pertama muncul pada 2003. Revisi kedua pada 2004 setelah ada perubahan kondisi politik di Kenya, yaitu penunjukan Wangari sebagai Wakil Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam oleh Presiden Kenya, Mwai Kibaki pada 2003. Revisi ketiga muncul pada 2006, dilengkapi dengan Pengumuman Penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004 untuk Wangari dan wawancara dengan Wangari.

Nah, yang saya baca adalah terjemahan dari revisi ketiga itu. Ada yang berbeda dibanding aslinya. Pada edisi terjemahan ini Marjin Kiri tidak memuat dua “pelengkap” yang saya sebutkan namun menggantinya dengan tulisan karya John Vidal berjudul “Mengenang  Wangari Maathai” yang dimuat di the Guardian, surat kabar Inggris, 26 September 2011 dan Pidato Wangari saat menerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004. Saya rasa keduanya benar-benar melengkapi isi buku.

Yang pertama, tulisan John Vidal, redaktur lingkungan the Guardian, adalah semacam biografi ringkas. Ini memudahkan pembaca Indonesia untuk mengenal siapa Wangari Maathai dan memahami perjuangannya demi lingkungan dan kaum perempuan. Wangari berpendapat: kaum perempuan lah yang terimbas dampak terburuk kerusakan lingkungan. Yang kedua, pidato Wangari saat menerima Nobel yang berisi ungkapan perasaan dan pikiran Wangari terhadap Gerakan Sabuk Hijau.

Isi buku Gerakan Sabuk Hijau sendiri menceritakan bagaimana awal gerakan berdiri, tujuan pendirian, pengorganisasian, berbagai kendala yang menghadang, pengukuhan gerakan, sekaligus gambaran gerakan di masa depan. Buku ini ditulis dengan gaya runut seturut perjalanan waktu. Pada bagian pembuka, pembaca diajak untuk mengenal negara Kenya, baik secara geografis maupun politis.

Wangari adalah perempuan pertama dari Afrika Timur maupun Afrika Tengah yang meraih gelar PhD dalam bidang Kedokteran Hewan dari Universitas Nairobi, Kenya. Saat memulai Gerakan Sabuk Hijau pada 1977, ia sudah bergelar Professor dan menjadi Ketua Jurusan Anatomi Kedokteran Hewan di Universitas Nairobi.

Masuk dalam jajaran sedikit orang terpelajar sekaligus aktivis sosial di Kenya, sosok Wangari yang saat itu menjadi Ketua Palang Merah Nairobi dengan mudah menjadi incaran saat sebuah lembaga bernama Environment Liasison Centre (ELC) mencari orang lokal untuk menggantikan anggota dewan yang berasal dari Utara.

ELC sendiri adalah pusat kegiatan bagi LSM-LSM Utara yang tertarik untuk menjalin kerjasama dengan United Nations Environmet Program (UNEP/Program Lingkungan PBB) yang baru saja berdiri di Nairobi pada 1972. Dalam perkembangannya, ELC kini dikenal sebagai ELCI, Environment Liasison Centre International. Sebagai catatan, pendirian UNEP ini adalah hasil dari Konferensi PBB tentang Lingkungan Manusia di Stockholm pada tahun yang sama.

Semenjak itulah isu lingkungan masuk dalam pemikirannya. Namun baru pada 1974 ia benar-benar mulai fokus pada isu penghijauan dan reboisasi. Mulanya Wangari menggunakan isu itu untuk membantu suaminya, Mwangi Mathai yang sedang kampanye politik untuk pemenangan dirinya sebagai anggota parlemen daerah. Wangari menjanjikan penggalakan penanaman pohon sekaligus membuka lowongan kerja di daerah Lang’ata, Nairobi.

Saat suaminya memenangi pemilu, ia menepati janjinya dengan membuka perusahaan bernama Envirocare, Ltd. Ini sebuah perusahaan yang akan mempekerjakan para pemilih untuk membersihkan rumah warga di Lang’ata dan menanam pohon bilamana diperlukan.

Jalan tak selalu mulus. Kerja Envirocare tersendat, karena dana terbatas. Namun Wangari tak patah semangat, ia mengikutsertakan perusahaan kecilnya ke pameran internasional dengan harapan mendapat perhatian dari dunia luar. Hasilnya, tak satupun yang menemuinya di pameran datang mengambil bibit. Lantas ia ikuti beberapa pertemuan yang bertaraf internasional di manca negara. Ia bertemu dan berbagi pengalaman dengan banyak aktivis lingkungan dari belahan dunia lain. Semangatnya menyala kembali.

Satu saat, dalam sebuah seminar di Nairobi, Wangari mendengar fakta yang mencengangkan tentang kondisi gizi buruk pada masyarakat di Provinsi Tengah. Salah satu hal yang membuat Wangari melebarkan telinganya adalah karena Wangari menghabiskan masa kecilnya di sana, di daerah bernama Nyeri.

Seorang pembicara menyampaikan tiga hal penyebab gizi buruk. Pertama, petani menggenjot pertanian komoditas dengan mengorbankan pertanian keluarga dengan logika bahwa areal yang sama jika digunakan untuk tanaman komoditas dapat menghasilkan pendapatan lebih. Nyatanya, ada mismanajemen sehingga petani mendapat bayaran kurang. Akibatnya keluarga petani tidak mampu memberi asupan makan seimbang hingga menyebabkan gizi buruk.

Kedua, petani berpenghasilan sedang cenderung mengorbankan makanan tradisional non-olahan seperti umbi-umbian serta sayuran lokal dan mengikuti pola makanan orang kota. Karena harga bahan makan orang kota itu cukup tinggi petani tidak mampu menyediakannya secara rutin. Ini juga mengakibatkan ketidakseimbangan asupan nutrisi dan akhirnya menimbulkan gizi buruk.

Ketiga, terjadinya kelangkaan kayu bakar yang menyebabkan beberapa keluarga memilih mengonsumsi makanan yang dimasak dengan sedikit kayu bakar atau bahkan tidak perlu sama sekali. Ini pun menimbulkan gizi buruk.

Bagi Wangari, solusi untuk permasalahan tersebut adalah menanam pohon. Memang sulit menyampaikan penjelasan yang masuk akal pada masyarakat desa. Setidaknya, yang paling jelas adalah dengan menanam pohon penduduk mudah mendapatkan kayu bakar. Meski ada kendala di awal, gerakan menanam pohon yang pertama pun berhasil dimulai tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 1977 di Nairobi.

Aksi itu menjadi awal gerakan sabuk hijau yang pertama meski saat itu program penghijauan itu bernama Selamatkan Tanah Harambee. Dalam bahasa Kiswahili, Harambee berarti “Mari kita usahakan bersama.” Program itu dilaksanakan Wangari bersama dengan NCWK (National Council Women of Kenya) yang beranggotakan mayoritas adalah perempuan desa.

Program itu disambut positif hingga tak lama kemudian, pada September 1977, aksi menanam pohon kedua diadakan kembali saat Kenya menjadi tuan rumah Konferensi PBB tentang Penggurunan di Nairobi.

Minat masyarakat untuk melakukan aksi serupa muncul di berbagai daerah di Nairobi hingga diputuskan untuk menanam barisan pohon dalam barisan sekurang-kurangnya seribu bibit guna membentuk sabuk-sabuk hijau pepohonan. Sabuk-sabuk itu kelak bermanfaat sebagai tempat berteduh, penahan angin, memfasilitasi pelestarian tanah, meningkatkan keindahan pemandangan dan memberikan tempat bagi burung-burung dan hewan kecil.

Sejak itulah aksi menanam pohon bersama-sama itu berubah menjadi Gerakan Sabuk Hijau dengan kaum perempuan sebagai penggerak utamanya. Aksi ini memulihkan citra perempuan dan bahkan memotivasi kaum pria bersama-sama melakukan penanaman pohon demi keluarganya, demi anak-cucunya.

Wangari tak hanya menganjurkan masyarakat menanam pohon untuk keperluan kayu bakar semata ataupun memunculkan kembali mata air, melainkan juga menganjurkan untuk melestarikan tanaman sumber pangan lokal untuk ketahanan pangan. Selain itu Wangari juga memasukkan pemahaman akan isu kewarganegaraan pada masyarakat desa.

Yang terakhir itu melibatkan serangkaian aksi demonstrasi mengecam tindakan pemerintah yang dianggap tidak menjaga lingkungan. Beberapa aksi demo yang dilakukan misalnya aksi mengecam pembangunan yang dilakukan di Taman Nasional, aksi demo mengecam pejabat pemerintah yang melakukan korupsi dana pembangunan, dsb.

Gerakan Sabuk Hijau menarik minat UNEP yang kemudian meminta Waingari untuk membuat replika aksi serupa di negara-negara lain. Sejak 1988, dimulailah aksi Gerakan Sabuk Hijau di luar Nairobi dan yang kemudian merambah ke berbagai negara lain hingga kini.

Di bagian akhir buku ini, dalam pidato penerimaan Nobel, Waingari mengungkapkan masa kecilnya. Ia cerita saat kecil sering disuruh ibu mengambil air di sungai kecil di sebelah rumah. Di sungai itu Waingari kecil bisa minum air langsung, di air sungai yang jernih itu pula ia bisa melihat ribuan kecebong (anak katak) menggeliat-geliat. Sayang, saat dewasa ia mendapati sungai itu sudah kering.

Tantangannya kini, lanjut Waingari, adalah mengembalikan rumah kecebong-kecebong itu dan memberikan kembali kepada anak-anak kita sebuah dunia yang indah dan menakjubkan.

Kesan saya secara keseluruhan buku ini inspiratif. Ditulis dengan gaya dan tata bahasa yang tidak rumit, bahkan cenderung teknis di beberapa bagian. Sangat mudah dipahami. Bagi yang ingin melakukan gerakan serupa – terutama kalangan akademis yang sering kesulitan untuk berkomunikasi di lapangan – sila baca bukunya. Saya bisa katakan, inilah rujukan dan panduan terbaik yang bisa Anda baca.*

Catatan:

1. Situs Gerakan Sabuk Hijau bisa diakses di: http://www.greenbeltmovement.org

2. Film pendek Planting Hope bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=Es6eVgmPWJM

Review buku oleh Elizabeth Tata (diambil atas ijin ybs dari note-nya di FB).

1 Response to “Sabuk Hijau Wangari”


  1. 1 Christian Cruz Saturday, February 9, 2013 at 12:04 am

    SERAMBINEWS.COM, KENYA – Wangari Maathai, wanita pertama dari Afrika yang memenangkan hadiah Nobel Perdamaian, meninggal dunia, Senin (26/9/2011). Wangari menghembuskan nafasnya pada usia 71 tahun setelah berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya.”Berita ini sangat sedih, kami harus mengumumkan Wangari Muta Maathai tutup usia setelah lama menanggung sakit kanker,” demikian rilis Green Belt Movement (Gerakan Sabuk Hijau), seperti dilansir CNN.Maathai sudah lama berkampanye untuk hak asasi manusia dan pemberdayaan masyarakat Afrika yang paling miskin. Lebih dari 30 tahun yang lalu ia mendirikan Gerakan Sabuk Hijau, yang memiliki misi kampanye penanaman pohon secara bersamaan mengurangi deforestasi. Selain itu, gerakan ini mendorong pemberdayaan bagi penduduk setempat, terutama perempuan dan anak perempuan.Pada tahun 2004, ia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian atas upayanya mempromosikan pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian. Dia adalah wanita pertama dari benua Afrika memenangkan hadiah nobel.”Kepergiannya merupakan kehilangan besar karena waktunya yang sangat besar untuk kita semua yang mengenalnya–sebagai seorang ibu, kerabat, rekan kerja, kolega, model teladan, dan pahlawan–atau mereka yang mengagumi tekadnya untuk membuat dunia yang damai, dan sehat, tempat yang lebih baik bagi kita semua,” kata Karanja Njoroge, Direktur Eksekutif Gerakan Sabuk Hijau.Wangari Maathai, Lahir di Nyeri, Kenya, pada tanggal 1 April 1940. Dia adalah wanita pertama di Afrika Timur dan Tengah mendapatkan gelar doktor.Pada bulan Desember 2002, ia terpilih menjadi anggota DPR Kenya dengan 98 persen suara. Dia, oleh majalah Time pada tahun 2005 disebut sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia. Dalam Forbes, dia terdaftar sebagai salah satu dari 100 wanita paling berpengaruh di dunia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: