65: Lanjutan Blues Merbabu

Saya selalu ingin mengawali tulisan tentang review buku karangan Gitanyali ini dengan sebuah film. Pada buku pertamanya, “Blues Merbabu” saya mengkaitannya dengan film “Malena.” Itu adalah film yang secara pas menggambarkan kenakalan Gitanyali kecil bersama teman-temannya ketika  mengintip mbak-mbak yang sedang mandi telanjang. Kenalakan anak-anak itu pula yang menghantarkannya pada pengalaman pertama ejakulasi dengan Mbak Kadarini. Atau ketika “burungnya” disunat karena tersagkut pagar kawat ketika ketahuan sedang melakukan aksi spionase mengintip orang mandi.

Pada buku sekuel keduanya ini,  “65”, saya tiba-tiba terkenang dengan film “Everything is Illuminated”- nya Jonathan Safran Foer (diangkat dari buku dengan  judul yang sama).  Antara buku dan film, memiliki karakter yang sama. Menceritakan kekelaman masa lalu secara natural dan kadang konyol. Film “Everything is Illuminated”  menceritakan bagaimana Jonathan kecil berupaya mencari tahu sejarah masa lalunya di Ukrania sebagai anak keturunan  Yahudi yang dulu kakek moyangnya berasal dari sana, yang kemudian menetap dan menjadi warga Negara Amerika Serikat.  Cara Jonathan Safran Foer merajut masa lalu sungguh unik dan berbeda. Tak ada sumpah serapah kepada bangsa Arya Jerman yang dipimpin Hitler. Alih-alih menyumpah-nyumpah, Jonathan justru menyukai hobi sebagai seorang kolektor. Apa saja dikoleksi, mulai dari sepatu, sikat gigi, kondom, gigi palsu, sampai pasir dan belalang hidup-hidup akan dia masukkan ke dalam plastik clip on yang selalu dia bawa ke mana-mana. Itu barangkali cara Jonathan membekukan kenangan. Dimasukan saja kedalam kantong plastik!

Illuminating-language-2Berbekal kalung liontin dan  foto kenangan mendiang kakeknya, Jonathan nekat ke Ukraina, menuju sebuah tempat bernama “Trachimbrod.” Bersama pemandunya, Alexander Perkov, kakek Alexander yang “mentally blind” dan sekor anjing, mereka memulai petualangan. Tak ada yang tahu nama tempat itu, hingga pada ujung cerita, secara kebetulan mereka bertemu dengan seorang perempuan tua, yang menjadi salah satu bagian cerita masa lalu kakeknya. Perempuan itulah satu-satunya yang bisa menunjukkan tempat yang disebut “Trachimbrod.”  Tempat itu tak lain adalah pingiran sungai dengan pasir membentang sepanjang sungai. Di sana orang-orang menanam  kenangan, dan menjadi saksi bahwa pada masa lalu telah terjadi suatu tragedi. Sejarah itu tak boleh dilupakan. “Trachimbrod” adalah kenangan. Perempuan itu juga juga menyimpan ratusan kardus-kardus di rak rumahnya. Disana dia menyimpan ratusan kenangan sanak saudara,  sahabat dan para korban lain. Kardus-kardus itu menjadi saksi bahwa mereka pernah ada, bukan sekedar dongeng belaka.

Momen “Trachimbrod” itu seolah menjadi penghubung sejarah tentang bagaimana dulu pada tahun 1965 orang-orang PKI dibantai dan tubuhnya ditanam di pinggir sungai. Di atasnya ditanami pohon pisang. ”Turun hujan deras, begitu cerita orang yang memintaku mendengarkanya itu. Hujan membuat mayat-mayat yang tertimbun pasir muncul di permukaan. Rata-rata tanpa kepala…” (hal 35) Dilanjutkan dengan sajak teman Gitanyali, “bukan sungai mengalirkan darah, tapi darah yang negalirkan sungai.” (hal 36).

Gitanyali, melalui “Blues Merbabu” dan “65” sebenarnya sedang bercerita bahawa masa lalu sungguh sulit dihapus dari kanangan. Kenanganya tentang Merbabu, pertigaan REX, yang disebutnya sebagai pusat dunia, atau tentang perempuan-perempuan yang mengisi  hari-hari sepinya: Tante Rosa-Hilda-Christina. Mungkin itu adalah kanalisasi dari kerinduan akan cinta pada kehangatan keluarga yang tak sempat dia nikmati karena tercerai berai oleh peristiwa G30S PKI.  Bapaknya diciduk tentara dan tak tahu dimana kuburnya.  Ibunya kemudian menyusul  dipenjara bertahun-tahun  dan masih harus wajib lapor sesudahnya.

Kesenangannya pada erotisme perempuan tak bisa disangkal sebagai bentuk pelarian dari beban hidup yang menghimpit dirinya. Di sana dia menemukan kebebasan. Gitanyali adalah anak jaman, yang besar pada era 60 dan 70-an, dimana pada masa itu sedang marak  generasi bunga, yang memiliki kredo “we make love, not war.”

Cover novel "65: Lanjutan Blues Merbabu" Karangan Gitanyali, (KPG: 2012)

Cover novel “65: Lanjutan Blues Merbabu” Karangan Gitanyali, (KPG: 2012)

Pada buku kedua ini, banyak sekali bertebaran  kenangan akan lagu-lagu masa itu, macam Deep Purple, The Who, Led Zepplin, atau Simon & Garfunkel.  Juga lagu Koes Plus yang sempat sekali dalam hidup dia nyanyikan di atas panggung, “Kisah Sedih di Hari Minggu.”

Petualangan Gitanyali  tampaknya harus diakhiri. Dalam buku “65” ini, sekaligus angka keramat bagi dirinya, karena dari sinilah sejarah hidup barunya bermula. Dari Sukhumvit 65, Bangkok, Gitanyali menyatakan ingin menikah dengan Emmarreta, pemilik galeri seni,  menjelang tutup tahun monyet. Kata-kata itu dia ucapkan pada perjalanan pulang  menuju apartemen, persis di depan kuil. Sang Budha  menjadi saksinya.

Sebagai penutup, saya justru ingin mengambil preambul buku ini, bahwa “Dari sekarang sampai 10 tahun mendatang, generasi paling sukses dan beruntung ini akan menuju pensiun.” Sebelum pensiun, Gitanyali ingin menumpahkan kenangan sejarah itu, merawatnya dalam ingatan. Minimal dalam buku, agar orang-orang tak akan melupakannya. Inilah perjuangan melawan lupa,” kredo yang ditorehkan oleh Milan Kundera, pengarang favoritnya.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

1 Response to “65: Lanjutan Blues Merbabu”


  1. 1 Risfan Munir Thursday, January 31, 2013 at 7:40 am

    Review alinea terakhirnya seperti menyindir seseorang …..*yg GR*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: