Superhero Juga Manusia

Cover buku "Superhero Juga Manusia." Karya Hermawan Kartajaya (Gramedia: 2012)

Cover buku “Superhero Juga Manusia.” Karya Hermawan Kartajaya (Gramedia: 2012)

Saya mengenal Hermawan Kartajaya lebih dari 10 tahun lalu lewat buku-bukunya. Buku pertama yang membekas dalam ingatan saya adalah “Marketing in Venus.” Buku itu menguak kesadaran saya bahwa dunia telah berubah. Manusia telah berubah dalam memandang dunia. Bagi mereka yang tidak tahu bahwa di sana ada perubahan, ya silahkan saja berdiri terpaku di tempatnya.

Ringkasan yang selalu saya bawa ke sana kemari terhadap buku itu adalah bahwa manusia bumi telah berubah menjadi manusia venus. Hati telah menggantikan otak, yang dulu amat dibangga-banggakan orang. Desain juga telah berubah, yang dulu kaku, kasar, dan terkesan macho, kini telah berubah menjadi feminim, lembut, dan halus. Perhatikan desain hand phone di tangan Anda, atau desain sepeda motor, mobil yang Anda kendarai.

Buku terbaru Hermawan Kartajaya langsung menohok mata ketika berjajar di rak buku: “Superhero Juga Manusia” (Gramedia: 2012). Buku ini merupakan kumpulan 107 tulisan Hermawan Kartajaya tentang New Wave Marketing dan Marketing 3.0 di Harian Jawa Pos.

Di mata saya, Hermawan Kartajaya adalah sosok yang kuat, sekuat pesan-pesan yang dia bawakan di ranah dunia marketing. Positioning-nya kuat. Padahal dia mengaku, dulu hanyalah lulusan IKIP, yang seharusnya jadi guru. Tapi sejarah kemudian membuktikan bahwa dia memang kemudian benar-benar menjadi guru, bahkan menjadi world top marketing guru, bersanding dengan Profesor Philip Kotler, mahaguru marketing tingkat dunia. Mereka berdua sering berkolaborasi menerbitkan buku marketing dan telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa!

Kekuatan sosok Hermawan Kartajaya terletak pada kelugasan gaya bicaranya, pemikirannnya yang cerdas, contoh-contoh yang pas untuk mendukung teorinya. Kelugasan gaya bahasa, terutama ketika melafalkan bahasa Inggris, menjadi panutan saya ketika berbicara bahasa Inggris. Kalau Hermawan Kartajaya masih medhok dengan gaya khas Jawa Timuran, saya sungguh PD menggunakan logat Jawa Tengah ketika berbicara dalam bahasa Inggris.  Saya tak punya niat sedikitpun untuk mencoba meniru-niru aksen gaya Amerika atau British. Menurut saya, justru di situ kekuatannya!

Contoh-contoh kasus yang dia ceritakan, dengan gaya “story telling” ketika ingin menyampaikan sebuah gagasan adalah kekuatan yang sedang dia teorikan, yakni bahwa kini dunia sudah masuk pada era 3.0. Berbeda dengan era 1.0 yang cenderung mempromosikan produk habis-habisan, maka konsep marketing pada masa itu masih sangat hard selling. Era 2.0 sudah mulai bergeser pada customer. Customer adalah raja, alias memanjakan customer. Nah, era 3.0, yang menurut Herwaman Kartajaya masuk pada New Wave marketing itu, konsep marketing harus bisa membangun sebuah “story telling” dan kuat pada sisi “human spirit.”

Maka jangan heran kalau gaya saya dalam mereview buku ini juga tidak sibuk dengan kajian gaya bahasa, diksi, tebal halaman, atau tanda baca. Alih-alih saya malah cerita soal sosok Hermawan Kartajaya. Itulah semangat 3.0!

Lalu apa isi buku “Superhero Juga Manusia ini”? Sebaiknya kita bicarakan dulu soal cover buku ini. Waduh, saya jatuh cinta dengan desain cover dan judul yang kuat dari buku ini. Dengan desain yang bersih, dan ilustrasi orang-orang berkacamata bak superhero, itu sungguh desain yang kuat dalam mengirim pesan. Kekuatan itu semakin nyata dengan judul di bawahnya: “Superhero Juga Manusia.” Judul yang keren!

Dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk menemukan judul seksi itu. Orang awam mungkin akan menjuduli buku itu dengan “New Wave Marketing 3.0” atau “Strategi Baru Memenangkan Persaingan di Era Digital.”

Dengan judul itu, setelah baca isinya, saya benar-benar menemukan spirit soal superhero juga manusia. Era 3.0 memang harus kuat pada sisi human spirit itu tadi, maka jangan heran kalau film-film soal superhero kini mulai menceritakan James Bond, Spiderman, Batman atau Superman dari sisi human spiritnya. James Bond yang ketembak mati, Spiderman yang jadi tukang pengantar pizza, atau Batman yang kalah.

Buku ini terbagi dalam 3 bagian besar. Bagian satu menceritakan soal pergeseran konsep berfikir di era 3.0 tadi. Bagian dua menyoroti perilaku manusia yang kini harus bersikap horizontal, menjadi kawan, siap diterima dan menerima siapa saja ketika masuk dalam jagad komunitas. Bagian ketiga adalah bagian personal dari perjalanan hidup Hermawan Kartajaya, dengan selipan perjalanan Mark Plus yang telah dia besarkan hingga saat ini. Bagian ketiga ini menurut saya memiliki pasan yang kuat soal konsep 3.0 itu. Hermawan Kartajaya seolah ingin menegaskan kepada pembaca untuk diterima sebagai kawan akrab, diterima apa adanya, melalui cerita-cerita soal dirinya, soal anak-anaknya, soal impiannya.

Bagian tiga ini menutup buku dengan amat cantik. Human spirit-nya sungguh kena!

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

0 Responses to “Superhero Juga Manusia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: