Menyambut Pagi di Bromo, Melepas Penat di Raja Ampat.

Cover bukku "Menyambut Pagi di Bromo, Melepas Penat di Raja Ampat," (Gramedia: 2013), karya Asita DK

Cover bukku “Menyambut Pagi di Bromo, Melepas Penat di Raja Ampat,” (Gramedia: 2013), karya Asita DK

Ada orang yang dilahirkan dengan banyak  kesempatan menjejakkan kaki di setiap sudut bumi. Barangkali di telapak kakinya ada tahi lalat, pertanda dia orang yang kuat jalan. Saya sebenarnya tidak punya tahi lalat di kaki. Justru anak perempuan saya yang memilikinya. Tampaknya dia bakal mewarisi bakat jalan-jalan seperti bapaknya.

Saya mengawali karir sebagai pemandu wisata berbahasa Inggris di Jogja, sewaktu kuliah dulu. Lumayan, bisa buat tambah-tambah uang saku dan menyambung hidup ketika kiriman dari orang tua mulai menipis. Pengalaman sebagai pemandu wisata membuat saya punya banyak kesempatan untuk menjelajah pulau Jawa-Bali karena tuntutan pekerjaan. Tapi kadang-kadang justru tidak bisa menikmati perjalanan itu sendiri karena direpotkan dengan segala persiapan selama perjalanan: transportasi, akomodasi, konsumsi, atraksi dan segala tetek bengek lainnya.

Pada perjalanan karir selanjutnya saya menjelajah dunia dengan kapal pesiar. Ini menjadikan pengalaman luar biasa untuk dapat keluar dari tempurung pulau Jawa-Bali, melesat mendunia. Selepas sebagai waiter di kapal pesiar, saya memantapkan karir sebagai aktivis LSM di Indonesia.

Ternyata perjalanan karir selanjutnya tak juga menghentikan langkah kaki untuk terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pada sebuah LSM nasional yang cukup terpandang di Indonesia itu, kebetulan saya mengurusi model wisata alternatif, or the so-called eco-tourism. Ini semacam bentuk perlawanan dari mass tourism yang kian marak di mana-mana. Konsep wisata alternatif ini adalah melakukan sebanyak mungkin eksplorasi kekayaan lokal. Misalnya menginap di rumah penduduk, makan bersama mereka, membelanjakan uang kepada mereka. Sebisa mungkin menghindari untuk menginap di hotel berbintang, apalagi yang international-chained, belanja di gallery, dll. Jadi benar-benar setiap dolar yang dibelanjakan oleh wisatawan tak kembali ke negara asal mereka, sebaliknya membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi penduduk lokal.

Dari situ saya belajar banyak tentang betapa Indonesia kaya dengan potensi lokal, dan mereka pantas mendapatkannya.

Buku “Menyambut Pagi di Bromo, Melepas Penat di Raja Ampat”  (Gramedia: 2013) buah tulisan tulisan Asita DK, barangkali punya semangat yang sama sebagai bagian dari promosi wisata alam, budaya dan kuliner di 6 pulau kaya pesona di Indonesia.

Berbeda dengan buku-buku travelling melalang buana atau yang  berbau luar negeri, buku ini kental dengan semangat keindonesiaan. Sebaiknya memang memulai travelling itu dari Indonesia terlebih dahulu, baru keliling dunia. Sebab dengan begitu, secara tidak sadar hal itu akan membangun fondasi  jati diri sebagai warga Indonesia dan tidak tergelincir sebagai warga dunia, dan mencibir bangsanya sendiri. Saya kadang miris melihat orientasi anak-anak muda sekarang yang punya orientasi budaya pop dunia: Amerika, Jepang, dan Korea!

Buku ini menjelaskan secara singkat tempat-tempat eksotik di 6 pulau: Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua. Memang tidak selengkap buku Lonely Planet yang melegenda itu, karena buku ini memang merangkum seluruh catatan perjalana sang penulis mulai dari Solo, Malang, Bromo, Jember, Banyuwangi, Surabaya, Bukittinggi, Bangka, Belitung, Batam, Lombok, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar dan Raja Ampat. Catatan tentang kuliner menempati porsi yang lumayan banyak, disamping destinasi wisata yang menarik. Ada juga dicantumkan tips menuju lokasi berikut taksiran biaya dan kontak person jika kita ingin melakukan perjalanan ke sana.

Buku setebal 135 ini memang agak susah untuk memasukkan unsur story telling, karena terjebak dengan informasi seputar lokasi wisata yang dikunjungi. Padahal, justru cerita seru sepanjang perjalanan  sang penulis bisa jadi sebagai bumbu menarik bagi pembaca untuk membayangkan tujuan wisata yang sedang dijelaskan. Bak wisata kuliner. maka sebelum menyantap hidangan, biarkan alir liur pembaca menetes-netes seolah sedang menuju ke sana…

Jika saya boleh bersaran dalam soal  judul, buku ini akan terasa enak jika judulnya diganti menjadi  “Menyambut Pagi di Bukittinggi, Melepas Penat di Raja Ampat.” Terdengar berima. Mari merapat!

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

 

 

2 Responses to “Menyambut Pagi di Bromo, Melepas Penat di Raja Ampat.”


  1. 1 agus Supriadi ( Hadhie ) Friday, June 28, 2013 at 9:16 am

    Selamat atas peluncuran buku ini, saya yakin buku ini akan menjadi “pedoman” dalam melakukan aktivitas kepariwisataan, khususnya travelling, mungkin juga untuk spot hunting fotografi…………..salam wisata ( catatan kecil : Daerah asal penulis tersebut, sedaerah dengan saya, yaitu Jember – Jawa Timur.)

  2. 2 mashar Saturday, June 29, 2013 at 8:40 am

    jalan-jalan, fotografi dan kuliner: enak dan menyenangkan🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: