Layar Terkembang

Layar Terkembang (Balai Pustaka: Cetakan I 1937), karya St Takdir Alisjahbana

Layar Terkembang (Balai Pustaka: Cetakan I 1937), karya St Takdir Alisjahbana

Ada pertanyaan sederhana buat para pembaca: siapa di antara pembaca yang waktu sekolah dulu pernah membaca buku-buku sastra yang selalu dibahas di sekolah, seperti Layar Terkembang, Salah Asuhan, Saijah Adinda, Robohnya Surau Kami, dll?  Waktu itu, judul-judul karya sastra itu hanya berdedar judulnya, nama pengarang dan angkatan berapa. Hanya sedikit dari guru-guru atau sekola kita waktu itu yang menyediakan bacaan secamam itu untuk benar-benar dibaca dan dibahas isinya. Ringkasan cerita cukup dihafal saja. Karya sesungguhnya tidak pernah dibaca oleh para siswa.

Saya sendiri baru berkesempatan membaca karya sastra itu ketika sudah berumur. Padahal karya sastra yang ditulis pada jaman itu sungguh indah sekali.

Layar Terkembang (Balai Pustaka: cetakan I 1937)  karya St. Takdir Alisjahbana, ditulis dengan bahasa melayu yang indah. Ini jenis prosa liris, jadi indah sekali bahasanya. Membaca karya sastra jenis ini terasa terbawa pada suasana yang dibangun pada masa itu, yaitu masa tahun 1930-an. Seandainya ada karya sastra moderen yang mencoba menggambarkan suasana tahun itu dengan bahasa Indonesia EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) pasti akan hilang kesan itu. Pembaca juga bisa tamasya ke Kota Tua Jakarta dengan nama-nama berbahasa Belanda, seperti mollenvliet dan Hotel Des Indes.

Buku ini menceritakan kisah tiga tokoh utama, Tuti, Maria dan Jusuf. Tuti dan Maria adalah kakak beradik yang sangat berbeda karakternya. Sang kakak, Tuti, adalah perempuan mandiri dan keras hati. Cenderung serius dan berapi-api kalau sudah bicara. Dia adalah salah satu tokoh gerakan perempuan waktu itu, Putri Sedar, yang mencoba mengobarkan semangat emansipasi perempuan. Menurut Tuti, perempuan Indonesia harus punya kemandirian, bukan sekedar pelengkap penderita: siang jadi batur, malam jadi kasur! Sikap keras hari Tuti itu pulalah yang membuat dia susah mendapatkan jodoh.

Berbeda dengan sang adik, Maria, yang periang dan tergolong cantik. Maka ketika keduanya bertemu dengan seorang pemuda bernama Jusuf disebuh toko ikan dan akuarium di bilangan Jakarta Kota, Maria dan Jusuf merasa cepat berjodoh. Tapi kisah cinta keduanya berakhir tragis. Maria ternyata menderita penyakit malaria dan TBC yang pada akhirnya merenggut nyawanya.

Kini, tinggal Tuti dan Jusuf yang ditinggal berdua. Keduanya akhirnya dipertemukan oleh sang nasib, bukan oleh pilihan mereka sendiri. Cinta itu tidak memilih, tapi dipilih.

Karya sastra ini lahir pada jamannya, ketika modernitas memasuki Indonesia. Anak-anak muda yang punya kesempatan sekolah Belanda punya semangat yang menyala-nyala untuk memajukan bangsanya, seperti Tuti yang memilih jalur gerakan emansipasi perempuan. Di tengah-tengah itu, diselipkan roman percintaan yang membuat karya ini menjadi legendaris.

Review singkat oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

0 Responses to “Layar Terkembang”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: