Katak Hendak Jadi Lembu

katakJalan pintas itu selalu menggoda. Semuanya harus serba praktis, instant, tidak mau repot-repot. Padahal sejatinya kenikmatan hidup justru semakin indah jika dilalui dengan berbagai liku-liku dan tantangan. Tuhan sepertinya memang menciptakan dunia dengan kodrat seperti itu. Dia memang sutradara tunggal atas kehidupan ini. Bagai sebuah alur cerita novel atau film yang memiliki plot cerita berliku, ada klimaks dan solusi di ujung cerita.

Perilaku manusia yang mendambakan hidup serba instant, jalan pintas, terobos sana-terobos sini, sungguh bukanlah yang Tuhan maui. Karena itu pasti di luar plot cerita yang sudah Dia susun dengan Indah.

Novel “Katak Hendak Jadi Lembu” (Balai Pustaka: 1935, cetak ulang 2011),  karya Nur Sutan Iskandar tak jauh-jauh dari tema kehidupan manusia yang abadi seperti itu. Karya seperti ini bakal tidak pernah usang termakan jaman, karena dia selalu ada, dari dulu hingga kini. Bahkan pola hidup serba gampang, semakin bersimaharajalela akhir-akhir ini.

“Katak Hendak Jadi Lembu” mengisahkan perjalanan  hidup tokoh Suria, anak Haji Zakaria yang kaya raya. Karena sejak kecil dimanja, maklum anak tunggal, Suria tumbuh jadi anak yang pongah dan sombong.

Suria bekerja sebagai Mantri di Kabupaten Sumedang, tapi gaya priyayinya nauzubillah. Maunya dilayani, mulai dari sajian makanan, minuman, hingga penghormatan yang tidak perlu dari orang-orang di sekitarnya. Padahal gajinya tak seberapa untuk menopang gayua hidupnya yang “besar pasak daripada tiang” itu. Ujung-ujungnya, sang istri, Zubaedah, yang harus menanggung beban gaya hidup suaminya yang priyayi itu. Hutang di warung sebelah semakin menumpuk, dan kelakuan Suria justru tak semakin surut.

Dulu Suria menikah dengan Zubaedah karena dia tahu bahwa Zubaedah itu anak teman bapaknya yang juga kaya raya. Setelah hartanya habis buat foya-foya, Suria meninggalkan Zubaedah dalam keadaan melarat dan sudah punya anak satu, Abdulhalim.

Setelah bermohon ampun dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya dulu lagi, Suria kembali kepada Zubaedah. Tapi kelakuannya tak juga berubah. Ketika hartanya sudah mulai menipis, Suria mulai gelap mata. Uang kas dikantornya dia embat juga, maka dia diancam dipecat dari kantornya, padahal dia mengincar posisi klerk atau juru tulis yang menjanjikan gaji lebih besar. Di sini Suria mendapat saingan berat dari seorang anak muda berbakat, Kosim. Persaingan semakin memuncak ketika Kosim mendapat jabatan sebagai klerk, dan Kosim berhasil menikah dengan anak Haji Junaedi, Fatimah, yang sebenarnya Suria ingin juga meninkah dengannya. Alasan utama: mendapatkan harta dari mertuanya!

Jalan hidup Suria semakin buntu ketika atasannya mengetahui bahwa Suria telah membawa lari uang kas yang harus dia kelola. Singkat cerita Suria mengungsikan keluarganya ke Bandung dan tinggal bersama anaknya, Abdulhalim.

Zubaedah semakin tertekan hidupnya, demi melihat Suria merongrong rumah tangga anaknya yang baru mulai membina rumah tangga. Tak kuat menanggung derita, Zubaedah meninggal dunia.

Suria baru menyadari kesalahan yang telah dia buat selama ini. Tapi itu semua sudah terlambat. Jalan hidup Suria selanjutnya menjadi semakin kelam saja. Bagai orang yang sedang menggapai-gapi sesuatu yang  berada jauh dari jangkauan tangannya. Bagai katak hendak jadi lembu.

Novel Nur Sutan Iskandar ini tergolong unik, karena latar belakang sang pengarang yang berdarah Minang, tapi mampu mengisahkan cerita yang berlatar belakang negeri Pasundan. Ternyata ada banyak pengarang dari tanah Minang  yang tertarik untuk mengisahkan cerita tentang tanah Pasundan.

Novel berikutnya yang akan dibahas di Rumah Baca adalah “Memang Jodoh” karya Marah Rusli, yang menceritakan perjalanan hidupnya, yang justru menikah dengan orang Sunda!

Ringkasan novel oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

3 Responses to “Katak Hendak Jadi Lembu”


  1. 1 tranggono Friday, September 20, 2013 at 9:30 am

    Barangkali sampai sekarang di sekitar kita masih sering kita temui seperti kisah diatas….. memang pada dasarnya manusia memiliki seperti itu…. tidak usah repor – repor, poya – poya serta namun kecukupan… gituloh….. Siapa sih yang ga’ mau……he…he

    Dengan membaca kisah novel tersebut semoga menjadi insyaf…Insya allah…. Ihktiar, kesabaran, menjadi kunci utama…its oke

  2. 2 amier Monday, December 1, 2014 at 11:32 am

    Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Maaf Saya Mau Minta Izin Untuk MengCopy Artikel nya.. Saya Akan Cantumkan Link Sumbernya.. Terima Kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: