Memang Jodoh

Cover buku "Memang Jodoh," (Qanita: Mei 2013), karya Marah Rusli

Cover buku “Memang Jodoh,” (Qanita: Mei 2013), karya Marah Rusli

Apakah di jaman digital saat ini masih ada kawin paksa,  terutama di tanah Minang?

Kawin paksa pernah menjadi masalah utama pada jaman dulu, atau orang sering menyebutnya jaman Sitti Nurbaya. Dapat dipastikan apabila praktik kawin paksa terjadi  di jaman sekarang, yang terjadi adalah kawin lari. Jaman memang sudah berubah.

Roman semi autobiografi “Memang Jodoh” (Qanita: Mei 2013) karya Marah Rusli ini segera mengingatkan orang pada roman pertamanya “Sitti Nurbaya.” “Memang Jodoh” adalah karya terakhir Marah Rusli yang sempat tersimpan lebih dari 50 tahun lamanya. Pembaca akan segera mudah menghubungkan roman terkahirnya ini dengan kisah Sitti Nurbaya. Tema sentralnya sama: soal kawin paksa. Saya menduga, roman”Sitti Nurbaya” memang dipakai oleh Marah Rusli untuk menggelorakan penolakan adat istiadat yang melanggar hak hakiki manusia untuk menentukan nasib sendiri. Tak lain dan tak bukan, “Sitti Nurbaya” adalah gambaran persoalan dirinya sendiri yang waktu itu juga mengalami nasib serupa.

Dalam roman “Memang Jodoh” ini Marah Rusli mengganti namanya menjadi Marah Hamli, pergi ke Bogor dan bertemu dengan Radin Asmawati, alias Din Wati yang kemudian menjadi istrinya (nama sebenarnya adalah Raden Putri Kancana). Din Wati adalah orang Sunda, punya garis keturunan darah biru, sebagimana Marah Hamli yang juga keturunan ningrat dari Padang. Meskipun status sosial mereka setara, ada halangan besar melintang, yakni adat Padang yang tak memperbolehkan laki-laki Padang menikah dengan perempuan di luar sukunya. Di lain pihak paman Din Wati, Radin Anggawinata di Jati Negara, yang juga menolak perkawinan itu, karena sudah banyak kisah memilukan perkawinan dengan laki-laki Padang. Radin Anggawinata sebenarnya sudah menyiapkan jodoh buat Din Wati, yaitu Wedana Cianjur.

Kisah roman ini sempat tersimpan 50 tahun lamanya sebelum benar-benar diterbitkan oleh Qanita, atas wasiat dari Marah Rusli sendiri kepada anak-cucunya, agar kisah hidupnya ini boleh diterbitkan dan dibaca oleh banyak orang ketika tokoh-tokoh yang ada dalam roman itu sudah meninggal dunia semua. Penerbitan buku ini juga menjadi kado perkawainan Marah Rusli dengan Raden Putri Kencana yang telah menurunkan anak cucu yang cukup terpandang. beberapa tokoh yang dikenal saat ini antara lain: Harry Roesli (musikus), Rully Roesli (dokter dan penulis buku), serta Utami Roesli (penggerak IMD dan ASI ekslusif).

Kisah perjodohan mereka dibumbui dengan cerita takhayul, tapi mereka yakini sebagai  takdir dari Tuhan. Keduanya percaya karena beberapa peristiwa sebelumnya mengarah pada perjodohan ini. Mulai dari ramalan kartu Mpok Nur, bahwa Din Wati akan mendapat jodoh orang alim dari tanah seberang. Atau ramalan Ajengan Kiai Naidan, tatkala Din Wati masih berumur sepuluh tahun. Hamli inilah yang akan menjadi ayah anaknya, yaitu arwah Ajengan ini, yang akan kembali ke dunia. Sebaliknya, ibu Marah Hamli suatu malam bermimpi bahwa suaminya, Sutan Bandahara, datang dari tanah Jawa membawa seekor burung bayan (nuri) yang amat elok rupanya, dalam sebuaha sangkar permai, lalu diberikannya kepada Anjani, sebagai buah tangan dari Jawa. Menurut ahli nujum itu pertanda bahwa anak yang dikandung Anjani, Hamli, jodohnya ada di tanah Jawa.

Bisa jadi cerita takhayul yang diselipkan dalam roman ini adalah cara Marah Rusli menegaskan bahwa adat yang kaku juga harus dilawan dengan cerita takhayul, agar adat yang masih percaya dengan cerita-cerita takhayul mendapat tandingannya. Tapi bisa jadi memang cerita takhayul itu ingin dipakai oleh Marah Rusli sebagai bagian seting cerita yang terjadi pada masa itu. Itu adalah potret etnografi yang perlu untuk diketahui pembaca.

Roman ini masih asyik dibaca oleh generasi 60-an hingga 80-an, tapi mungkin akan sulit dicerna dan dikuti oleh generasi MTV, Manga atau K-POP yang sekarang ini merajela!

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

0 Responses to “Memang Jodoh”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: