Foxtrott: Rubah yang pandai bernyanyi

tata 2Judul Buku : Foxtrott
Penulis : Helme Heine
Penerjemah : Veriana Devi
Tebal : 32 halaman
Penerbit : Carl Hanser Verlang, 2003

Buku ini berkisah tentang seekor rubah bernama Foxtrott. Ia lahir dari tempat tersepi di dunia yang digambarkan sebagai sebuah liang berongga-rongga di bawah tanah. Jika bumi diiris akan terlihat penampang rumah Foxtrott. Ada ruang makan, ruang nonton teve, ruang bermain, ruang tidur, pokoknya persis seperti ruang-ruang di rumah kita. Di rumah itu Foxtrott tinggal bersama ayah dan ibunya.

Di rumahnya yang berada jauh di dalam tanah itu, tidak ada satupun bunyi terdengar. Televisi memang menayangkan gambar, tapi tidak ada suara, itu filem bisu. Kedua orang tua Foxtrott juga tidak pernah bercakap-cakap. Mereka berkomunikasi melalui tatapan mata dan senyum saja.

Satu hari, Foxtrott mengintip keluar dari lubang rumahnya. Ia heran, ada banyak bunyi di atas sana. Hampir semua binatang ternyata bersuara. Lebah berdengung, kodok mengorek, dan bebek berkotek. Foxtrott bingung dibuatnya. Inilah untuk pertamakalinya ia mendengar beragam bunyi.

Kejadian itu sungguh membekas. Sejak itu Foxtrott tak henti-hentinya membuat bunyi-bunyian. Ia bernyanyi, berteriak, menabuh panci, mengadu tutup panci, dan memukul berbagai barang. Pokoknya, menimbulkan bunyi. Semakin gaduh, semakin hati Foxtrott girang. Ayah dan Ibu Foxtrott hilang akal.

Satu hari, ayah memutuskan untuk berburu ayam di kandang ayam milik manusia. Malam-malam satu keluarga keluar rumah. Foxtrott ikut dengan mulut terikat – berjaga agar dia tidak menimbulkan suara. Ini perburuan penting, semua bekerja tanpa suara, berjalan pun mengendap. Sial, mereka ketahuan. Penjaga menangkap basah keluarga Foxtrott. Ia siap membidikkan senapannya hendak membunuh ketiganya. Foxtrott kecil berhasil melarikan diri, ia melepaskan ikatan mulutnya dan bernyanyi. Nyanyian Foxtrott membuat penjaga iba dan melepaskan ketiganya. Ayah Foxtrott bangga. Sejak itu Foxtrott diperbolehkan bernyanyi dan bermain musik sepuasnya. Foxtrott kini dikenal sebagai penyanyi di kawanan rubah. Tidak hanya itu, Foxtrott bahkan diundang untuk bernyanyi dalam pesta-pesta binatang lainnya.

Foxtrott lantas hidup bahagia dan menikah dengan seekor rubah cantik. Mereka punya banyak anak. Setiap malam satu keluarga bernyanyi dan bermain musik bersama.

Tunggu. Apakah semua? Ternyata tidak. Satu orang anak Foxtrott punya kebiasaan yang unik, ia tidak suka bernyanyi. Ia pendiam dan suka membaca. Bagaimana kelanjutannya? Tidak ada yang tahu, karena Heine mengakhiri ceritanya sampai di situ.

Begitulah kisah Foxtrott yang dikarang oleh Helme Heine berakhir. Ini buku anak-anak, tercetak di kertas berkualitas baik, hard cover, dan bergambar apik. Helme Heine adalah seorang penulis Jerman. Selain menulis, Heine juga seorang ilustrator dan desainer. Ilustrasi kisah Foxtrott dikerjakan sendiri oleh Heine.

tata1

Sebagai penulis cerita anak, Heine sangat diakui karena memenangi beragam penghargaan bergengsi. Tiga tokoh rekaannya yang paling dikenal adalah tiga sekawan Charlie Rooster (ayam jago), Johnny Mouse (tikus), and Percy (babi) yang tinggal di sebuah daerah bernama Mollywoop. Melalui internet, saya baca Manajemen Kebun Binatang di Hanover, Jerman membangun satu ruang bermain untuk anak yang diberinama Mollywoop dan menghidupkan karakter ketiga binatang tersebut di sana.

Ini foto Heine bersama ketiga tokoh rekaannya di Kebun Binatang di Hanover, Jerman:

tata 3

Di Indonesia buku terjemahan Heine belum banyak – atau mungkin tidak ada ya, saya baru ketemu sekarang ini soalnya. Buku Foxtrott yang saya baca bersama Putri, anak saya ini diterjemahkan oleh seorang mahasiswi Universitas Negeri Jakarta bernama Veriana Devi. Penerjemahan itu bagian dari proyek kerja sama Goethe Institute dengan mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jerman. Bukan diterbitkan kembali dalam bentuk buku, hasil terjemahan itu dicetak pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan dengan pita rekat plastik pada halaman buku. Jadi satu terjemahan dalam satu halaman buku. Memang halaman buku menjadi “kotor” dibuatnya. Tapi, ini cara paling sederhana dan murah untuk mengerti isi buku-buku anak yang bagus-bagus itu di Goethe. Seandainya saja saya mengerti bahasa Jerman..

Kembali ke Foxtrott. Saya kira Heine ingin menyampaikan pesan bahwa menyukai kesenangan yang beda dengan yang lain itu tidak mengapa. Jika itu memang membuat kamu bahagia, kenapa tidak? Asal, tentu saja gunakan kesenangan itu untuk kebaikan.

Eh, tapi saya merasa sepertinya Heine punya pesan juga buat orang tua yang mendampingi anak-anaknya membaca. Coba bayangkan, bagaimana jika punya anak yang tidak mau menuruti kebiasaan dan peraturan yang susah payah kita bangun di rumah? Ia seperti…apa ya, ibarat makhluk asing yang ada di rumah. Tak habis pikir terkadang, kok bisa dari darah-daging saya muncul manusia baru yang punya kebiasaan beda sama sekali dari saya?

Maka, jika saya jadi ibunya Foxtrott, pasti saya larang juga Foxtrott membuat gaduh di rumah. Itu kan sungguh bertentangan nilai-nilai yang diterapkan di rumah yang tenang, sepi, dan nyaman. Tapi, siapa sangka Foxtrott lah yang jadi pahlawan penyelamat saat penjaga bersiap menarik pelatuk senapan.

Foxtrott memenuhi benak saya akhir-akhir ini. Mengingatkan akan satu tulisan yang membahas soal mengapa generasi orang jenius tidak muncul lagi. Tulisan itu berakhir dengan tudingan bahwa orang tua adalah penyebab utama hilangnya generasi jenius yang baru dan tips bagaimana mendampingi anak yang suka berulah “di luar kebiasaan”.

Masih menurut tulisan itu, ketidakmampuan para orang tua dalam menerima perilaku anak yang di luar kebiasaan jadi penyebabnya. Anak-anak yang sebenarnya berbeda itu “disamakan” begitu saja dengan yang lain. Akibatnya mereka kehilangan kemampuannya untuk menjadi beda. Dan lahirlah generasi yang seragam. Satu cita-cita tertentu bisa diagungkan dan cita-cita lain dicibir.

Melalui kisah Foxtrott, Heine seolah mengingatkan bahwa dalam satu keluarga selalu ada yang punya kebiasaan unik. Kita memang tidak pernah tahu untuk apa dan kapan keunikan itu berguna kelak. Saya kira mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti berbagi, menolong sesama, dan berkarya lebih penting ketimbang menahan mereka untuk melakukan sesuatu yang disukai.

Begitulah. Menuliskannya saja sih, gampang, menjalaninya? Semoga saja ibumu ini mampu memahamimu ya, nak🙂

Catatan: Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Goethe Institute, Jakarta.
Timbangan buku oleh Elisabet Tata, elisabet.tata.@facebook.com Pegiat buku, Tinggal di Serpong.

0 Responses to “Foxtrott: Rubah yang pandai bernyanyi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: