Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965

Cover buku "Pengakuan algojo 1956 Investigasi Tempo perihal pembantaian 1965" (Tempo Publishing: 2014)

Cover buku “Pengakuan algojo 1956
Investigasi Tempo perihal pembantaian 1965″ (Tempo Publishing: 2014)

Melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda itu penting. Versi adalah cara pandang yang berbeda, yang berarti kebalikan dari sesuatu yang telah diyakini oleh banyak orang selama ini.
Contoh berbagai versi yang telah dilakukan beberapa seniman, Pramudya Ananta Toer telah membuat versi yang berbeda soal tragedi perseteruan antara Sultan Agung dengan Mangir di Jogja pada novel “Mangir”, juga soal pemahaman negara maritim Nusantara dalam novel “Arus Balik.” Garin Nugroho membuat versi yang berbeda soal kisah cinta Rama-Shinta dalam “Opera Jawa.”
Sesungguhnya versi itu penting, agar kita tak terjebak dalam stereotype yang telah ada sebelumnya. Penolakan terhadap sesuatu yang berbeda ini memang sering muncul, bahkan dari dalam diri sendiri yang tak percaya karena kadung dicekoki oleh versi sebelumnya.
Buku “Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965” (Tempo Publishing: Cetakan VI Mei 2014) adalah versi lain soal tragedi yang biasa disebut dengan istilah G-30S PKI. Selama ini pemahaman publik tentang peristiwa G-30S PKI adalah bahwa PKI dalang dari seluruh tragedi ini, dimulai dengan penculikan para jenderal. Maka kesalahan total sudah semestinya ditimpakan kepada PKI. Tapi, apakah publik menyadari peristiwa lain yang lebih dhasyat daripada itu? Yaitu pembantaian orang-orang yang terlibat atau dituduh terlibat PKI. Jumlahnya simpang siur, tapi cukup fantastis: antara 200 ribu sampai 3 juta orang mati dibantai dengan cara dan teknik yang biadab!
Versi lain tentang kejadian 1965 ini sontak menarik perhatian publik pasca munculnya film dokumenter besutan Joshua Oppenheimer berjudul “Jagal.” Film dokumenter ini dibintangi oleh sang algojo pelaku pembantian 1965: Anwar Congo. Tempo kemudian membuat tulisan investigasi di berbagai tempat terjadinya pembataian PKI, yang sebagian besar mengambil sudut pandang dari versi pelaku pembantaian.
Tulisan investigasi yang ditampilkan di majalah Tempo itu kemudian dibukukan dengan menampilkan lebih dari 40 tulisan sejenis. Sebagian besar berisi pengakuan para algojo, baik dengan menyebutkan nama sebenarnya, atau ada juga hanya berupa inisial. Terdapat juga tulisan ulasan para peneliti, kritikus, dan tak ketinggalan wawancara dengan Joshua Oppenheimer.
Ladang pembantaian terbesar ada di wilayah Jawa Timur, kemudian menyusul Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi. Uniknya, pembantaian tak terjadi di Jawa Barat, berkat perintah tegas dari Komandan Daerah Militer VI Siliwangi, yang bereada di Jawa Barat waktu itu: Majend. Ibrahim Adjie.
Yang mengkhawatirkan, peristiwa pembantian PKI di Jawa Timur ternyata dimotori oleh Banser NU. Berita tentang hal ini tentu membuat pengurus besar organisasi Islam terbesar di Indonesia ini gerah, meskipun jauh hari sebelumnya, Gus Dur, selaku presiden dan mantan ketua PBNU pernah menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh korban tragedi PKI. Alhasil, pimpinan redaksi Tempo diundang ke kantor PBNU di jalan Kramat Raya, Jakarta, untuk mendiskusikan masalah tersebut. Pertanyaan mendasar yang diajukan adalah mengenai apa latar belakang Tempo mengangkat laporan investigasi ini. Apakah agenda tersembunyi di balik semua itu?
Fakta sejarah dari versi yang berbeda ini sangat penting untuk diketahui oleh siapapun, terutama generasi muda yang dapat dipastikan tak mengetahui versi yang berbeda ini. Dalam penggalan tulisan Ariel Heryanto, yang juga ditampilkan dalam buku ini mengatakan: “Banyak orang mengkampanyekan slogan “menolak lupa” terhadap kejahatan 1965. Memang telah terjadi amnesia sejarah dalam lingkup bangsa-negara Indonesia. Tapi, bagi sebagian besar anggota masayarakat, khusunya generasi muda, yang perlu dilawan adalah ketidaktahuan. Bukan Lupa. Bagaimana bisa lupa jika tidak tahu sejarah sama sekali?”
Review oleh Hartno Rakiman, pendiri dan pengasuh Rumah Baca

0 Responses to “Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: