Architectour Semarang: Tugas hidup Antin Sambodo

Tuhan itu Maha Adil. Ada orang yang dilahirkan untuk menjadi pengusaha, ada juga yang menjadi penguasa. Ada tukang becak, loper koran, guru, penulis, dan juga arsitek. Itulah tugas hidup yang harus ditunaikan secara ikhlas oleh masing-masing orang yang dilahirkan dan menggenggam nasib seperti itu. Filosofi tentang manusia dan tugas hidup ini saya peroleh dari seorang seniman dari Jogja yang sudah merasa cukup hanya menjadi seorang seniman. Pertanyaan mendasar yang sering kita tanyakan adalah: apakah dengan menjadi seniman hidupmu akan berkecukupan, terutama untuk biaya pangan, sandang, dan papan? Pertanyaan itu juga sempat saya tanyakan kepada teman seniman itu, jawabnya, “ya kalau mau cukup secara materi mendingan jual bensin aja di pinggir jalan, atau jual pulsa!” Baginya, menjadi seniman adalah tugas hidup yang harus dia tunaikan. Dia merasa bahagia, sebahagia-bahagianya bila mampu membuat dunia menjadi indah dengan membuat karya seni.

Hingga saya bertemu dengan seorang perempuan bernama Antin Sembodo. Saya kemudian menduga-duga tugas hidupnya barangkali juga untuk sebuah karya seni. Selepas kuliah dari arsitektur Universitas Trisakti, sempat bekerja sebagai konsultan arsitek. Kini menggeluti proyek seni lewat “Jinjit Pottery.” Terakhir saya juga lihat dia sibuk dengan komunitas “Rajut Kejut” yang suka membuat masyarakat terkejut-kejut dengan karya outdoor membungkus pohon-pohon di tepi jalan dengan ornamen rajut. Dan terkahir menghebohkan car free day Jakarta dengan membentangkan bentangan rajut ukuran raksasa untuk menggelorakan cinta pada valentine day.

Tugas hidup Antin Sambodo yang ingin dia tunaikan dan mungkin ingin dia jadikan legacy pada anak cucunya kelak adalah dengan menulis buku bertajuk “architectour” Semarang. Saya ikut mendoakan semoga tag line “architectour” tak berhenti sampai di sini. Maka akan kita tunggu “architectour” dari kota-kota lain di Indonesia.

Cover buku Architectour Semarang (Imajinesia: 2012)

Cover buku Architectour Semarang. by Antin Sambodo  (Imajinesia: 2012)

Buku Architectour Semarang (Imajinesia: 2012) setebal 88 halaman colorful, penuh dengan foto-foto khas jepretan dari sudut mata seorang arsitek akan terasa beda dengan jepretan orang biasa. Padahal Antin Sambodo hanya berbekal kamera pocket sahaja. Buku ini mengupas perjalanan wisata di kota Semarang hanya dalam waktu 2 hari, lengkap dengan detail itinerary dalam hitungan menit dan jam. Tulisan disusun berdampingan dengan foto yang disusun apik, bagai narasi yang dibacakan oleh voice over seperti yang sering kita lihat dan dengar di acara televisi. Andai tulisan itu hanya berupa caption foto saja, maka dapat dipastikan bakal garing dan menjemukan. Maka saya menjadi ikut senyum-senyum dan merasakan sentuhan personal ketika sang penulis memasukkan karakter tokoh yang dia temui sepanjang perjalanan, seperti yang dia temui di Susteran Fransiskus, Masjid Jami Pekojan, berjumpa dengan seorang haji yang keturunan Cina di gang Lombok, atau berdialog dengan tukang foto di Klenteng Sam Poo Kong.

Siapapun yang pertama kali membaca buku ini akan segera merasakan bau khas alumni arsitek, mulai dari desain grafis peta kota Semarang, lengkap dengan penomoran dan arah perjalanan, hingga lay out foto-foto. Dari pengakuannya, Antin Sambodo harus rela mengeluarkan biaya sendiri untuk membayar desainer grafis dan lay out, di luar kontrak penerbitan buku itu sendiri. Kalkulasinya mungkin didasarkan pada selera dan tuntutan seni arsitektur yang tak dimiliki oleh penerbit.

Saya sendiri yang lahir dan besar di kota Solo, yang hanya berjarak tak lebih dari 150 KM tak begitu faham kota Semarang dengan segala keindahannya. Ternyata Kota Semarang cukup kental dengan pluralism agama. Di sana sangat mudah untuk menemukan jejak agama Kristen, Katholik, Islam, dan Konghucu. Juga soal pluralisme dalam urusan kuliner. Perjalanan ke suatu tempat memang tak bisa dilepaskan dari unsur bangunan, manusia, budaya, termasuk keragaman masakannya. Maka di sana akan ditemukan makan khas sate kambing dan gule 29, pangsit gang Lombok, Toko Oen, nasi ayam kemuning bu Sandinah, dan belanja oleh-oleh di jalan Pandanaran.

Membaca buku ini saya juga jadi belajar banyak soal istilah arsiteksur, sebutlah misalnya tentang Renaissance, Byzantine, Gothic, atau Art Deco. Dua hal yang saya ingat dengan tepat dan akurat adalah soal arsitektur Rennaisance. Arsitek ini ditandai dengan kecenderungann horisontalisme, alias melebar ke samping. Sementara itu arsitek Gothic bercirikan bentuk-bentuk runcing pada hampir semua bagian ujung atas. Dua gaya arsitektur ini mengingatkan saya pada gaya seni lukis jaman renaissance yang juga menampilkan potret wanita telanjang berbadan subur (horizontal-lebar ke samping-red). Maka dengan analogi yang sama, saya mencoba mengelompokkan gaya penampilan perempuan jaman sekarang dengan gaya Gothic yang ramping dan langsing. Anyway, saya tetap konsisten dengan gaya Rennaisance, ha….ha…..ha….

Baiklah, tugas hidup untuk menulis review buku sudah saya tunaikan, selanjutnya silahkan Anda mendapatkan dan membaca sendiri buku ini.

Review buku oleh Hartono Rakiman, Pengasuh Rumah Baca

3 Responses to “Architectour Semarang: Tugas hidup Antin Sambodo”


  1. 1 Payon Amartha Friday, March 13, 2015 at 1:01 pm

    Butuh rumah di kota semarang yang nyaman dan eksklusif? Hanya Payon Amartha Jawabannya.

    http://www.payonamartha.com

  2. 2 Juliani Tuesday, December 22, 2015 at 10:55 am

    Salam kenal
    Boleh tahu harga & ongkir unt buku ini?
    Kirim ke Semarang
    Terimakasih

  3. 3 indriyanispdindri Tuesday, December 22, 2015 at 7:47 pm

    terimakasih kak Juliani…pengiriman buku on proses ya… tunggu pemberitahuan selanjutnya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: