Lust for Life: Kisah hidup Vincent Van Gogh

“Karena itu aku membuatmu menjadi seorang pelukis sejati. Semakin kau menderita, semakin besar seharusnya rasa terima kasihmu. Itulah yang membuat seseorang menjadi pelukis kelas satu. Perut kosong lebih bagus daripada perut kenyang, Van Gogh, dan patah hati lebih baik daripada kebahagiaan. Jangan pernah lupakan itu!” (hal-249) Itu adalah jawaban Wissenbruch ketika Van Gogh mencoba meminjam uang untuk menyambung hidupnya yang kekurangan uang.

Banyak seniman kelas dunia yang terlecut menghasilkan karya-karya masterpiece ketika didera hidup yang keras. Kesenangan dan kenyamanan akan mematikan proses kreativitas.

lust-for-LIFE-small

Novel “Lust for Life” (Terjemahan, Serambi: 2012) adalah kisah hidup pelukis kelas dunia Vincent Van Gogh dengan karya-karya lukisannya termahal di dunia, tapi semasa hidupnya senantiasa didera nasib malang, kemiskinan dan kegagalan cinta. Ini adalah novel biografi karya Irving Stone yang didasarkan pada sumber utama berupa 3 jilid surat-surat Vincent Van Gogh kepada adiknya, Theo. Ini sekaligus menjadi novel menggetarkan tentang kisah persaudaraan luar biasa antara dua orang kakak beradik.
Kisah hidup Van Gogh yang muram sudah dimulai ketika cintanya ditolak oleh Ursula, ketika Van Gogh memulai karir sebagai penjaga galeri seni di Goupil, London. Gagal dari Urusula, Van Gogh mencoba mendekati Kay, sepupunya sendiri. Tentu saja mendapat tentangan yang keras dari kerabat dan Kay sendiri yang selalu mengatakan tidak untuk Van Gogh. Demikian juga dengan kisah asmaranya yang gagal bersama Christine, dan Margot.

Van Gogh memulai kecintaan pada seni lukis justru ketika dia bertugas sebagai pendeta di Borinage, Belgia. Di sini, dia justru mulai gila membuat sketsa tentang kehidupan masyarakat tambang batu bara yang miskin dan keras. Hari demi hari Van Gogh terus belajar dengan membuat sketsa dengan pensil arang. Guru lukis pertamanya justru rekannya sendiri, pendeta Pietersen. Dia lebih suka menggambar benda yang punya karakter dan nyawa, meskipun benda itu terlihat kotor dan miskin. Dan pilihan seninya itu tak layak jual untuk pasar Eropa kala itu.

Tapi kemiskinan luar biasa dan hidup tidak teratur di Borinage membuat Van Gogh jatuh sakit. Sang adik, Theo, tak tega melihat kondisi kakaknya seperti itu. Dibuatlah kesepakatan antara kakak dan adik. Van Gogh harus keluar dari Borinage dan memulai karir sebagai pelukis. Untuk menopang hidupnya, Van Gogh akan mendapat sokongan finansial dari Theo. Keduanya sepakat dengan kontrak persaudaraan sedarah, sang kakak bertugas melukis, dan sang adik bertugas menampung karya-karya sang kakak untuk dijual.

Lepas dari Borinage, Van Gogh memulai perjalanan hidupnya berpindah-pindah ke Etten, Den Hag, Nuenen, dan Paris. Di Den Haag, Van Gogh berjumpa dan perempuan jalanan, Christine yang bersedia hidup bersama Van Gogh yang miskin. Tapi siapa yang tahan hidup denga laki-laki yang lebih mementingkan belanja cat dan perlengkapan lukis daripada untuk makan sehari-hari yang serba kekurangan? Itupun karena sokongan 150 franch setiap bulan dari Theo.

Di Nuenen dan Paris, Van Gogh terus mengasah keterampilan teknik melukisnya pada para guru lukis. Dan hasilnya selalu tak memuaskan, dan dianggap masih amatir. Banyak guru lukisnya mengatakan Van Gogh tak terlahir sebagai pelukis dan menghabiskan sisa hidupnya secara sia-sia. Tak kurang kedua orang tuanya juga prihatin menyaksikan anaknya yang tak jelas masa depannya itu.

Wajah Eropa bagian utara yang dingin dan suram membuat Van Gogh ingin mencari suasana baru. Dia ingin pergi ke daerah selatan, dengan suasana langit cerah disiram matahari sepanjang hari . Daerah yang terbakar matahari pasti akan penuh warna dan bernuansa cerah. Maka, dengan sokongan Theo, mulailah Van Gogh berpetualang di Arles.

Tapi, kondisi alam di Arles yang panas, justru membuatnya menderita epilepsy dan halusinasi yang akut. Untuk memulihkan keadaan, Van Gogh dirawat di rumah sakit jiwa di St. Remy. Di rumah sakit jiwa, Van Gogh tak berhenti melukis. Pada ujung kesembuhan, Van Gogh menjalani pemulihan di Auvers.

Van Gogh meninggal di Auvers, dengan cara bunuh diri. Menembak dirinya sendiri dengan revolver, selepas menyelesaikan lukisan berjudul “Burung gagak di atas lading jagung.” Vincent Van Gogh meninggal dalam keadaan penuh kecintaan pada seni. Sepanjang hidupnya, Van Gogh telah menorehkan kecintaannya pada seni lukis, dan punya keyakinan bahwa pada suatu saat dia bisa mandiri dan tak selalu bergantung pada Theo. Senyatanya, Van Gogh tak mampu menjual lukisannya sepanjang hidupnya, kecuali satu lukisan berjudul “Ladang anggur Merah di Arles.”

Pada pidato menjelang Vincent Van Gogh diturunkan ke liang lahat, dokter Gachet berpidato “Janganlah kita berputus asa, kita yang menjadi teman-teman Vincent. Vincent tidak mati. Dia tidak akan pernah mati. Cinta, kejeniusan, dan keindahan luar biasa yang telah dia ciptakan akan hidup selamanya, memperkaya dunia. Tidak satu jam pun lewat tanpa aku melihat lukisan-lukisannya dan menemukan sebuah keyakinan baru, sebuah makna baru dari kehdoupan. Dia orang yang hebat…pelukis yang hebat…filsuf yang hebat. Dia menjadi martir karena kecintaanya pada seni.”

Pada akhir bulan ke enam, Theo pun meninggal, dikuburkan di samping kubur kakanya, di Auvers…

“Dan dalam kematian, mereka tidak terpisahkan.”

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Review buku ini aku persembahkan untuk sahabtku, Khadir Supartini yang tak lelah mencari sosok sang ayah melalui lukisan-lukisannya, juga kecintaannya pada tokoh ibu yang tangguh, Supartini.

0 Responses to “Lust for Life: Kisah hidup Vincent Van Gogh”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: