Samsara

samsaraDongeng tentang asmara dahana tak pernah habis untuk dibahas lewat sastra lisan maupun tulis. Mulai kisah asmara para dewa di khayangan, yang suka bikin gaduh mayapada hingga arcapada, hingga kisah yang ditulis para pujangga klasik, macam kisah Romeo – Juliet, karya Shakespeare. Tak kurang kisah roman percintaan jaman kuno, seperti Roro Mendut – Pranacitra dan Sam Pek – Eng Tay, hingga jaman Galih – Ratna, atau percintaan jaman millennium Cinta – Rangga pada filem Ada Apa Dengan Cinta. Dongeng tentang asmara seperti berulang, terkutuk samsara.

Novel “Samsara” (Hormonauts: 2013), merupakan debut novel indie Uwie, nama pena dari Juwita Sitanggang, yang mencoba mengadopsi cerita dewa-dewi Yunani sebagai kehidupan yang berulang lewat tubuh Keira dan Ferenc. Maka cinta bukan hanya urusan manusia,tapi juga merasuki para dewa. Dewi Venus yang jatuh cinta pada Dewa Adonis, mendapat halangan dari dewa lain yang juga menaruh hati pada Dewi Venus, yaitu Dewa Mars dan Apollo.

Urusannya menjadi panjang dan tak berkesudahan hingga sampai pada jaman sekarang, ketika kisah asmara khayangan dewi-dewi itu oleh Uwie diramu dengan semi action, di mana Dewi Venus menjelma ke dalam tubuh Keira, dan Dewa Adonis sebagai Ferenc. Ada adegan kejar-kejaran di Italia.

Setting lokasi Italia menjadi unik, karena Uwie sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana. Kejadian ini mengingatkan kita tentang Karl May yang menulis “Winetou” dan “Old Shatterhand” dengan landskap Amerika, padahal dia sama sekali belum pernah ke sana. Dalam dunia sastra fiksi, ini sah-sah saja. Apalagi, pada jaman digital saat ini, kita bisa dengan mudah melakukan googling map, dan mendapatkan gambaran liku-liku sebuah kota secara jelas. Setting Italia mungkin oleh Uwie dipilih karena merasa nyaman dengan bahasa yang sedang dia pelajari di sebuah tempat kursus bahasa Italia. Atau barangkali Uwie tertarik dengan kaum prianya yang terkenal seksi dan macho! (Kesimpulan terakhir ini pernah dia sanggah sendiri ketika berdiskusi soal bukunya di temu travel book lover di café “Suwe Ora Jamu” di daerah Kebayoran).

Novel ini bisa jadi sebagai cara katarsis bagi Uwie yang menjadi single parent untuk Aurelle, buah hatinya yang memberi alasan kuat bagi dirinya untuk terus move on. Menulis, memang salah satu cara paling ampuh untuk mengekspresikan segala rasa, termasuk gundah gulana, marah, jengkel, atau frustasi. Cara lain bisa dilakukan dengan melukis, berkebun, meditasi atau yoga.

Novel ini ditulis dengan teknik penulisan berlapis. Pada bagian pertama, pembaca dibawa pada setting negeri para dewa, kemudian dibawa pada situasi perang di sebuah Negara di Eropa. Tokoh-tokoh yang muncul memiliki kehidupan berulang, seperti samsara, hingga pada tokoh sentral Keira, yang tak lain jelmaan Dewi Venus, yang masih mendambakan cinta Adonis lewat sosok Ferenc.

Teknik berlapis ini juga Uwie terapkan pada gaya bertutur, di mana sang tokoh kadang sebagai orang pertama (kata ganti aku), dan menjadi orang ketiga (kata ganti dia dan Keira). Pergantian antara penutur sebagai orang pertama dengan orang ketiga ditandai dengan tanda bintang tiga (***). Jika tidak hati-hati, pergantian ini bisa membingungkan pembaca, atau bahkan bisa kepleset dan tertukar.

Sedikit catatan untuk novel indie ini adalah pada kualitas cetak pada cover yang kurang tajam, pemilihan font yang cenderung kebesaran, dan salah cetak pada beberapa bagian. Bahkan ada beberapa halaman yang kebalik.
Pilihan judul “Samsara” menurut saya juga membutuhkan keberanian, kalau tak boleh dibilang sebuah kenekadan. Judul yang sama pernah ditulis oleh penulis-penulis yang sudah mapan, sebutlah misalnya Zara Zettira ZR yang juga menulis novel dengan judul yang sama. Belum lagi beberapa novel terbitan dari luar negeri dengan judul “Samsara.” Pemilihan judul generic ini mengandung resiko. Maka pembaca akan segera membandingkan dengan judul serupa dari penulis-penulis sebelumnya. Lalu mengajukan pertanyan: apa keunikan buku yang ditulis Uwie ini? Apa yang membedakan dari buku sebelumnya?

Sebagai novel indie, upaya Uwie patut diapresiasi. Memulai itu lebih penting, daripada hanya berhenti pada sebatas ide. Dengan memulai menulis, artinya akan muncul tulisan berikutnya. Akan muncul buku berikutnya yang pasti akan lebih baik dari sebelumnya, dan tak lagi terkutuk samsara.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

1 Response to “Samsara”


  1. 1 uwie Sunday, March 29, 2015 at 4:51 pm

    Terimakasih Mas Hartono sudah mereview karya saya. Sungguh merupakan sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya.
    Salam,
    Uwie


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: