Om Anthony Giddens dan Penanggulangan Penyakit Tuberculosis

0745600077constsoc.inddPada suatu sore di hari minggu tanggal 6 November 2015 Jakarta Utara dan sekitarnya disiram air hujan yang begitu deras disertai angin yang cukup kencang. Hujan berlangsung cukup lama hampir 3 jam. Tentu saja hujan tersebut membuat panik warga Jakarta yang tinggal di daerah pinggiran dan padat penduduk seperti saya. Air mulai masuk ke dalam rumah, itu artinya kami harus segera menyelamatkan barang-barang yang ada di lantai bawah. Bagi saya barang-barang yang harus diselamatkan adalah buku-buku yang kebetulan beberapa berada di rak bawah. Ya, buku adalah koleksi berharga yang harus segera dievakuasi terlebih dahulu. Adapun barang-barang yang lain rasanya tak perlu diselamatkan karena saya yakin air akan kembali surut ketika hujan berhenti.

Setelah hujan surut, perhatian saya tertuju pada setumpuk buku yang saya selamatkan dari basahnya genangan air hujan. Jumlahnya sekitar 13 Buku hasil pemikiran satu tokoh yang cukup ternama, yaitu Anthony Giddens. The Constitution of Society, Capitalism and Modern Social Theory, The Consequences of Modernity, dan beberapa judul lainnya adalah karya-karya tokoh yang berasal dari inggis tersebut yang cukup membuat aku jatuh hati padanya.

Perkenalan dengan pemikiran Anthony Giddens, berawal dari seorang senior dan mentor saya di Jakarta yang sedang melakukan riset tentang Pemilukada di Indonesia yang membutuhkan asisten penelitian dan beliau memintaku mencarikan teman yang dari jurusan sosiologi untuk membantu membuatkan resume terhadap buku-buku Anthony Giddens. Saya langsung merekomendasikan Azzam, senior saya yang memang dari jurusan sosiologi dan waktu itu sedang studi S2 di Center for Religion and Cross-Culture Studies di UGM. Awalnya setelah perkenalan dan diskusi pertama di apartemen mentor saya itu di Kalibata city, beliau merasa cocok dengan Azzam. Namun setelah beberapa minggu,karena terkendala jarak, akhirnya Azzam mengundurkan diri. Dan karena merasa tidak enak, saya menawarkan diri untuk menggantikan Azzam. Singkatnya, sayalah yang harus membaca setumpuk buku-buku Giddens.

Gagasan besar Giddens menurut pembacaan saya terletak pada upaya Giddens untuk mendamaikan pergolakan pemikiran ilmuan sosial modern yang menurutnya terlalu deterministic dalam menjawab persoalan sosial. Giddens berpendapat bahwa Obyek utama dari ilmu sosial bukanlah peran sosial (social role) seperti dalam Fungsionalisme Talcot Parsons, bukan kode tersembunyi (hidden code) seperti dalam Strukturalisme Claude Levi Strauss, bukan juga dari keunikan situasional seperti dalam Interaksionisme Simbolis Erving Goffman. Bukan keseluruhan, bukan bagian, bukan struktur bukan pula pelaku perorangan, melainkan titik temu antara keduanya. Oleh karena itulah teori strukturasi merupakan “jalan tengah” untuk mengakomodasi dominasi struktur atau kekuatan sosial dengan pelaku tindakan (agen).

Sederhanyanya saya ilustrasikan begini, ketika membaca fenomena sosial yang terjadi di lingkungan kita, sebagian orang sering berpendapat “oh, ini sistemnya yang keliru”, sedangkan yang lain berpendapat “tidak, sistemnya sudah bagus, orang-orang yang menjalankan sistem tersebut yang keliru”. Bagi Giddens jawaban tersebut terjabak pada dualisme yang terlalu deterministik. Jawaban pertama menurutnya berarti menitikberatkan sistem (stuktur) dari pada individu (Giddens menggunakan kata “Agen”), sedangkan jawaban kedua sebaliknya, mengutamakan Agen daripada struktur.

Untuk mengkritik pendapat-pendapat tersebut, Giddens mengembangkan teori Strukturasi. Teori strukturasi merupakan jalan tengah yang menjembatani perdebatan panjang dua mazhab besar ilmu sosial yaitu antara paradigma tindakan sosial yang menekankan pada subyek-aktor-agen seperti pada interaksionisme simbolis, etnometodologi, dan penganut Weberian dengan pandangan strukturalis yang memusatkan perhatian pada struktur seperti dalam paradigma strukturalisme fungsional dan teori sistem penganut Durkhemian dan Parsonian. Untuk yang pertama, mereka beranggapan bahwa subjektivitas adalah pusat pengalaman kebudayaan dan sejarah, sehingga tindakan dan makna mendapatkan posisi utama dalam penjelasan perilaku manusia, sehingga mengabaikan struktur sosial. Sedangkan yang kedua, mereka justru menekankan konsep struktural lebih mendapat posisi utama daripada tindakan.

Jika dua kutub pemikiran ilmu sosial memposisikan Agen dan struktur dalam posisi yang dualisme dan kontradiktif, teori strukturasi menggambarkan hubungan dialektis antara struktur dengan agen. Struktur dan agen adalah dualitas; tak ada satupun yang bisa eksis tanpa keberadaan yang lain. Berbeda dengan Durkheimian tentang struktur yang lebih bersifat mengekang-memaksa (contsraining), struktur dalam gagasan Giddens juga bersifat memberdayakan (enabling). Luar biasa bukan?

Setelah membaca ulang Giddens, saya mendapat jawaban atas dua strategi utama yang dirumuskan dalam penanggulangan penyakit tuberculosis pada program Community Empowerment of People Against Tuberculosis yang dilakukan oleh Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama yaitu Mobilisasi dan Advokasi. Dulu saya bertanya-tanya, kenapa harus dua strategi itu yang harus dilakukan dalam memberantas penyakit tuberculosis. Kenapa kita tidak fokus pada strategi yang pertama saja? Kita cukup memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, melatih tokoh agama dan tokoh masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk berobat ke puskesmas. Atau kita cukup melakukan advokasi saja dengan mendorong peningkatan pelayanan puskesmas, mengawal kebijakan pemerintah dan mendorong pemerintah daerah mengeluarkan perda atau semacamnya.

Kalau saja om Giddens dengar pertanyaan tersebut, tentu saja dia akan langsung menegur saya “ente keliru bro, kedua komponen tersebut harus berjalan beriringan dan tak bisa dipisah-pisahkan”. Mungkin om Giddens juga akan berkata “sampaikan salam takjub ane ama orang-orang yang merumuskan strategi penanggulangan penyakit TB CEPAT-LKNU ya”.

Saya tidak tahu apakah yang merumuskan strategi tersebut pernah membaca Giddens atau belum. Tetapi ketika saya yang memang terlibat dalam program tersebut, merasa corak pemikiran Giddens begitu terasa. Bagaimana tidak,Perubahan sosial bagi Giddens bisa terjadi jika para agen mampu melakukan reflective monitoring of action sehingga mereka mampu keluar dari rutinitas dan melakukan de-routinisation. Dalam program CEPAT, misalnya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi masyarakat yang biasanya diterima oleh pasien TB adalah dengan membekali pengetahuan yang cukup kepada para agen (kader, tokoh agama dan masyarakat) sehingga mereka melakukan derutinisasi terhadap stigma dan diskriminasi yang biasanya berasal dari norma dan kepercayaan yang berlaku di masyarakat. Dan banyak lagi kemiripan gagasan dalam strategi-strategi yang dijalankan oleh CEPAT-LKNU dengan apa yang rumuskan oleh Giddens.

Walhasil, saya telah berhasil menemukan rangkaian benang merah antara apa yang pernah saya lakukan di masa lampau dengan apa yang sedang saya lakukan di masa kini. Kini saya tersenyum optimis menyambut hari esok dengan penuh semangat. Semoga di hari esok Indonesia bisa terbebas dari penyakit Tuberculosis dan kita adalah pelaku sejarah yang mungkin tak akan tertulis dalam buku sejarah.

Review buku oleh Agus Herlambang, Koordinator Kota CEPAT-LKNU Jakarta Utara.

0 Responses to “Om Anthony Giddens dan Penanggulangan Penyakit Tuberculosis”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: