Max Havelaar

B6FlsvECQAAvIn1.jpg largeMax Havelaar (Narasi: 2015) adalah novel klasik yang sudah lama saya buru. Perjumpaan saya dengan buku ini terjadi tanpa sengaja. Itupun terjadi, setelah saya terbangun dari tidur siang di sebuah mal kecil di Kota Solo. Saya menemukan buku itu teronggok pada deretan rak buku. Dan itupun tinggal satu-satunya buku yang tersisa, dengan kondisi sampul plastik yang sudah terkoyak.

Sebelum membaca novel  ini, saya mencoba browsing di internet tentang sosok novel  Max Havelaar ini. Ternyata sudah ada beberapa penerbit Indonesia yang memegang hak terjemahan novel  ini, termasuk hasil terjemahan paling baik oleh HB Yassin. Novel  Yang ada pada tangan saya ini terbitan Narasi, cetak ulang ketiga tahun 2015.

Dari berbagai komentar yang pernah saya baca untuk resensi novel ini, terbitan Narsi termasuk yang kurang bagus terjemahannya. Tapi tak apalah, saya tetap mencoba mengunyah apa adanya, tanpa pretensi apa-apa. Nyatanya memang agak kesulitan mencerna tulisan novel Max Havelaar versi Bahasa Indonesia ini. Rupanya, ini adalah hasil terjemahan dari versi Bahasa Inggris, dan bukan terjemahan dari versi Bahasa Belanda asli. Padahal, kita punya banyak penterjemah Bahasa Belanda yang ahli di bidangnya.

Saya mengenal nama Max Havelaar sejak jaman SD dulu, berkat nama seorang tokoh pergerakan nasional  bernama  dr. Eduard Dowes Dekker, pendiri Boedi Otomo.

Max Havelaar adalah nama tokoh yang disematkan untuk seorang Asiten Residen di Lebak pada jaman pendudukan Belanda. Max Havelaar itu  tak lain dan tak bukan adalah sosok Douwes  Dekker itu sendiri, yang kemudian menggunakan nama samaran sebagai Multatuli.

Douwes Dekker memang pernah menjabat sebagai seorang Asisten Residen di Lebak. Tokoh Belanda yang satu in bisa dikatakan sebagai antitesa dari tokoh Belanda yang selama ini kita kenal sebagai sosok penjajah nan pongah.

Cara bertutur Multatuli untuk tokoh Max Havelaar agak sedikit memutar. Kisah dibuka dengan penggambaran tokoh Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi Amsterdam yang bekerja di Last & Co. Sebagai seorang makelar kopi yang hampir setiap hari berkutat dengan urusan laba dan uang, Drogstoppel tak suka puisi atau syair. Baginya, keduanya tak lebih dari kebohongan dan omong kosong belaka. Baginya, logika untung rugi , bisnis, dan hukum adalah sesuatu yang jelas dan pasti.

Menurut saya, penggambaran tokoh Drogstoppel adalah premis untuk meneguhkan mengapa kemudian buku ini lahir. Buku ini lahir sebagai sebuah kebenaran, bukan omong kosong belaka. Sebuah kebenaran yang harus dikabarkan, meskipun itu pahit adanya. Sebagaimana dalam keyakinan Multatuli, bahwa apa yang ditulisnya di sebuah losmen di Belgia itu, suatu hari akan dibaca orang. Dan keyakinannya itu kini menjadi kenyataan.

Karakter Drogstoppel ini seolah mencibir tentang moral yang tak pernah mendapat imbalan yang nyata di dunia. Baginya, moral adalah kecintaan pada kebenaran itu sendiri, dan kemudian kesetiaan pada takdir. Maka, praktis sejak Bab 1 hingga Bab 4, novel ini menceritakan Drogstoppel sebagai makelar kopi, yang kemudian berjumpa dengan sahabat lamanya, yang disebut sebagai lelaki berselendang. Lelaki itu kemudian minta bantuan kepada Drogstoppel untuk menerbitkan naskah tulisannya tentang Lebak.  Padahal sejak awal sudah dibuka dengan penegasan bahwa Drogstoppel tidak suka sastra, yang dia anggap sebagai omong kosong!

Tapi membaca kisah yang ditulis oleh sahabat lamanya itu, Drogstoppel berubah pikiran. Tulisan-tulisan tentang Lebak membuka matanya tentang sesuatu yang harus dikabarkan kepada dunia. Meskipun kemudian dia menyadari bahwa tulisan itu bisa jadi akan membuka kebusukan bangsanya sendiri di atas tanah jajahannya di Hindia Belanda.

Mulai Bab 5, novel ini  mulai menceritakan perjalanan tokoh Max Havelaar di Lebak. Sebagai sebuah novel  yang mencoba memotret sejarah pendudukan Belanda, maka di tengah-tengah kisah Max Havelaar, Multatuli juga menggambarkan kondisi sosio- geografis dan struktur pemerintahan pada masa itu.

Digambarkan bagaimana struktur pemerintahan jaman Hindia Belanda waktu itu  mengerucut dikepalai oleh seorang Gubernur Jenderal, kemudian di bawahnya dibantu Residen, Asisten Residen, Regen, dan  Bupati. Struktur pemerintahan itu kemudian dibandingkan dengan struktur pemerintahan di Eropa seperti kedudukan Count, Duke, dan Baron.

Menurut Multatuli, sudah terlihat pola hubungan yang aneh di sini, antara penjajah dan peribumi. Hubungan  keduanya diibaratkan sebagai hubungan kakak dan adik. Kakak yang penjajah, dan adik yang pribumi. Maka sebagai adik, wajib menghormati sang kakak.

Keberpihakan Max Havelaar pada rakyat jelata sudah mulai terlihat dari pidato pertamanya ketika pertama kali Max Havelaar menjabat Asisten Resisen di Lebak, juga pola relasi yang dia bangun dengan bawahan di sekitarnya.

Kemudian cerita mengalir, memotret carut-marut tata kelola pemerintahan Hindia Belanda  yang bekerja sama dengan para penguasa pribumi, yang ternyata justru tampil lebih kejam dibandingan para penjajah Belanda.

Para penguasa pribumi ini, yang menganggap dirinya golongan priyayi, tak sudi hidup susah. Maka dengan kekuasaan yang ada ditangannya, sebagai antek Belanda, mereka dengan sewenang-wenang memeras rakyat.

Multatuli kemudian menyisipkan kisah roman percintaan Saidah dan Adinda dalam buku ini, untuk menggambarkan betapa rakyat kecil sangat menderita karena ulah penguasa pribumi yang dengan sewenang-wenang  menarik pajak, mengambil kerbau yang menjadi andalan petani untuk bekerja di sawah. Maka kisah Saijah dan Adinda yang berbalut asmara, harus berakhir dengan kisah tragis.

Kisah tragis itu juga menimpa Multatuli sendiri, yang harus terkucil oleh bangsanya sendiri karena dianggap mencoreng muka dan martabat bangsa Belanda di dunia melalui tulisan-tulisannya di novel Max Havelaar ini. Tapi itulah kenyataan sejarah yang harus dia tulis, sepahit apapun itu.

Ini juga yang menjadi sebuah  kenyataan sejarah yang menyebutkan bahwa Belanda kemudian sanggup bercokol di Indonesia lebih dari 350 tahun, karena sebagian besar disokong oleh sikap penjilat dan penghisap dari penguasa pribumi itu sendiri.

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar yang dimiliki Indonesia, tak ketinggalan ikut menorehkan kritik  tentang Lebak ini, melalui bukunya “Sekali Peristiwa di Banten Selatan.”

Terlepas dari mutu terjamahan yang kurang nyaman untuk dibaca, buku Max Havelaar pantas untuk dibaca dan dimengerti oleh anak bangsa di Indonesia. Sebagaimana keyakinan Multatuli, “Ya, aku bakal dibaca.”

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

0 Responses to “Max Havelaar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: