Hujan Bulan Juni

hujan bulan juni

Cover novel “Hujan Bulan Juni” (Gramedia: cetakan ke-7, Februari 2o16), karya Sapardi Djoko Damono

“Mboten lucu nggih mas,” kata tukang becak, yang membicarakan soal bulan Juni tapi hujan tetap turun, ketika Sarwono menyewa becak yang membawanya ke kios majalah Malioboro untuk membeli koran yang memuat tiga puisinya.

Tulisannya memang renyah, mengalir, namun tetap bertenaga. Menyambar persoalan hakiki cinta anak manusia yang gampang-gampang susah untuk dinyatakan dan mendapatkan jawaban. Novel ini juga secara mendalam menguliti budaya Jawa, Manado dan Jepang, melalui tokoh-tokohnya.

Sejak awal tulisan, kita akan dengan mudah terbawa dugaan bahwa tokoh Sarwono, seorang antropolog yang sering mendapat tugas meneliti berbagai persoalan sosial, mulai dari Kali Code, Ambon, hingga Papua, tak lain dan tak bukan adalah Sapardi Djoko Damono sendiri. Penggambaran sosok Sarwono yang kerempeng, punya penyakit paru-paru basah, dan malang melintang di kampus UI maupun UGM, akan membuat pembaca mudah mendakwa, itu adalah sosok Sapardi sendiri. Sapardi saat ini berprofesi sebagai guru besar pensiun di UI, dan guru besar tetap pada program pasca sarjana di IKJ, Undip, Unpad, dan ISI Solo.

Tulisannya mengalir deras, bak untaian prosa dan puisi, menyentil dan menyodok sosok penyair yang begitu puas dan bahagia menjumpai tulisannya sendiri dimuat di koran. Baginya, tulisan di media masa adalah medium komunikasi, seperti shaman, sang dukun, atau clairvoyant! Tiga puisi yang dimuat pada koran lokal adalah sebentuk curahan perasaan terdalam dirinya pada sosok perempuan yang saat itu sedang berada di Jepang. Perempuan  itu adalah Pingkan, gadis beribu Jawa, dan berayah Manado.

Sapardi dengan tangkas mengulik hubungan kedua anak manusia dewasa, yang ternyata tak mudah untuk berterus terang soal cinta. Sarwono, yang Jawa, dan Pingkan yang setengah Jawa-Manado, menyimpan potensi gagal membangun keluarga karena soal beda agama dan budaya.

Akankah Pingkan menemukan Matindas, dalam sosok Sarwono, lelaki dalam dongeng Manado? Apakah tiga puisi yang tercetak di koran Swara Keyakinan itu mampu terkirim dan terbaca Pingkan yang sedang berada di Jepang? Apakah sang waktu sanggup menjawab keresahan hati Sarwono, sebelum penyakit paru-paru basah mencekik napasnya?

/i/

bayang-bayang hanya berhak setia

menyusur partitur ganjil

suaranya angin tumbang

 

agar bisa berpisah

tubuh ke tanah

jiwa ke angkasa

bayang-bayang ke serbamula

 

suaramu lorong kosong

sepanjang kenanganku

sepi itu, mata air itu

 

diammu ruang lapang

seluas angan-anganku

luka itu, muara itu

 

/ii/

 

di jantungku

sayup terdengar

debarmu hening

 

di langit-langit

tempurung kepalaku

terbit silau

cahayamu

 

dalam intiku

kau terbenam

 

/iii/

 

kita tak akan pernah bertemu:

aku dalam dirimu

 

tiadakah pilihan

kecuali di situ?

 

kau terpencil dalam diriku

 

Yang terhanyut, Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

1 Response to “Hujan Bulan Juni”


  1. 1 Ariesusduabelas2 Monday, May 23, 2016 at 12:43 pm

    😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: