Cerita dari Digul

digul

Cover “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016)

Lamat-lamat benar aku dengar soal Digul. Dulu. Dulu sekali, sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Itupun tak sungguh jelas amat. Gurukku sempat bercerita, dahulu Bung Hatta pernah dibuang ke Digul pada jaman revolusi melawan penjajah Belanda. Tak jelas benar, apakah Soekarno juga pernah dibuang ke sana. Bolehlah berkabar di sini, bagi yang tahu riwayat Soekarno di pembuangan Digul.

Selepas urusan sejarah itu, aku tak lengkap mengerti tentang Digul. Baru kemudian aku baca sedikit tentang ekspedisi zamrud katulistiwa dalam buku Meraba Indonesia, yang ditulis oleh Ahmad Yunus, dan Farid Gaban. Itupun belum timbul minat untuk mengerti tentang Digul.

Baru nyata penghayatanku tentang Digul, manakala terbaca kumpulan “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016), yang ditulis oleh para eks-digulis, dan disunting oleh Pramoedya Ananta Toer. Ada lima tulisan yang berhasil dihimpun dan disunting oleh Bung Pram. Kelima penulis itu ialah: D.E. Manu Turoe, Oe Bo Tik, Abdoe’lXarim M.S, Wiranta, dan satu penulis Tanpa Nama.

Kelima penulis ini menggunakan Bahasa melayu, dengan gaya Bahasa tempo doeloe yang semakin menambah-nambah kesan kuat tentang peristiwa di masa lalu. Satu penulis terakhir, Tanpa Nama, terlihat berasal dari suku Jawa, dan berupaya untuk dapat menggunakan Bahasa Melayu dengan baik, meskipun di sana-sini dia mencoba menyelipkan istilah Jawa. Barangkali maksudnya agar para pembaca Jawa yang belum mengerti Bahasa Melayu mengerti maksudnya.

Secara garis beras, kelima penulis itu melukiskan tentang neraka Digul, yang membuat mereka kemudian memutuskan untuk lari dari sana, meskipun rintangan dan bahaya mengancam di depan mata: nyamuk malaria, lintah, binatang buas, sungai yang lebar dan dalam, rawa-rawa, hutan belantara, dan orang hutan yang disebut Kayakaya yang masih suka makan orang!

Sebagian besar penulis mengisahkan pelarian dari Digul dengan menambahkan roman, soal kekecewaan mereka atas perempuan yang tak lagi setia dengan penderitaan mereka di tanah pembuangan. Kisah Rustam Digulist (D.E. Manu Turoe), mengisahkan kekecewaan tokoh Rustam yang kecewa dengan pacarnya, Cindai, yang pada awalnya mau untuk dipersunting setelah Rustam kembali dari Digul, nyatanya Cindai mengatakan tidak untuk Rustam yang eks-Digulis.

Kisah “Pandu Anak Buangan (Abdoe’lXarim M.s), juga mengisahkan kekecawaan tokoh Pandu karena telah dipisahkan oleh mertuanya dari istrinya. Kemudian Bung Pandu kita memadu kasih dengan Zus Emi, yang sama-sama aktf di pergerakan. Tapi ketika Bung Pandu dijerat dengan pasal pemberontakan dan dibuang ke Digul, nyatanya Zus Emi tak mau ikut serta dan memilih pergi ke Betawi dan mengikat janji dengan orang lain.

Lain lagi perkara asmara dalam cerita “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” (Wiranta), yang mengisahkan pelarian Sujito dan Kemlin dari Digul menuju Nieuw-Guinea. Sujito ingin segera pergi saja dari Digul selepas mendapat surat dari istrinya, Rusmini, yang pada awalnya ikut Sujito di pembuangan, tapi kemudian pulang bersama anaknya. Sekian tahun kemudian, Rusmini memilih jalan hidup untuk menikah lagi dengan lelaki lain. Pilihan ini membuat hati Sujito hancur berkeping-keping. Maka pelarian dari Digul sebenarnya menjadi ajang bagi Sujito untuk mati saja dimakan neraka Digul.

Begitulah. Cerita dari Digul semakin menambah keyakinan, betapa manusia bisa dibuat tercerai-berai, tercerabut dari akar, hidup sengsara dan menderita karena berbagai perkara: ideologi, perang dan asmara. Mereka, para eks-Digulis, bisa jadi hidup pada waktu dan tempat yang salah. Mereka salah, karena memegang teguh ideologi komunis, di tengah-tengah kuasa penjajah yang kapitalis dan eksploitatif. Mereka salah telah memilih istri yang tidak setia. Tapi menurut saya, mereka telah benar ketika memutuskan untuk lari saja, minggat dari Digul. Karena itulah satu-satunya bukti bahwa hanya mereka sendirilah yang punya kuasa untuk menentukan kebebasan yang senyata-nyatanya.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

1 Response to “Cerita dari Digul”


  1. 1 Apose Thursday, May 12, 2016 at 10:23 am

    Terima kasih Mas…. Jadi semangat baca buku lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: