Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online

ustadz-seleb-bisnis-moral-fatwa-online

Cover buku “Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online (Komunitas Bambu: 2012)

Buku yang bermuatan analisis tajam soal perubahan perilaku suatu masyarakat, hanya menangguk sedikit pembaca. Padahal, sebagian besar pembaca Indonesia, yang mayoritas muslim, adalah “korban” dari sebuah perubahan yang bernama komodifikasi Islam itu.

Buku “Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online” (Komunitas Bambu: 2012) merupakan terjemahan dari sebuah proyek Indonesia yang dikerjakan oleh Greg Fealy dan Sally White, dengan judul “Expressing Islam: religious life and politics in Indonesia” (Singapore: ISEAS Publishing Institute of Southeast Asian Studies, 2008).

Buku ini secara tajam merangkum berbagai aspek perubahan itu, dari berbagai perspektif: ekspresi kesalehan pribadi; ekspresi politik, sosial, dan hukum; ekspresi ekonomi. Tulisan dirangkum dari berbagai analisa oleh para pakar luar negeri dan Indonesia, seperti M.C. Ricklef, Maria Ulfah Anshor, Umar Juoro, hingga Muhammad Syafii Antonio.  Tapi sebagai sebuah analisa, buku ini tak bermaksud memberikan penghakiman secara membabi buta bahwa proses perubahan komodifikasi Islam sebagai sebuah kemunduran Islam. Alih-alih, justru memberikan ruang kepada pembaca untuk mengamati apa sebenarnya yang telah terjadi. Apakah yang dilakukan selama ini benar-benar telah sesuai tuntunan Islam, atau jangan-jangan hanya terseret dalam euphoria Islam yang salah?

Ada begitu banyak peristiwa yang berserak, yang menggambarkan betapa perubahan ke arah komodifikasi Islam itu dimulai sejak tumbuhnya perekonomian di Indonesia di bawah rejim Orde Baru.  Mulailah tumbuh kelas menengah atas, terpelajar, dan tinggal di perkotaan. Pertumbuhan kelompok OKB (orang Kaya Baru) ini mulai tampak pasca 1990-an.  Pertumbuhan itu tergambar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari  munculnya penerbitan yang berbau Islam, seperti majalah Sabili, Hidayah, hingga harian Republika. Muncul pula agen-agen perjalanan wisata spiritual, ziarah walisongo, paket umrah ke tanah suci bersama selebriti terkenal. Pasar komoditas juga  merambah dari obat-obat herbal, bekam, rukyah, multi-level marketing, fashion muslim, perbankan syariah, dan tentu saja label halal.

Munculnya ustadz-ustadz seleb yang tampil di televisi, dengan pengetahuan Bahasa Arab dan hukum Islam yang minim, tak membuat orang mundur, bahkan berbondong-bondong mendatangi majlis taklim yang mereka dirikan. Fenoma the holly man from Indonesia, AA Gym, turut meramaikan perubahan ini. Ustadz kondang Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Uje, dll adalah sederet nama yang mereka kenal dan elu-elukan. Sebagian besar “para pengikut” mereka adalah sekelompok muslim perkotaan yang merasa menemukan perwakilan dari keseharian mereka sendiri, dengan cara yang mudah dan moderat. Ustadz Uje yang mantan pemakai narkoba dan bintang film, segera menemukan banyak pengikut, bahwa masa lalu yang gelap bisa menemukan pertobatan di masa kini. Ustadz Yusuf Mansur, yang masa lalunya pernah bangkrut secara ekonomi sanggup bangkit kembali dengan menemukan rahasia berderma, melalui jargon “kun fayakuun.”

Benarkah ini pertanda bahwa masyarakat Indonesia telah menjadi muslim yang sebenar-benarnya? Ahmad Syafii Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, dengan miris mengatakan, “Sebagian dari popularitas Islam saat ini bersifat luar daripada dalam, dan kalangan Muslim yang baru itu lebih peduli untuk kelihatan Islam daripada menjadi Islam.”

Naik turunnya tingkat keimanan sesorang, tak bisa dilihat dari besar kecilnya perhatian mereka pada sesuatu  yang berbau Islam. Pangsa pasar bank syariah di Indonesia, ternyata hanya meraup 2% dari total nasabah. Berbeda dengan Malaysia yang mencapai 20%. Jumlah pembaca majalah Hidayah untuk setiap kali terbitannya, ditunggu sekitar 2,1 juta pembaca Indonesia. Sementara harian Republika hanya dibaca 230 ribu pembaca saja. Berbeda dengan harian Kompas, yang hampir menguasai pangsa pasar pembaca harian di Indonesia.

Menarik pula untuk mendapat gambaran, apakah perubahan ini mampu menyeret seseorang lebih moderat, toleran, atau justru mendorong seseorang menjadi radikal?

Buku ini juga menganalisa dari ekspresi politik, sosial, dan hukum, sekaligus ekspresi ekonomi. Dari sisi politik, ternyata jumlah suara yang mengalir untuk partai-partai yang berbasis Islam, apabila semuanya digabungkan (PKB, PKS, PPP, Bulan Bintang) tak lebih dari 30% saja, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam.

Pada akhirnya, dengan luas dan kompleksnya permasalahan Islam di Indonesia membuat analisa yang rapi dan komprehensif menjadi hampir mustahil dilakukan. Maka, kita akan bisa keliru menyimpulkan sesuatu apabila hanya memperhatikan satu bagian tertentu dan tak melihatnya secara menyeluruh.

Akhirnya, buku ini tetap wajib untuk dibaca oleh pembaca muslim yang tak mau menjadi “korban” dari komodifikasi Islam, atau pembaca umum yang ingin mengetahui perkembangan yang terjadi saat ini. Sebagai sebuah proses perkembangan, maka bisa saja arah perubahan itu bisa jauh berbeda dengan apa yang terjadi sekarang ini.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

0 Responses to “Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: